Sabtu, 15 Januari 2011

Ingat Diri



Teringat kebersamaan kita. Ingat hari dimana kau selalu ada, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku, seperti dulu. Masih dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untukmu.

Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan hati kita. Mungkin kita tak akan seperti ini. Andai saja sedikit kau melihat hatiku. Tak mungkin kubiarkan diriku menjauh. Pergi mengusung piluku sendiri. apapun yang terjadi... Aku tau, .... saat ini masih terngiang bisik isak tangismu, erat hangat pelukan saat terakhir dan akan mengingatkanku bahwa kau akan selalu ada. Aku rindu semuanyaAku hilang akal ...

Kalau saja perasaan lebih kuat dari pada keegoisan. Hingga tak perlu ada ‘benang’ yang melilit sekujur tubuhku. Membuatku sesak. Membuatku galau berkepanjangan dan tak bisa kuelakkan. Dan mengapa baru kusadari, kalau jauh darimu seperti ada sesuatu yang hilang? Ada yang tertinggal dan ada sesuatu yang kurang.

Dan itu tak mungkin kuingkari. Tulus dari dasar hatiku. Kau tau... Ingin sekali aku bisa jujur padamu. Mengatakan apa yang kurasakan. Tapi seolah tak mungkin dan tak akan pernah, dilema hati tak pernah dapat jawaban. Tak bisa mengurai benang kusut yang kulakukan. Menjauh darimu. Mati matian tak peduli padamu. Acuh dan tak memperhatikanmu lagi. Berusaha sekuat tenaga tak melihatmu. Itu semua menyakitkan . Membuatku sedih. Tapi aku bisa apa? Tak ada lagi yang dapat kulakukan. Bahkan kubiarkan kau mengira, bahwa memang itulah yang kuinginkan. Membiarkan kau berpikir bahwa aku membencimu.

bodoh....Kubiarkan kau menduganya. Sedikitpun tak berusaha kusangkal. Maafkan aku... Andai masih bisa kukatakan kepadamu

Dan sekarang...Kalau suatu hari nanti kau bisa melihat segala yang sengaja aku lakukan. Mungkin kita sudah terlambat, ... Meski kutunggu kau yang merubahnya. Aku tak pernah ingin berharap lagi. Semuanya ingin kulupakan. Berusaha kukubur dalam dalam. Bukan ingin berlalu, tak mengingatmu sama sekali.tapi Cuma ini jalan terbaik. Untukku. Untukmu. Untuk kita. Segalanya kini sudah kupasrahkan. Sudah kurelakan, meski rasa sakit tak bisa kutepis. Bagaimanapun tak pernah kuinginkan kalau akhirnya seperti ini. Kau adalah bagian terindah dalam hidupku. Orang yang kucintai sepenuh hati. Yang pernah kuijinkan mengetuk pintu hatiku. Memasuki seluruh cinta yang selalu kusimpan rapat untuk sosok dalam mimpiku. Semuanya akan kukenang, Hari hari termanis yang kau beri sepanjang kita bersama. Moment terindah yang kau hadirkan untukku. Terima kasih... Untuk segalanya. Mungkin itu yang belum sempat kuucapkan. Karena membuatku bahagia meski sesaat.


Suatu hari nanti jika aku kembali.Berdiri didepanmu dengan sosok yang berbeda. Mungkin tak sesuai yang kau harapkan. Tapi aku ingin kau mengerti, inilah aku! Seperti inilah aku! Apa adanya. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tanpa pernah lagi harus memikirkan banyak perasaan yang mesti kujaga. Ingin berdiri tegar meskipun tanpamu. Ingin memperbaiki segalanya. Bagaimanapun aku tak ingin membuatmu malu, karena pernah menyayangiku. Dan dari semuanya, tak bisa kupungkiri bahwa ini semua karenamu, Kau memberi arti. Terlalu berharga untukku.

Hanya satu yang tak akan pernah berubah, .... Aku sayang kamu. Selamanya. Tak akan pernah meninggalkanmu. Melupakanmu. Seperti juga saat terakhir kita bersama, masih selalu berharap, kebahagiaan mendampingi langkahmu. Mewarnai hidupmu. Meski bukan aku lagi yang melakukannya. Aku ingin selalu melihat binar dimatamu. Ingin melihatmu selalu tersenyum dan tertawa bahagia. Ingin mimpimu terwujud. Impian impian indah yang pernah kudengar. Aku ingin sekali bisa membuat harapanmu terkabul. Cuma itu yang tersisa kini, ...Melihatmu bahagia... mendengarmu bahagia... berdoa agar kau bahagia....!

by bkn pujangga

Memeluk Bayang



Andai aku masih punya sepasang kaki keberanian untuk mencintaimu...
Manakala langit hitam berjelaga tak memberiku waktu.
Menciumi wangi dan lembutmu semasa bibir kita terkunci, tanpa kata...
Meski telah berulang2 ku hempas wujudmu dalam khayal!
Ya, aku masih saja mencintaimu...
...Begitu dan selalu begitu...

