
HYPERT SEXS
Sebuah kata yang tentunya ngak asing lagi donk ditelinga kita, ya… namanya hypert ditambah sexs lagi, tentunya suatu kata yang agak keren dan emang, memang keren, Tapi ngak sembarang orang mempunyai kelebihan atau dapat dikatakan hypertsexs, karena apakah itu dapat dikatakan suatu penyakit, kelainan yang terjadi pada jiwa seseorang, atau sebuah, keahlian tersendiri atau yaa… apalah namanya. Tapi ya kalau dipikir-pikir dengan akal sehat, yang namanya kebutuhan biologis kita sebagai manusia yang normal pastilah ada, dan tentunya itu harus, kalau kita tidak perlu yang demikian, maka dapatlah juga dikatakan itu tidak normal atau kurang sempurna, pada diri kita yang tidak mau atau bahkan tidak kepengen sama sekali untuk melakukan yang begituan…ach.

Tapi disisi lain, bagaimana kalau itu sampai dikatakan yang sangat berlebihan atau hypert tadi, ya, artinya seseorang yang memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seks secara berlebihan, ya …itu…lagi…lagi…lagi…dan lagi, yang karena ia merasa memiliki sesuatu yang luar biasa, eh.. atau luar binasa…? Sayang hasrat yang bersemayam dalam dirinya tak sebanding dengan tali kendali iman serta pelana ketaqwaan yang ia miliki, hingga hasrat yang dimilikinya berlarian tak tentu arah, menerobos norma-norma susila dengan berkumpul dan bergomal, memelihara gundik atau dengan menjual keperkasaanya atau hypert nya tadi sebagai gigolo.
Diera akhir tahun 2008 kemarin, pernah ada sebuah film yang bercerita tentang suka dukanya menjadi seorang gigolo, tapi harus kita akui dan akui, bahwa tidak sembarang dan tidak segampang itu seseorang mendapat jolokan seorang gigolo, Ya tentunya disamping harus memiliki wajah yang sangat lumayan, serta bentuk tubuh yang perkasa nan atletis, juga tentunya tak kalah penting dan mungkin tidak sembarang orang memiliki kelebihan ini, yaitu ia paling tidak harus mempunyai yang satu ini, hypert atau hypertsexs. Bayangin aja, ada seorang gigolo pernah cerita, apa betul apa ngak, tapi yang jelas sebagian orang tau propesinya sebagai itu, pria itu berkata bahwa karena merasa berlebihan syahwatnya (hypertsexs), ia dapat melakukan yang gituan..sampai tujuh kali dalam satu malam…wow bayangin aja…..! Tentunya kalau dia punya istri, mungkin sang istri tak berdaya melayaninya hingga membiarkan suaminya jajan alias endehoy kepasaran bebas, untuk menumpahkan rasanya bersama setan-setan betina yang binal. Ya ampunn… lalu bagai mana dengan wanita yang hypertsexs…?

Pernah suatu waktu, pada sebuah Stasiun Telivisi swasta, seorang ibu rumah rumah tangga dengan bangga menuturkan kebinalanya, yaahhh…ia merasa berlebih syahwatnya, dan terpaksa atau membiasakan dirinya berulang kali melakukan dengan suaminya. Dan ketika hasrat itu memuncak, sedangkan suaminya berada diluar alias sedang kerja. Ia pun mengundang seorang jalanan yang pernah ia kenal, entah itu mantan kekasih, bahkan teman suaminya sendiri untuk melampiaskan dan meluapkan beban syahwat yang menjeratnya. Mungkin ini salah satu ciri dan tanda dari kedunguan dari salah satu makhluk Tuhan di bumi ini pada zaman yang mungkin segera akan berakhir.
Padahal diri yang baik adalah diri yang selalu terpelihara dan terjaga, taruhlah diumpamakan sebagai sebuah pusaka. Maka pusaka yang baik adalah pusaka yang selalu terpelihara dan terjaga, yang bakal dipersembahkan buat orang yang terkasih dan tersayang kelak sebagai teman dan pendamping hidup sampai ajal menjemput. Bukan malah diobral dan disalurkan bukan pada tempatnya, yang akhirnya rugi itu bukan pada orang lain, namun secara hakiki kerugian itu justru menimpa pada diri kita sendiri tentunya. Oleh di karenakan, kita sudah tidak mempunyai pusaka lagi yang bakal kita banggakan buat orang yang kita cintai. Saat dimana waktunya telah tiba, ijab kabul pun tercipta, saat haram menjelma menjadi halal, saat maksiat menjelma menjadi ibadah, saat dimana larangan menjadi anjuran hingga akhirnya amanat Tuhan Nya pun tertunaikan.

Namun harus kita akui itu semua, bahwa apa pun namanya hypersexs kek… atau oversexs kek..namun yang jelas semua kejadian dimuka bumi ini tentunya semua bersumber dan bermuara dari Tuhan itu sendiri, ya… hanya kita sebagai manusia harus menggunakan kelebihan akal kita untuk menyimak dan mengsikapi ini semua, apakah ini akan dijadikan pelajaran dan hidayah, atau sebagai sarana untuk menyalurkan hal yang kedua….Nafsu. Tentu semuanya terserah dari diri kita sendiri dalam menyikapinya.
Rasulpun pernah memberikan wanti-wanti begini, hai kau kaum muda, apabila dikau sudah mencapai saatnya dan waktunya, maka bersegeralah engkau untuk mencari pasangan hidupmu, namun jikalau dikau tak sanggup jua pun, maka hendaknya dikau berpuasa, berolahraga dan membikin kegiatan yang bermamfaat guna meredam nafsumu, agar supaya jangan sampai nafsumu menjadi tuan dalam dirimu, tapi harus sebaliknya kamulah yang mengendalikanya agar jangan sampai dia yang menjadi tuanmu, dan tentunya bertaqwalah pada Tuhanmu oleh karena Dia lah sebaik-baik tempat kembali bagi dirimu.