Minggu, 11 Oktober 2009

Surga


Pantaskah Surga Buatku

Wow…Kereen donk kalau sampai ini pertanyaan keluar dari lubuk hati kita yang terdalam, kira-kira apasih yang terpikir dibenak kita dan hati kita tentunya akan sebuah pwertanyaan ini. Taruhlah sebuah perumpamaan yang kita ambil dari sebuah cerita dan kisah masa lampau dan sekarang, yang mana cerita ini tentunya akan terus berlanjut dan berlanjut sampai akhirnya bumi pun merasa bosan untuk berputar dan melakukaan kegiatan rotasinya mengelilingi matahari.


Sang sejarah dan waktu menulis, dimana seorang ibu (sebut saja deh namanya kelinci), dia hanya bisa ketawa lepas dan tersenyum puas, yang tampa ia sadari bahwa beberapa menit yang terlewatkan, ia telah melahirkan bayinya. Ia sangat gembira dan senang tentunya, karena telah melewati saat – saat yang sulit antara perjuangan hidup dan mati, serta sederet kesusahan dan penderitaan selama kurang atau lebih dari Sembilan bulan telah mengandung bayinya, yang merupakan buah cintanya pada suaminya, yang berwujud lahirnya sang bayi tersebut. Terlebih lagi betapa senang hatinya ketika melihat bayinya lahir dengan selamat tak kurang satu apapun jua, tapi sayang apa hendak dikata, eh… ternyata dan ternyata kegembiraan yang sesaat dari wajah sang dewi kelinci tersebut, hanyalah sebuah reflesi sesaat dan ternyata ehh ternyata, sang dewi kelinci ini mengidap suatu penyakit jiwa, yang baginya tak lain adalah tertawa dan menangis tak ubahnya bagi dia sama saja. Hampa dan semua tak ada arti.




Lalu sang bayi ghimana donk, ya.. yang namanya juga bayi, menangis itu adalah sebuah kebahagian dari dia, yang merupakan sebuah repleksi antara mau dan tidak, dan tentunya a kan hal ini yang lebih mengerti dan tau adalah sang ibu sendiri. Timbul lah sebuah tanda Tanya yang menghiasi pikiran kita, lalu siapa sang bapak…?, dan kalau sejarah pun boleh diputar mundur akan cerita kehidupan sang dewi kelinci ini, ternyata dia hilang ingatan dan sakit jiwa tak lain adalah karena musibah yang menimpa dirinya, yang sebenarnya dia tak sanggup untuk menerima pukulan berat yang mendera pikiranya tentunya. Sekitar kurang dari tujuh bulan kebelakang, sang dewi kelinci ini telah ditinggal pergi oleh orang yang merupakan tambatan dan harapan hidupnya, ya siapa lagi kalau bukan sang suami yang tercinta, terlalu tega, bukan empat dan lima lagi donnnkk, dia harus berlalu saja dari sisi sang istri yang ia tau sang istrinya tersebut telah mengandung. Dan hal inilah yang membuat sang Dewi Kelinci ini terjerambat pada lembah kedukaan yang terdalam, yang pernah ia rasa dan nikmati dalam kilasan sejarah hidupnya. Yang berakibat ia mengalami guncangan jiwa, sehinga dia pun divonis sebagai salah satu dari kumunitas orang yang sakit ingatan.



Dan tentunya besyukurlah kita, jika sang ibu kita adalah orang yang merindukan akan kehadiran kita dalam rahimnya, menyanyangi kita dalam kandungan dan dengan rela merawat kita, dari kecil sampai jadi aktor sebagai lakon pentas dimuka bumi ini, tentunya karna jasa yang tak terhingga dari sang ibu kita sendiri. Dan ada hal yang terindah lagi dari dibaik semua itu, dia selalu berdo’a dan bermohon dengan sepnuh hati akan keselamatan dan kesempurnaan hidup dari diri kita.



Dan sekali lagi tentunya kita, patut bersyukur akan kelahiran kita ini, karena kita tidak terlahir dari seorang ibu yang tidak tau akan kehamilanya, tidak tau arti merindukan akan hadirnya sang bayi, dan bahkan tidak tau bagai mana kelak merawat dan mendidik kita, dan tak mungkin akan hal itu terjadi kalau seandai dan semisal kita terlahir dari seorang sang ibu yang, yaaa…..boleh di bilang hilang ingatan, dan sekali lagi patutlah kiranya kita bersyukur akan hal ini, karena kita tidak menjadi salah satu contoh dan example dari hidup sang dewi kelinci tadi.