selalu ingin ku berjalan bersamamu, namun tak pernah bisa
karena ikatan itu telah membatasi segala prilaku-ku
walau kadang rinduku padamu tak terbelenggu

...sering aku datang ke serambi hatimu. Berharap sedetik saja kau datang lalu memeluku. Namun ikatanmu menjauhkan ragamu dari aku tapi tidak hatimu! Andai dapat ku kawinkan waktu dg harap, mungkin saat ini tubuhmu dapat ku dekap erat. Meski hanya sekejap. Ya, hanya sekejap!

kembali kudengarkan senandung lirih itu, saat kerinduan akan dirimu semakin deras. samar terdengar dari jauh petikan gitarmu itu. ingin ku berlari merengkuh tubuhmu dalam dekapanku meski hanya sesaat sekedar memuaskan rinduku yang begitu tertatih-tatih...

Resah bayangi anganku, ketika khayal yg menari dipelupuk mataku, membias nanar sekilas tatap matamu, yang membiusku dlm segala rona indahmu. Ingin ku bebaskan hasrat yg menggebu, ingin aku mrengkuhmu, merasakan rindu yg menggeliat di detak jantungmu. Rasa yg semakin meradang, sukma yg tersihir oleh raga yg memikat pandang. Terasa hampa kala berangan tanpa tujuan. Wajahmu membawaku lagi dalam lamunan rindu kelabu...

setetes air mata jatuh dari langit, entah milik siapa. membasahi tanah yang kering dan menjadi lembab. dikesunyianku, aku melihat hujan dari segala hujan yang melahirkan sebuah renungan dan perlahan memecah dalam kebekuan hatiku. dingin menyempurnakan rinduku kali ini. hampa tak bertuan....aku tak bisa kemana untuk entah kapan nanti

waktu akan mempertemukan aku dan kamu, suatu saat nanti...
Sebab bertemu dg mu, aku seperti kosong yg bertemu isi, seperti api yg memeluk kayu, seperti laut yg selalu ditemani ombak. Jika waktu itu datang akan ku sematkan cincin yg terbuat dari hatimu dan hatiku, agar kau tau betapa aku mencintaimu...dari dulu'

cukuplah…
biar saja aku disini bersama sunyi. menghitung setiap butir rinai hujan yg membekukan diri. krn aku tak mampu berbuat apa² disaat kau memilih berlalu, aku hanya mampu membeku disamping kesunyian.

biarlah semuanya menjadi kenangan yg membentang disepanjang jalan yg tampak mulai membeku, mungkin kau tak cukup mengerti tentang rinai hujan yg turun membekukan diri. aku tak meminta apapun dan kaupun tak perlu memberi kehidupanmu padaku dan kesunyian....

kepingan sunyiku bserakan diantara beranda risau. Tak mampu ku menyapu pedih dalam ruang yg bungkam. Dan penatku pun menjerit diantara kosongnya hati,
tanpamu...

ada banyak rindu untuk kuserahkan padamu. tapi belenggu ini susah untuk kulepas. hari²ku tanpamu adalah kesunyian yg abadi, sunyi yg kekal, sunyi yg membuatku terluka. Luka yg teramat dalam. sayang, kutitipkan tulisan ini pada senja. aku tahu, senja akan menyampaikannya padamu. krn setiap hari dia berpapasan denganmu. aku tahu, kau takkan pernah datang lagi dlm hari²ku, tapi itu tak penting. asal engkau tahu, knp sebab aku tak lagi menemuimu.

salamku untuk lagu dan gitar, sahabat setiamu dlm kesunyian...maafkan aku...

Aku rapuh tanpamu, aku jenuh tanpamu, aku hilang tanpamu,aku rengsa tanpamu.
Aku tak ingin lagi tanpamu!...Aku ingin setiap detik bersamamu.
Dan bukan, tanpamu...!


aku pun rapuh
tapi meski aku rapuh dalam langkah, dilelahnya jiwa dan resahnya airmata namun cinta dalam jiwa cinta tak pernah lelah mencoba menguatkanku...
mencintaimu adalah bahagiaku karena memilikimu dalam hati
mencintaimu adalah sedihku karena kita sering terpisah
hanya sekeping kepercayaan ku titipkan untukmu jagalah dengan kecintaan jangan biarkan pecah berserakan

sepi saupi sepa saupa, tak ada rindu yg menyepi. Tak ada cinta yg menyapa. Angin datanglah, bintang berkumpulah. Mari kita rayakan hari dimana diam adalah raja!

Bulan tertawa, melihatku terpaku menatap selembar sketsa wajahmu yg ku lukis diatas kanvas biru...

Aku rindu!...Ya, aku rindu...!
Tak sadarkah kamu? Bahwa telah ku lumat habis waktu tanpa sisa, demi untuk mendekapmu semalam saja? Atau haruskah aku berlutut dkaki langit, hanya utk dapat mengecupmu sekali saja?
Ah sudahlah! Lupakan inginku, abaikan rasaku sebab telah ku cintai kamu dg caraku, dg cara bagaimana ketulusan itu membimbingku. Cinta tidak melepas apa yg ingin kita genggam juga tidak menggenggam yg ingin kita lepas. Cinta itu membebaskan. Mencintai Tuhan sekaligus mahluknya bukanlah kesalahan!


jadi salahkah aku bila mencintaimu....?
satu kebahagiaan yg terindah yg pernah kumiliki adalah bersamamu menempati cinta dalam satu hati...!

