
MANAJER PRODUKSI UKM
Di hadapan Nanang--yang datang terlambat siang itu--telah bersiap Kaji Jamal, Kang Arip dan Pak Gini yang sejak pagi ternyata sudah menungguinya!
"Oke Bapak-Bapak--langkah pertamanya, kita buat master sample item-itemnya dulu dari order baru kita itu," kata Nanang--tanpa basa-basi, membuka pertemuan.
"Setelah jadi, tolong Kang Arip sekalian dibuatkan jigmal komponennya. Jangan lupa ukurannya dilebihkan enam belas mili yang dua muka, sedang sisi sampingnya cukup lima mili saja. Itu penting Kang, soalnya kita nanti pakai kayu kampung, agar tetap bisa dapat ukuran presisi komponen jadinya setelah keluar dari kiln dry chamber, diplanner dan diamplas," kata Nanang, menjelaskan detail tehnisnya. "Hubungi pengrajin yang biasanya membuat komponen dengan standar kualitas kita".
"Baik Mas," kata Kang Arip, menyanggupi.
"Untuk Pak Kaji," kata Nanang, kali ini ditujukan ke Kaji Jamal, "dana operasional untuk proses awal produksi, tolong segera disiapkan".
"Kira-kira berapa Mas?" tanya Kaji Jamal yang menjadi pemodalnya. "Sudah Saya buatkan cash flownya Pak Kaji terperinci. Nanti Saya berikan print-printnannya," jawab Nanang.
"Untuk proses finishingnya, kapan bisa dimulai Mas?" tanya Pak Gini--tukang finishing itu, menyela.
"Setelah komponennya diukir Pak, bisa langsung diamplas dulu," jawab Nanang.

Sesaat Nanang mengamati raut ketiga koleganya itu dalam-dalam. Moga-moga saja mereka sudah paham dengan pembagian kerja yang sudah Saya atur tadi, kata Nanang dalam hati. Namun, demi memastikannya,"Bagaimana Bapak-Bapak, sudah paham 'kan semuanya?"
"Paham Mas," jawab ketiganya hampir serempak.
Karena sudah dianggap selesai, mereka kemudian membubarkan diri--meninggalkan ruang pertemuan itu, kecuali Nanang dan Kaji Jamal yang memiliki agenda lanjutan.
"Saya sudah mendapatkan anak SMK Mas--perempuan, baru lulus tahun ini," kata Kaji Jamal, membuka pembicaraan. "Besok dia sudah bisa bekerja di sini dengan kita".
"Terima kasih Pak Kaji," kata Nanang nampak senang mendengarnya.
"Tapi terus-terang--jika boleh tahu alasannya, kenapa Mas tidak mencari sekretaris yang sarjana saja, 'kan pendidikannya jauh lebih tinggi?" tanya Kaji Jamal membuka uneg-unegnya.
Mendengar pertanyaan koleganya itu, jenak Nanang tak langsung berkata-kata dan hanya menyungging senyum.
"Suatu saat Pak Kaji, tetap kita butuh kok sekretaris yang berpendidikan sarjana. Hanya saja mengingat perusahaan furniture kita yang baru berdiri ini masih berskala kecil dan manajemen administrasinya pun juga belum terlalu rumit, cukup lulusan SMK saja yang kita pekerjakan di samping gajinya lebih murah," jawab Nanang, menjelaskan.

"Soal kemampuan," lanjut Nanang,"Pak Kaji tidak usah kuatir. Namanya saja sekolah kejuruan, pasti lulusan SMK sudah dibekali ilmu ke sekretarisan seperti akutansi, komputer, bahasa inggris dan sejenisnya meski mungkin ilmunya tidak sekomplit yang didapat sarjana. Intinya efisiensi tepat guna Pak Kaji. Toh pekerjaannya nanti juga langsung di bawah kontrol Saya. Jadi--seandainya terjadi kesalahanpun, bisa langsung Saya koreksi," jawab Nanang berpanjang lebar, menjelaskan.
"Saya sudah mengerti Mas," kata Kaji Jamal itu akhirnya, tak lagi mempertanyakan.
Kemudian--setelah dirasa cukup pembicaraannya, kedua kolega itu lalu meninggalkan ruang pertemuan perusahaan di waktu mendekati pukul setengah empat, ke rumah masing-masing untuk berlepas lelah bersama keluarga.
Dari Bpk Himawan Noorkanji
Jepara, 29-30 Juli 2010