Terbesit dibenak pikiran kita tentunya, maaf (red_) betapa merasa malunya dan menderitanya sang anak kalau tahu bahwa dia telah terlahir dari dari rahim seorang perempuan yang ternyata ia hilang ingatan. Tapi jangan salah dulu, orto kita pun bisa jadi gila dan hilang ingatan karena lakon dan kelakuan kita, kenakalan, dan kemanjaan dari kita sendiri, bisa jadi penyebab dan tidak jarang hal ini terjadi dan menjadi sebuah skenario kisah nyata, dalam dunia lakon yang bertajuk dunia bukan panggung sandiwara, tapi dunia adalah lakon nyata yang pasti ada akibat kelak setelah berbuat.



Cobalah coy, mari kita perhatikan, maaf and sorry lagi layaww, dimana para sang ayah yang kadang terlupa akan ibadah, saking dan saking, sangat sibuknya ia akan mencari nafkah, ngak sedikit harus ada yang terpaksa dengan rela dan harus…harus dan..harus jual aqidah, karena dengan satu alasan klasik, bahwa bosan akan hidup yang selalu dirundung susah, kemiskinan ya mungkin kata ini yang sering dan banyak dikenali orang, banyak sekali bahkan sangat bodoh kalau orang mau hidup dalam level ini, kalaupun itu terjadi tak lain dan tak bukan adalah sebuah kekentuan yang harus dan harus tentunya, kita tunduk pada Perintah sang sutradara, yang tak lain dalah Tuhan itu sendiri, yang sudah menggaris dan menetapkan hukum, bahwa kita harus seperti ini, meski kita telah berusaha dengan segenap kemampuan kita, kalau tidak bisa, yaa.. apa boleh buat itulah yang terbaik bagi kita. Atas ini semua bagi yang mengerti dan tau akan hidup sebenarnya, menerima dengan pasrah dan ikhlas tentunya, bukan karna ia malas, tapi dia tau akan lakon dirinya sendiri, bahwa ia harus tunduk pada ketentuan tuhanya, tapi terlepas dari kebalikanya, bagi yang tak terima akan hal ini, dan merasa malu pada sesama, merasa bosan dengan lakon sebagai orang miskin, dan tak sedikit harus melakukan dan merubah skenario dengan berbagai cara yang tentu melanggar dari aturan main yang sudah ditetapkan oleh TuhanNya sebagai sang sutradara tadi. Akhirnya ngak sedikit, karena merasa bosan hidup akan sebuah kemiskinan harus berbuat aniyaya, dan kekejian, ngak sedikit dari orang tua kita harus berjudi, menipu, mencuri bahkan koropsi pun akan dia lakoni asal tak termasuk salah satu dari kriteria kata tadi, Miskin ya Miskin, emang hebat lho Miskin, elho kata Miskin banyak yang takut pada lho.



Berlanjut pada sang bapak, mereka tidak gila seperti sang dewi kelinci tadi, mereka sadar, bahkan mereka tak sedikit dibilang orang sebagai yang yang terpandang, dan mempunyai wawasan luas, serta dengan sederet anting-anting titel kedunian atau apalah yang disandangnya, kenapa hal ini kok bisa terjadi…? Tapi pada kenyataanya mereka adalah gila, ya gila harta, gila kedudukan, gila segala kekeyaan dan segala yang berbau dunia, yang konon dunia ini pastilah isinya adalah, kesenangan dan kebahagian, ethss tapi jangan salah lho, dunia hanya kesenangan sesaat, buktinya apa….ya iyalah, coba aja liat yang udah mati, apa mereka bisa balik lagi kedunia yang dibilang dengan segudang kesenagan dan kebahagiaan. Bener juga ya..yang udah mati kagak balik lagi kedunia, bahkan harta yang melimpah pun harus ditinggal begitu saja.



Semua lakon yang dilakukan oleh sang bapak tadi, ya.. konon boleh dibilang salah satu penyebab adalah, ini semua bapak lakukan hanya untuk anak-anak dan istri tercinta, dan yaa.. tentunya untuk kita sebagai anakk..!!! agar kita tidak menyandang dan tidak berhadapan dengan kata yang sangat menakutkan tadi, miskin. Hebat lho miskin….hidup miskin…hidup miskinnnn…..oyeee.