Chienta, bahagiaku dpt mendengar renyah suaramu malam ini, bebas tawamu jg lembutmu pun terpancar jelas meski jarak mbentang diantara kita.

Jantungku berdegup kencang. Aliran darahku mengalir deras. Nadiku berdenyut memburu.
Lamunanku pudar, sepiku pun hilang.
Mencintaimu pada satu hati yg ku yakini adl hal terindah yg pernah ada.
Merindukanmu pada tiap detik yg berlalu adlh masa yg berarti dlm hidupku.

Terima kasih chienta, sebab telah kau torehkan lagi warna dselembar kertasku yg usang.
Membuat kelabu itu pudar berganti pelangi.

Selamat tidur chienta, aku akan selalu menjagamu dari kejauhan...

chie and giel :
untuk apa aku cemburu jika hanya membuatmu menjauh dariku pun untuk apa aku curiga jika itu hanya membuatmu tersiksa. rasa itu untuk d'rasakan dan bukan untuk d'paksakan...maka nikmati sajalah..!

Ketika cinta adalah luka
mengais duka, merajai nestapa
diantara dentuman tangis dan airmata
aku meringkuk dalam kesendirian tanpa rasa

Rindu yang kini berubah menjadi sembilu,
seperti mengiris urat nadiku satu persatu.
Mungkinkah ini akhir dari rasaku
yang dulu pernah menjadi lilin penerang hatiku?

Pada titik nadir aku bertanya, akankah rasa ku ini mati ya Jiwa?
seiring waktu yang tak akan pernah diam apalagi berhenti?
Atau akankah rindu hanya akan menjadi benalu dalam kalbu yang membiru?
Ah sudahlah persetan dengan rasa, setan saja tak punya rasa!
Ya, itu saja...!

malam bidadari tanpa sayap
aku kembali dengan tumpukan kata
dan memandangmu dari tempat
yang dapat kau lihat
mengatakan padamu dengan sejuta mantra
bahwa aku selalu cinta

kemana saja kau mengembara duhai bidadari bertandukku
aku berharap kau merasakan
semua kelelahan yang aku rasakan
dari sebuah pengendalian
agar aku tak selalu tersiksa sendirian
dan cinta pun tak terbumikan

puisiku ada dan mengalir dengan rasa
tidak cuma kata
jika tak percaya tanyakan saja pada angin
sebab ia yang selalu menemani sepi yang mengigit
seperti malam ini

dingin yang mengigit pada pagi yang begitu buta
dinding-dinding mulai sepi
tembokpun mulai kedinginan
lalu menyerahlah dalam mimpiku
perlahan mimpi-mimpi mulai mengendap
menikamku dari belakang
dalam kesunyian yang hening
aku dibunuh para mimpi
dan haripun lengkaplah malam
ketika aku mencoba menutup mata
tergolek pasrah berendam dalam mimpi-mimpi malam

sendiri aku tapaki sedih yang mendidih
kembali aku berjalan pada ketidakpastian yang pedih
diam…lagi-lagi hanya itu yang aku bisa
begitupun bulan yang mulai enggan
menunjukan kemerlap bintang ...!

by bkn pujangga

Arjuna Pencari Cinta



Namanya Arjuna, persis nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan. Tapi ia tak tampan, tak gagah. Apalagi digila-gilai oleh wanita. Arjuna yang ini hanya seorang penjual ulat sebagai pakan burung yang penghasilannya tidak menentu. Tinggalnya di sebuah rumah sederhana dengan ibundanya yang sudah berusia 70 tahunan. Sejak usia 2 tahun Arjuna menderita lumpuh. Penyebabnya adalah demam yang sangat tinggi yang kemudian merusak syarafnya.

Arjuna kini sudah 40 tahun dan tetap lumpuh. Ia pun masih tetap ulet menjalankan profesinya. Sejak beberapa waktu yang lalu ia mempunyai kegemaran baru, suka mengikuti pengajian dari masjid ke masjid. Dari pengembaraannya itu akhirnya ia jatuh cinta pada sebuah masjid di sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kyai yang masih muda dan berkharisma.

Pagi itu Arjuna tampak rapi dan wangi. Ia menggunakan baju terbaiknya, sebuah baju koko berwarna putih yang dimintanya pada sang ibu untuk disetrika licin-licin. Ia sudah siap menuju pengajian di pondok pesantren. Jaraknya lumayan, dari Jl. Pendawa Dalam, Bandung, ke daerah Gegerkalong Girang. Apalagi bagi seseorang yang tak berfisik sempurna seperti Arjuna, jarak itu terasa lebih dari sekedar lumayan.

