Jumat, 06 Agustus 2010

UKM


MANAJER PRODUKSI UKM

Di hadapan Nanang--yang datang terlambat siang itu--telah bersiap Kaji Jamal, Kang Arip dan Pak Gini yang sejak pagi ternyata sudah menungguinya!

"Oke Bapak-Bapak--langkah pertamanya, kita buat master sample item-itemnya dulu dari order baru kita itu," kata Nanang--tanpa basa-basi, membuka pertemuan.

"Setelah jadi, tolong Kang Arip sekalian dibuatkan jigmal komponennya. Jangan lupa ukurannya dilebihkan enam belas mili yang dua muka, sedang sisi sampingnya cukup lima mili saja. Itu penting Kang, soalnya kita nanti pakai kayu kampung, agar tetap bisa dapat ukuran presisi komponen jadinya setelah keluar dari kiln dry chamber, diplanner dan diamplas," kata Nanang, menjelaskan detail tehnisnya. "Hubungi pengrajin yang biasanya membuat komponen dengan standar kualitas kita".

"Baik Mas," kata Kang Arip, menyanggupi.

"Untuk Pak Kaji," kata Nanang, kali ini ditujukan ke Kaji Jamal, "dana operasional untuk proses awal produksi, tolong segera disiapkan".

"Kira-kira berapa Mas?" tanya Kaji Jamal yang menjadi pemodalnya. "Sudah Saya buatkan cash flownya Pak Kaji terperinci. Nanti Saya berikan print-printnannya," jawab Nanang.

"Untuk proses finishingnya, kapan bisa dimulai Mas?" tanya Pak Gini--tukang finishing itu, menyela.

"Setelah komponennya diukir Pak, bisa langsung diamplas dulu," jawab Nanang.


Sesaat Nanang mengamati raut ketiga koleganya itu dalam-dalam. Moga-moga saja mereka sudah paham dengan pembagian kerja yang sudah Saya atur tadi, kata Nanang dalam hati. Namun, demi memastikannya,"Bagaimana Bapak-Bapak, sudah paham 'kan semuanya?"

"Paham Mas," jawab ketiganya hampir serempak.

Karena sudah dianggap selesai, mereka kemudian membubarkan diri--meninggalkan ruang pertemuan itu, kecuali Nanang dan Kaji Jamal yang memiliki agenda lanjutan.

"Saya sudah mendapatkan anak SMK Mas--perempuan, baru lulus tahun ini," kata Kaji Jamal, membuka pembicaraan. "Besok dia sudah bisa bekerja di sini dengan kita".

"Terima kasih Pak Kaji," kata Nanang nampak senang mendengarnya.

"Tapi terus-terang--jika boleh tahu alasannya, kenapa Mas tidak mencari sekretaris yang sarjana saja, 'kan pendidikannya jauh lebih tinggi?" tanya Kaji Jamal membuka uneg-unegnya.

Mendengar pertanyaan koleganya itu, jenak Nanang tak langsung berkata-kata dan hanya menyungging senyum.

"Suatu saat Pak Kaji, tetap kita butuh kok sekretaris yang berpendidikan sarjana. Hanya saja mengingat perusahaan furniture kita yang baru berdiri ini masih berskala kecil dan manajemen administrasinya pun juga belum terlalu rumit, cukup lulusan SMK saja yang kita pekerjakan di samping gajinya lebih murah," jawab Nanang, menjelaskan.

"Soal kemampuan," lanjut Nanang,"Pak Kaji tidak usah kuatir. Namanya saja sekolah kejuruan, pasti lulusan SMK sudah dibekali ilmu ke sekretarisan seperti akutansi, komputer, bahasa inggris dan sejenisnya meski mungkin ilmunya tidak sekomplit yang didapat sarjana. Intinya efisiensi tepat guna Pak Kaji. Toh pekerjaannya nanti juga langsung di bawah kontrol Saya. Jadi--seandainya terjadi kesalahanpun, bisa langsung Saya koreksi," jawab Nanang berpanjang lebar, menjelaskan.

"Saya sudah mengerti Mas," kata Kaji Jamal itu akhirnya, tak lagi mempertanyakan.

Kemudian--setelah dirasa cukup pembicaraannya, kedua kolega itu lalu meninggalkan ruang pertemuan perusahaan di waktu mendekati pukul setengah empat, ke rumah masing-masing untuk berlepas lelah bersama keluarga.

Dari Bpk Himawan Noorkanji
Jepara, 29-30 Juli 2010

Persijap



PERSIJAP

Ramai juga penontonnya untuk sesi latihan hari ini. Parkiran motornya saja—yang di depan gerbang utama stadiun itu—sudah terderet penuh hingga empat baris! takjub Rama dalam hati. “Dua ribu Mas,” kata tukang parkir padanya, meminta bayar di muka.