Terbesit sebuah tanya dihati, adakah keinginan dan cita, dari kita sang anak untuk mengurangi beban orang tua kita..? atau sebaliknya seperti hal yang diatas tadi menjadi beban dan masalah bagi orang tua. Kalau boleh gue pinjam kata-kata ini, dengan tawadhu, sabar, qana’ah, dan kerendahan serta kerelaan hati kita. Hemat terhadap harta, tidak berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang tidak pada tempatnya, dan tidak bangga atau bahkan tidak silau sekalipun akan harta, ? mungkin dan mungkin sang ayah pun akan lebih banyak waktu untuk beribadah, banyak menuntut ilmu, dan merasa cukup akan rezeki yang Tuhan beri, tampa harus banting tulang dan kerja keras, peras keringat, bahkan sampai melakukan hal-hal naif lainya, mungkin ia akan merasa lebih sangat malu kalau ia sampai melakukan pencurian, penipuan, bahkan sebuah pekerjaan yang konon dari dulu sampai sekarang sangat popoler didunia modern sekarang ini, koropsi ya koropsi….ya inilah kata yang sangat popoler dan bayak menjadi dambaan akan seseorang, yang tidak merasa malu pada tuhanNya, tapi yang malu pada makhluk dan sesama, bukan pada KhaliqNya, ohhh kasian… emang.



Coyy…itu kilas balik cerita dari si bapak, ghimana dengan si ibu, yang juga gila harta akan kelakuan anaknya…? Dan semua dia lakukan demi sang anak yang tercinta..? timbul sebuah pernyataan …? Siapakah yang lebih baik antara wanita yang hilang ingatan seperti sang dewi kelinci tadi, atau dengan wanita yang hilang ingatan bahwa dirinya adalah wanita yang terhormat dan ia semestinya harus menjaga dirinya dan kehormatanya, tapi malah mau melakukan apa saja, ngak mau menutup aurat, suka melakukan pergonjingan, malah tak segan-segan melakukan kegiatan kehidupan malam, malah ada yang sampai rela harus melacurkan dirinya dipinggir-pinggir jalan, dan pernahkah terpikir untuk menelusuri itu semua, bagi pelakon sang kehidupan malam ini, mereka harus rela melakukan itu, dengan salah satu alasan, adalah demi menutupi dan mencukupi kehidupan keluarga, terlebih-lebih bagi kita sang anak. Tengoklah para wanita – wanita purel yang harus rela menari dibawah sinar dan bingarnya kehidupan gelapnya malam, di sebuah club dan karaoke, dan dengan dalih serta alasan yang paling banyak adalah karena demi menutupi biaya hidup keluarga terlebih bagi sang anak.



Dan kita tentunya sebagai anak, rela dan ibakah kita jika sampai harus melihat akan hal ini terjadi, dan jika hal ini menimpa pada kehidupan kita, dan apa yang harus kita lakukan dan perbuat.? Relakah kita sebagai sang anak harus melihat ayah kita harus menjadi seorang penipu, dan membiarkan sang ibu harus menjajakan dirinya dijalanan sampai ajal menjemputnya..? Atau tak sedikit orang tua yang berhenti menipu setelah melihat sang anak yang rajin shalat dan pandai ngaji, dan banyak contoh nyata yang kita temui dalah hidup ini.



Ternyata sebuah jawaban yang terbesit adalah, surga indah didunia ini adalah tak lain, rumah dimana orang yang berada didalamya adalah orang yang tunduk dan mengaku serta patuh pada tuhanNya, sang bapak yang rajin bekerja dan ikhlas dengan hasil yang ia terima apa adanya, dan selalu beribadah dan membimbing keluarganya agar terhindar dari siksa Neraka kelak, dan dimana sang ibu yang selalu menjaga kehormatannya, dan bagi si Anak yang selalu patuh dan taat pada orang tuanya, serta rajin dan tekun akan menuntut dan terus menuntut akan agama, meski harus hidup dengan gelar yang sangat ditakuti banyak orang, miskin, ya miskin, tapi ternyata kata itu bukan hal yang menakutkan bagi mereka, karena mereka telah menemukan jawaban terindah dibalik semua rahasia hidup yang penuh misteri ini, yaa….. inilah surgaku… dan…. inilah istanaku.