Arjuna merangkak di depan rumahnya, lalu dengan suara cadelnya berteriak memanggil becak di ujung jalan. Sang tukang becak pun tanggap dengan panggilan Arjuna. Ia mafhum, Arjuna pasti akan pergi ke pondok pesantren.

Arjuna duduk manis di dalam becak, hingga sampai ke jalan besar. Di jalan besar, sang tukang becak membantu memanggilkan taxi. Satu taxi lewat, taxi berikutnya juga, dan berikutnya, lalu berikutnya. Arjuna tetap duduk manis di dalam becak, tersenyum. Keringat mengucur di tubuh sang tukang becak yang tampak sedikit kesal tidak satu pun taxi yang mau berhenti.

Membawa Arjuna sebagai penumpang taxi memang berbeda. Sang sopir taxi harus rela membantu menggendongnya. Maka tak heran kalau tak semua sopir taxi mau. Tapi Allah selalu memberikan pertolongan-Nya. Sebuah taxi meluncur pelan dan berhenti. Sampai di pondok pesantren Arjuna disambut oleh beberapa orang jemaah. Ia sama sekali tak dipandang sebelah mata. Justru banyak orang yang sayang padanya, termasuk sang kyai.

Ceramah pun dimulai. Seperti kali yang lalu. kali ini Arjuna tak mampu membendung air matanya. Semangatnya membara. Bukan hanya itu bahkan bergejolak. Bagai sebuah handphone yang perlu di-charge, inilah saat-saat Arjuna menge-charge jiwanya. Total biaya Rp.50.000,- yang harus ia keluarkan untuk pulang pergi ke pondok pesantren, serasa tak ada harganya dibanding dengan setrum yang menyulut dirinya. Ajuna jadi lebih semangat bekerja, lebih semangat mengumpulkan uang untuk bisa datang ke pengajian.

Arjuna sekarang jadi rajin ibadah malam. Sifat pemarahnya mulai hilang, jadi lebih sabar dan optimis. Pelan-pelan keinginan itu muncul. Suatu keinginan yang sama sekali tak pernah berani untuk ia mampirkan walau sekilas di kepalanya.

"Ibu, Arjuna kepingin kawin!" Suara cadel Arjuna bagai geledek yang memecah kesunyian malam di telinga sang ibu.

"Arjuna enggak mimpi kan?" sang ibu bertanya sambil menguncangkan tubuh Arjuna yang tergolek lemah di tempat tidur.

" Eh ibu, Arjuna mah bangun. Ini enggak mimpi. Sungguhan, Arjuna kepingin kawin."

Sang ibu menelan ludahnya beberapa kali, miris. "Jang, kamu teh mau kawin sama siapa?"

"Nggak tau. Tapi Arjuna sudah minta sama Allah."

Mata sang ibu hampir-hampir tak kuat membendung air mata yang hendak tumpah. "Bener atuh, kalau memohon ya sama Allah."

Sang ibu bingung apa yang harus ia lakukan. Menghibur Arjuna dan membangun mimpi-mimpi indah yang kosong melompong. Atau membuatnya melek melihat kondisi cacatnya. Tapi itu sama saja artinya dengan menghempaskannya ke jurang dalam. Sang ibu cuma bisa menyerahkan pada Allah, apapun kehendak-Nya.

Malam purnama. Arjuna baru saja selesai sholat tahajud. Ia merenungi keinginannya yang mulai menjadi azzam. Pikirannya berkecamuk. "Tapi, kalau nanti punya istri pasti biaya akan bertambah. Sekarang saja hidup sudah pas-pasan. Ah, rejeki kan sudah diatur oleh Allah, tinggal kita yang harus ikhtiar. Tapi, mau nikah sama siapa. Eh, iya ya. Siapa yang mau sama saya yang jalan aja mesti merangkak, mau ke mana-mana mesti digotong. Ah, itu kan sama juga, jodoh sudah diatur sama Allah. Tinggal ikhtiar saja. Besok saya akan bilang sama Pak Kyai, minta dicarikan istri."

"Pak Kyai, saya kepingin kawin!"

Pak Kyai itu pun kaget tak beda seperti ekspresi sang ibu ketika mendengar ucapan Arjuna. Dengan sabar Kyai berkata, "Wah bagus itu. Menikah kan sunnah Rasulullah, apalagi kalau niatnya untuk ibadah."

"Iya, iya, saya kepingin kawin karena kepingin ibadah. Kepingin punya anak-anak yang normal dan berjuang di jalan Allah."

"Arjuna mau menikah dengan siapa?"

"Saya ingin minta dicarikan sama Pak Kyai."

Pak Kyai pun menggaruk-garuk kepalanya. Bukan amanah yang ringan. Sudah berkali-kali ia mempertemukan jodoh diantara santri-santrinya. Diantaranya ada juga yang tidak sekali langsung jadi. Itu pun santri-santri yang normal, tapi Arjuna...?!

Sang Kyai bukan mengecilkan arti Arjuna. Semua orang sudah ditentukan takdirnya oleh Allah. Dan tak akan tahu takdirnya bagaimana kecuali dengan berusaha. Tapi usaha yang harus dilakukan untuk mencari istri untuk Arjuna bukan perkara mudah. Tapi Allah berkehendak lain. Sang Kyai akhirnya menemukan sang gadis.