Kemudian—usai memarkirkan kendaraannya, Rama langsung menuju ke tribun VIP lewat jalan samping kiri gerbang utama stadiun. Mana dia ya? tanyanya dalam hati. Agar lebih mudah terlihat, sengaja dia memilih tempat duduk yang berada ditengah-tengah tribun tepat di samping pagar merah pembatas.

“Aku sudah di tribun VIP nih, di tempat yang banyak anak-anaknya,” pesan sms yang di kirim Rama menandai keberadaannya. Dan tak sampai sepuluh menit, “Hai!” teriak perempuan dari pinggir lapangan sembari melambaikan tangan padanya.

“Sudah lama di sini?” tanya perempuan itu, menyusul dan duduk di sebelahnya. “Belum, aku baru datang kok,” jawab Rama. “Eh, tadi kamu kok bisa masuk di area lapangan?”

“Tadi, waktu menunggumu di parkiran, aku ketemu Mas Anis—yang jadi pengurus klub ini, terus di ajak masuk,” jawab perempuan itu dengan mata yang terus terfokus pada para pemain di lapangan yang tengah berlatih.

Maniak bola juga perempuan ini, pikir Rama. Mulai dari pelatih lama klub yang pindah ke luar daerah, datangnya pelatih baru pengganti yang dari luar negeri, para pemain inti yang belum di kontrak, sampai para pemain inti yang baru kawin beberapa minggu itupun semuanya dia tahu! Keren!

“Seharusnya pihak klub segera membuat kontrak baru bagi para pemain intinya sebelum kontrak lama yang berlaku setahun itu habis. Kalau terlambat, bisa-bisa mereka akan berpindah ke luar daerah jika mendapat tawaran yang lebih baik,” cerita perempuan itu, nampak prihatin dengan kondisi klub.

“Kalau aku melihat beritanya di koran-koran, klub ini kan memang sedang kesulitan keuangan terutama sejak dana dari APBD yang sepuluh milyar itu dihentikan?” kata Rama, mencoba mengingatkan.

“Iya juga sih, makanya pihak klub dengan kepengurusannya yang baru sekarang sedang membuat unit-unit usaha untuk menambah pemasukan. Pemkab juga ikut membantu memberi pemasukan klub melalui biaya yang ditambahkan dalam pembuatan STNK, ongkos parkir dan lain-lain,” tanggap perempuan itu memaparkan infonya. “Jika memungkinkan,” tambahnya, ”menurutku pihak klub juga seharunya bisa melibatkan perusahaan-perusahaan furniture yang banyak berdiri di sini untuk berpartisipasi dari sisi dana”.

“Wah, kalau itu sih aku tidak yakin,” kata Rama, ganti menanggapi. “Tahu sendiri ‘kan kondisi sekarang di mana-mana sepi. Hampir merata perusahaan furniture mengalami penurunan order bahkan tak sedikit yang bangkrut. Jadi—kalau toh masih ada keuntungan, mereka pasti menggunakannya untuk mempertahankan aktivitas produksinya ketimbang kepentingan yang lain,” kata Rama lagi, berpendapat.

Perempuan itu hanya mengangguk saja mendengar pendapat Rama. Nampak enggan dia membantah perkataan temannya itu yang seprofesi dengannya sebagai praktisi furniture di Kota Jepara.
“Jam lima, sudah selesai tuh latihannya. Yuk pulang,” ajak Rama demi melihat para penonton yang telah bersiap meninggalkan tempat.

“Oke”.
Kemudian—setelah berderet bersama penonton lainnya yang antri menuju pintu keluar—Rama dan perempuan itu menuju tempat parkir mengambil kendaraannya dan langsung pulang, beriring cerahnya suasana sore itu yang tak menyiratkan hujan.

thank's to Bpk Himawan Noorkanji
Jepara 29 Juli 2010

Pekerja



MALAYSIA
by Bpk Himawan Noorkanji
31 Juli 2010

Sudah menjadi resiko Marno--yang bertiket pesawat kelas ekonomi tujuan malaysia--setiba mendarat di KL airport, ikut ber-antri panjang dengan penumpang lain yang kebanyakan TKI itu tengah diperiksa satu-persatu passportnya oleh petugas. Namun--yang tak pernah disangkanya, pihak imigrasi tiba-tiba menahannya tanpa konfirmasi ketika giliran petugas bandara itu memeriksa dokumen yang ditunjukkannya!

"Silahkan menunggu di sana Pak," kata petugas keamanan yang mengawal Marno itu 'ramah', sembari menunjuk ke arah bangku-bangku berjajar di suatu ruangan yang di dalamnya ternyata telah banyak orang-orang--dari Cina daratan terutama--bernasib sama. Apa kesalahanku ya, juga mereka? Bingung Marno bertanya sendiri, dalam hati.