Gadis itu normal, juga sholehah. Ia salah satu jamaah yang kerap mengikuti pengajian Kyai. Kyai mengucap syukur yang tiada tara, karena akhirnya gadis itu mengucapkan kesediaannya menikah dengan Arjuna.

Ina, gadis itu, jelas-jelas tahu Arjuna yang akan dinikahinya berfisik tak sempurna. Sangat jauh dari gambaran tokoh Arjuna yang ada di lirik lagu.

"Kenapa Ina mau menikah dengan Arjuna?" tanya sang Kyai. "Ina sudah tahu apa resikonya? Apa yang akan dihadapi di kemudian hari?"

"Niat saya cuma ingin mencari keridhoan Allah. Saya ingin menjadi bidadari di syurga nantinya," kata sang gadis dengan mantap.

Pagi hari di bulan Agustus 2002 itu seakan bersinar lebih cerah dari biasanya bagi Arjuna. Sebelum berangkat, ia menangis. Bukan sedih, justru kebahagiaan luar biasa yang tak terbendung. Suatu keajaiban yang tak pernah ia bayangkan akan terwujud. Mulanya hanya sebuah keinginan, lalu menjadi tekad, dan kini menjadi nyata. Allah mengabulkan permohonannya.

Terbata-bata Arjuna mengucapkan ijab kabul. Bukan karena grogi, tapi karena memang ia kesulitan mengucapkan kata-kata. Dua ratus pasang mata ikut berlinangan airmata, tak kuasa menahan haru yang tiba-tiba menyeruak. Arjuna menyerahkan mas kawin berupa 23 gram emas kepada istrinya. Lalu Arjuna bersujud di hadapan ibunya, menangis tersedu-sedu.


Di hadapan para tamu, sang Kyai berkata, "Kita harus banyak belajar dari Arjuna, seseorang yang diberi ujian berupa kekurangan fisik dari Allah, namun tidak takut dan berani mengambil keputusan terhadap masa depannya. Arjuna adalah contoh seseorang yang berserah kepada Allah, yakin akan rejeki yang sudah ditetapkan-Nya. Semoga Allah memberkahi pasangan pengantin ini, menjadikannya sakinah, mawadah, warrahmah." Doa sang Kyai ini pun di amini oleh para tamu walimah.

Arjuna memandangi istrinya penuh haru. Ina baru saja selesai mencuci baju. Arjuna senang sekali, kini ia tak lagi mencuci baju sendiri seperti ketika bujangan dahulu. Ina juga selalu merawat dengan penuh ikhlas dan telaten. Seorang gadis telah Allah kirim untuk menjadi pendampingnya di dunia. Arjuna berharap Ina juga akan menjadi bidadarinya di surga nanti. Insya Allah.

by bkn pujangga

Berkah Ramadhan




Berkah demi berkah Kau sisipkan
Kesempatan demi kesempatan Kau hamburkan
Semakin berat tak kuasa jiwa ini kehilangan
Tak mampu batin ini ditinggalkan
.
Perih kini kusadari,
Yang kurisaukan akan segera datang..
Dimana ia pergi dan mungkin tak bisa kutemui lagi
Dimana letupan-letupan rindu masih mengisi sanubari
waktu itu berlari..
: menyapu tiap detiknya dengan khilafku
.
Ramadhan bulan penuh ampunan..
Terimakasih ya Robb, kau sempatkan aku menemuinya
Lapar dahaga yang begitu nikmat
Tadarus dan tarawih yang begitu sehat..
Kau tunjukkan pada pecintaMu,
Tentang rahmat dan magfirah yang tak henti membasuh

Maafkan hamba, ya Allah..,
Sucikan noda karat pada qolbu ini..
Kuat terasa indahnya cinta Sang Maha Cinta
Eloknya kasih dari Sang Maha Kasih
Membuat rajutan rindu semakin erat menjerat

Cepat temui aku lagi, Ramadhan..
Obati rindu ini segera dengan rasukan damaimu
Kami menanti..
Seruan angir membisik suka akan hadirmu..!

Syahdu Ramadhan



Segurat tipis pelangi
menggantung di ujung langit
sekeping angan tunduk
tepekur diambang maghrib

suara-suaraMu terus menggema
mengisi penuh gendang telinga
hingga nyeri dan luka ini tak kuasa lagi
bersembunyi
di balik tirai airmata
yang terus jatuh ke palung
yang paling sunyi
di kedalaman dada

maka biarkanlah jemari ini bergetar
dalam tengadah
manangkup butiran embun-embun
bening pecah
bersama malam dan fajar yang tunduk
berselisihan
memasuki pintu-pintu barokah.....!


Bumi berputar bak secanggih-canggihnya piranti..
Dengan kekuatan yang teramat sakti..
Dialah Allah sang Pencipta yang takkan pernah letih..
Yang berikan nikmat silih berganti..

Ramadhan...
Memang telah kita sering lewati seperti dulu..
Tapi apakah evaluasi ibadah juga perlu?
Jangan...
Jangan perkenankan dirimu lakukan jika tak ingin membuat hati pilu..
Hanya akan berujung malu
Tapi,,
lakukanlah jika yakin hatimu akan luluh..

Tak usah banyak berpikir..
Tentang alasan banyak kesibukan yang diukir..
Hingga prioritas ibadah jadi tersingkir..
Cobalah kawan, minimal isi waktu luang dengan berdzikir..

Jika ada kekhilafan memang tak bisa diralat..
Tapi jangan momen Ramadhan saja sebagai alat..
tuk mengais manis kepadaNya setelah pahit bagai lalat..
Bermuhasabahlah dan taubatlah dengan sholat..
Itupun jika tak ingin kualat

Masih maukah mengurangi keangkuhan dengan bermuhasabah?
Yakinlah takkan pernah bisa jika tak dicoba..
Apalagi jika harga diri terlalu tinggi tuk dirubah..

Tak usahlah direnungkan hingga kepala pening..
karena cahaya wudhu kan tetap tersurat di kening..
hingga terompet sangkakala tetap tidak bergeming..
Apalagi jika senantiasa bertarawih dengan kekhusukan dalam hening..
niscaya setelah Ramadhan hatipun tetap bening..

Ramadhan ...
Inilah saat kita menumbuhkan keimanan seperti biji..
yang tlah kita tanam sejak kecil dengan rajin mengaji..
Kita rawat dan sirami hingga matang hingga siap saji..
Hingga setelah Ramadhan pun bisa kita uji...

Ramadhan...
Mungkin hati kecil kita pun merindu kala lama tak bersua..
Tapi jangan sambut bulan suci ini dengan bermewah-mewah..
Karena Ramadhan harusnya bulan penuh dengan taqwa..
dan bulan penyembuhan bagi segala penyakit dalam jiwa...



Tak masalah jika ingin Ramadhan kali ini lebih berwarna..
Tapi apapun kesibukan pastikanlah bermakna..
Bukan hanya ajang tebar pesona..
Atau hanya ingin membuat orang yang dicintai terpana..
Patutlah hanya mengharap ridho Sang Maha Sempurna...
Sebelum ajal menjemput dan harapan menjadi sirna..

Janganlah lewati Ramadhan dengan gelisah..
sekalipun tak ada lagi asa..
Yakinlah sakit dan masalah bisa jadi pengurang dosa..
Apalagi saat momen Ramadahan ini apapun pasti bisa..
Maka ingatlah pada sebuah kisah..
Dimana cobaan berat pada Nabi dan Rasul serta umat terdahulu pada tiap masa..
Jauh lebih berat dari berkilo air raksa..
Bahkan bagi Bangsa Palestina yang kini tersiksa..
Perang tak menyurutkan niat mereka tuk berpuasa..
Gelimpangan bom di sekeliling tak bisa mengurangi rasa..
kenikmatan luar biasa saat adzan menggema hingga ke angkasa..

Sesyahdu Ramadhan di kala menjelang..
Seindah langit yang tinggi menjulang..
Bulan penuh ampunan dan pendidikan..
Tak patut sedikitpun disiakan..

Tak seindah nada-nada air hujan yang merintik..
Tak semegah suasana malam di bawah naungan purnama nan cantik..
Tak bisa aku lukiskan indahnya anugrahNya dalam Ramadhan yang ada di tiap detik..
Yang beri kita semua hidayah tuk dipetik..

Cinta Cahaya



Telah menembus bilik qolbuku, Rasanya hangat menyinari qolbu.
Bak cahaya musim semi, menumbuhkan tunas muda, memekarkan bunga sakura
dalam taman cinta....!

Ku bertanya padanya kenapa cinta hadir, inginkah menjadi cahaya? yang menjadikan bumi penuh warna...? cahaya yang menumbuhkan, menyegarkan, menghidupkan,
namun aku hanya seoarang insan yang tak sempurna, yang merindukan mu di taman cinta-Nya.

Aku mencintaimu karena engkau, dicintai Sang Pemberi Cinta....!


Ya ALLAH…
Izinkan aku mencintai-Mu melebihi segala yang ada di dunia ini
Izinkan aku mencintai orang-orang yang mencintai-Mu
Izinkan aku mencintai segala perkara yang dapat menjuruskan
aku untuk mencintai Mu


Melihatmu.....!
Seperti berkelana jauh menjelajah bintang
memetik setiap noktah-noktah cahayanya
yang membentuk wajahmu dirangka langit
lalu melukiskannya kembali
di kanvas hati, dengan lembut cahaya bulan
yang terbit dari indah matamu.

Bagai menikmati setiap tetes bening embun
yang menyebar rata pada rumput pekarangan
lalu menuainya satu-satu
dan kupintal rapi bersama desir rindu
yang terus mengalun meski mata sudah terjaga
dari rangkaian mimpi indah tentangmu.