"Kenapa bisa di tahan di sini Bang?" tanya laki-laki itu--entah datang dari mana, tiba-tiba menghampiri dan duduk disebelah Marno. "Saya tidak tahu Bang. Saya langsung ditahan saja oleh petugas setelah pemeriksaan passport Saya," jawabnya.

"Abang Orang Melayu ya?" tanya laki-laki itu lagi. "Bukan Bang, Saya Orang Indonesia dan ini pertama kalinya Saya ke Malaysia," jawab Marno, berterus-terang.

Sejenak laki-laki itu mengamati Marno dengan pandangan tajam. Lalu, "Tujuannya kesini bekerja atau ada keperluan lain Bang?" tanya laki-laki itu lagi, lebih jauh. "Bekerja Bang. Saya dikirim ke sini oleh bos Saya--Orang Malaysia yang punya perusahaan furniture di Indonesia--sebagai desainer di showroomnya yang berada di daerah Selangor sana," jawab Marno terbuka.

Dengan runut, Marno mulai bercerita tentang alasan bosnya yang menerbangkannya ke negeri jiran itu untuk membantu tim marketing di Kuala Lumpur, mendesain barang-barang langsung ke rumah dan apartemen para pemesan, demi meghindari kesalahan teknis seminimal mungkin yang kerap merugikan pihak perusahaan gara-gara mengganti barang atau bahkan dibatalkan ordernya akibat spesifikasinya yang tidak sesuai.

Entah mengerti atau tidak, laki-laki itu nampak serius menyimak setiap perkataan Marno hingga tak terasa telah dua jam lebih waktu Marno mengakhiri ceritanya.

"Saya paham alasannya sekarang kenapa Abang ditahan. Punya nomer telpon perusahaan bosnya yang di Selangor?" kata laki-laki itu sembari bertanya.

"Ada Bang, di kartu nama. Sebentar Saya ambilkan," jawab Marno, sambil membuka tas ranselnya. "Ini Bang, kartu namanya. Ada alamat lengkap dengan nomer telponnya tertulis di situ".

"Saya pinjam sebentar ya Bang kartu namanya. Saya akan bantu telponkan ke nomer ini," kata laki-laki itu, usai membaca kartu nama yang diberikan Marno.

"Silahkan Bang".

Dengan membawa kartu nama yang diberikan Marno, laki-laki itu lalu beranjak menuju ke salah satu ruangan tempat para petugas imigrasi itu sibuk beraktivitas. Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu demi membantunya, sementara Marno hanya bisa berpasrah saja menunggu.

"Sudah Saya hubungi perusahaan bosnya, sebentar lagi akan ada yang menjemput. Jangan ke mana-mana ya Bang, tunggu di sini saja," kata laki-laki itu akhirnya keluar, mendatangi Marno lagi setelah hampir setengah jam berada di ruangan itu.

Lega rasanya, sukur Marno dalam hati. Kekuatiran dideportasi seketika hilang. Spontan kembali terbayang rencananya--di sela libur kerja--ingin melihat KLCC alias menara kembar, Genting Highland, Petaling Jaya alias Pecinannya KL dan tempat lain yang terkenal di negara itu.

Namun--terlepas dari kegembiraannya itu, rasa penasaran tentang alasan penahanannya yang seharusnya tidak terjadi itu--karena dia masih merasa dokumen yang dibawanya lengkap dan resmi--masih tetap menjadi pertanyaan yang memenuhi benak Marno.

"Mohon maaf jika petugas kami sudah menahan Abang di sini karena curiga melihat status visa di passport yang Abang punya berlevel "profesional", berbeda dengan penumpang yang bersama Abang tadi rata-rata "temporary employee" atau "employee"," kata laki-laki itu--ternyata petugas imigrasi yang tak berseragam, menjawab pertanyaan Marno.

"Apalagi," lanjut laki-laki itu, menambahkan, "penampilan Abang juga tidak meyakinkan sebagai "profesional" karena berpakaian casual dan bersandal".

Gelinya sendiri rasanya Marno dalam hati mendengar jawaban laki-laki itu barusan. Masalah penampilan rupanya, pikirnya yang baru tersadar--hal yang sering dianggapnya sepele, ternyata bisa menjadi sangat penting berkait status seseorang di tempat yang berbeda budaya.

"Sama-sama Bang, Saya sendiri juga salah karena telah membuat repot Abang dan petugas di sini. Saya juga berterima kasih karena Abang sudah membantu menghubungi bos Saya," kata Marno akhirnya nampak tulus, diujung pembicaraan.

Kemudian--setelah passportnya yang sempat ditahan itu dikembalikan--dengan diantar laki-laki itu, Marno segera meninggalkan kantor imigrasi bandara menuju ke tempat penjemputan di mana kerabat Bosnya telah datang dan tengah menunggu di sana.

Sebuah tulisan dari
Bpk Himawan Noorkanji

Jepara 31 Juli 2010