Laksana menikmati larik pelangi dibatas cakrawala
Yang melengkung sempurna serupa senyummu
lalu dari sana, kujadikan setiap bilah warnanya
menjadi seikat puisi, yang kukirimkan padamu
bersama derai gerimis dan desah pilu tak berkesudahan.

Seperti mengayuh sampan kecil di danau yang sepi
Dimana setiap kali kayuhnya yang jatuh
memercik menerpa air, Adalah detak-detak jantungku
yang telah lelah menghitung waktu
sejak dirimu berlalu dan meninggalkan jejak lembut cahaya bulan
juga serpih kenangan, mengendap didasar hati, dari matamu…..!

Untuk Perempuan yang Menyimpan Lembut Cahaya Bulan di Matanya

Jika saja 1000 tahun ku lewati waktu hanya bersamamu ..
Rasanya terlalu singkat..
Namun sayang sedetikpun ku tak bisa melewatinya denganmu..
Walaupun di alam yang berikutnya..
Jika saja Rahmat dari Sang Pencipta Mengantarku ke SurgaNya,
Maka aku kan meminta Dia mencipta Manusia yang seperti kamu....?

by bkn pujangga

Cinta Musafir



Korelasi cinta menggapai angan sepoi
lamunan kasih menggebu diantara otakku yang bergelayutan bersama saraf – saraf
rindu dan terbuai akan virus yang mematikan
diantara jantung yang berdegup seraya
berhenti, ku pancarkan hasrat memeluk cita yang selama ini bersarang dalam
hayal.

Indahnya hari berjalan dengan awan yang
selalu tersenyum, mentari itu menyambut pada bunga yang tumbuh, langkah
menyusuri segala arah mencari debu tiada
henti tandang dalam tubuh yang dekil ini, kerinduan ini gelegarkan jagat nyawa melayang dalam sekotak TV, tangisan
terdengar dari kejauhan terbang cerita berita.

Rerumputan kering terlihat di belakang
sekolahku, aroma syahdu ayat – ayat cinta bergelayutan diantara embun rambut
kepala, dalam sekejap, mata ini kerangka masa membahana dalam padang pasir
hamparan doa, tubuh ini merasa lemah tuk gapai cinta sang pujangga, otot – otot
dalam tubuh mulai mengendur seakan dunia ini menghentak seisi jagat raya,
memblokir, menerawang bersama awan putih dari surga, apakah manusia menerima
kenyataan tanpa adanya kesimpangan dan keraguan, pegangan itu telah dibawa oleh
kasih cinta sang kholik sebagai wahyu yang Maha dahsyat dari sang pencipta alam
jagat raya ini.

Alangkah damai bidadari itu menunggu
pada insan yang telah memperjuangkan Iman dan Keyakinan pada sang kholik,
pancaran ibadah berbajukan nurani Islam, shahadat sebagai aliran darah , sujud
dalam taqwa, mati bersama senyum keikhlasan menunggu ridhoNya.

Insan antara adam dan hawa selalu
bersama sebagai potret awal kehidupan dimana cinta itu hilang melayang turun
kebumi terpatri tergoda makhluk kuldi, kini kita sandarkan tembok baja pada
hembusan nafas dzikir pada Ilahi, tertunduk menggapai khusnul khotimah cinta
pada akhir kehidupan, bertandang dan menjamu seluruh jiwa pada sang cipta.


Ashhaduallailahaillallah, dunia ini
mulai sakit entah kapan nafas kita di ajak bermain ke alam akhirat oleh
malaikat maut yang selalu menemani hidup manusia,………..

Kini aku menunduk menangis bersama dosa
dosa ampunkan insan yang membaca coretan hati sang musafir cinta.


Awan yang memutih itu menyapa dengan segala fana menggapai angan memberi salam dalam
kewajiban sang makhluk mengenakan pakaian hati yang kan disirami nada
instrospeksi hingga jiwa tertutupi dengan pakaian kamilin, syair tak beri
kesejukan dalam rona kegundahan iman hanya satu kuinginkan bacaan embun
penyejukan dalam ruhaniyah Al-Qur`an yang suci, jalan itu terus berubah bersama
roda perputaran zaman yang menggelitik bulu roma tubuh dekil dengan kayuhan
angin menggelombang samudra nun jauh, kekuatan kilat tak bisa mengalahkan akan
cinta sang Musafir pada Tuhannya, Tuhan Musafir tak pernah ada dan entah dimana, namun....!
Nuraninya terus berdenyut berteriak kamu diciptakan dan siapa yang mencipta ?

Langkah musafir terus bergontai menyusuri jalan – jalan yang berkelok, debu beterbangan bersama angin menyusuri lorong – lorong gelap, hanya Iman dan Islam yang
menerangi jagat raya kolbu, darah bergejolak menghentakkan berdemo meminta
ampunan atas jasad yang tak kenal lelah menemani ruh yang menunggu pertanggung
jawaban bersama timbangan akhirat.

Tangan – tangan kan berbicara yang telah menemani Musafir
bermain di alam dunia. Musafir bersenda gurau pada baju rombengnya, kenapa
engkau erat memeluk tubuhku yang sudah renta, bumi sebentar lagi akan mengunyah
segala yang ada dalam tubuh hingga tulang yang terus berdzikir atas ciptaan-Nya,
dan cacing berpesta menikmati makanan
dalam alam kubur. Cinta Musafir pada Tongkat Keyakinan Nurani mencari tuhan
hingga mulut berhenti mengalunkan nada istighfar atas-Nya. Mata menatap segala
penjuru antara hitam dan putih menyatu menuju pada kalamNya, entah kapan, dunia
mengalunkan kesucian alqur`an yang

kan membawa Musafir pada kepastian
perjalanan dengan tiket Khusnul Khotimah. Tak terasa air hujan turun deras
berlinang dari mata menghiasi wajah kepolosan akan sejuta impian bersama
bidadari surga, namun terhenti kala badai mengernyit kegundahan dalam lamunan
yang tak mungkin, bangkit tertatih – tatih kepala menongak sambil mengalunkan
nyanyian cinta bersama sholawat pada Insan kamil.

Angkara
menerjang bersama puyuh, merpati terus terbang melayang dalam kesetiaan, sang
malaikat kepakkan sayap pada bumi yang sedang dipijak oleh berjuta – juta
makhluk, kian hari mentari malu menyinari bumi, jam alam kokokan ayam jantan
saling sahut menyahut bangun insan jalani hidup, entah dosa atau pahala yang
terkantongi, hati Musafir menjerit kuatkah diriku jalani seribu tahun lagi
ataukah detik kedepan malaikat menjemput dengan segala senyum dengan bidadari
menyapa mengajak kedunia entah berantah, kini perjalanan hari berbeda roda
takdir menyelimuti, alam berubah jadi hitam, nafas mulai enggan berhembus,
jantung tak lagi menari bersama aliran darah gerak langkah mulai terhenti kaki
tak kuat menahan asa. Tertunduk sujud berdoa hamparan permadani menggelagar
bersama tangisan haru, memang hari ini sudah terjadwal dalam luh mahfudz aku
harus bertemu malaikat dan bidadari yang sudah lama menanti.

Baju rombeng itu menangis, tongkat itu bersedih, kala sang tuan pergi mengikuti arus
buku harian Tuhan sang Musafir, namun cinta tak pernah hilang karena kuikat
sekuntum bunga dzikir dalam hidupku, kuhias dalam ruangan yang penuh istighfar
bersama nafas dan aliran darah. Dan mulut bersedih terus berucap shalawat atas
insan kamil, dan akhir perjalanan mulut Musafir tersenyum memberi salam pada
makhluk dan musafir – musafir lainnya dengan tersedak akhir nafas terucap
Wassalamu`laikum Warahmatullah HiWabarokatuh, selamat jalan kawan dari dunia
yang tak terkontrol hanya akal dan Iman Islam yang terikat sekuat baja dalam
Nurani Hidup.....!

by bkn pujangga

Nuansa Bumi




Cinta nuansa bumi hijau memberi gairah hidupku, membeningkan mataku
Deruan sungai terasa mengaliri nadiku, akupun terdesir merinding sejuk
Buaian manja udara pagi diantara kehidupan semesta yang menyambut hari
Lukisan indah alam telah merajut jiwa dan hasratku terpadu dikharismanya
Aku mengendus kunci rahasia alam, menggetarkanku lalu aku jadi lunglai

Ah, tinggal bersamaku! suara-suara bisikan merdu alam membujuk jiwaku
Angin bergembira menampar wajahku, dan menghempaskanku dengan damai
Aku terguling-guling dihamparan mutiara hijau rerumputan yang baru lahir
Meraba-raba mutiara hijau, dan kuusapkan butiran embunnya dipipiku yang halus
Mataku membasah, jemariku melemas, kurasakan sentuhan nirwana menembus tulang
Warna-warna bintang malam hari, merambat keemasan menyentuh cintaku
Salam kagumku untuk keindahan kedipanmu tanpa lelah menghias langitku

Ah, terlalu manis! tak akan kusia-siakan kejoramu yang melilit kalbuku
Andaikan engkau mengerti, jadilah kapalku kelak dan aku kapten setiamu kelak
Berlayar dari bumi ketempat bidadari, dan berlabuh didermaga kasih warna pelangi
Mawar-mawar pelangi akan menjemputku dengan harum nafas hangatmu
Akan kusentuh warna cantik cintamu, lalu memenjarakannya didalam jiwaku



Mawar yang tercantik, lembut, dan manis berbisik wangi kedaun telingaku
Raihlah lautan mawar pelangi cintaku dinirwana!
Tambatkan jiwamu dalam pelukku yang tiadak batas!
Nada-nada tulusnya telah menjerat hasratku, akupun pasrah terpedayakan
Berebah sambil merenungnya, halusinasi misteri adanya kehidupan kekal

Bayang-bayang kedamaian melenggang mengitari impianku nan menggoda
Sambaran kilatan cahaya suci menerangi ruang kamar perasaanku yang gelap
Akhirnya kuncup kalimat merekah dari dalam dinding ruas-ruas jantung hatiku
Jiwaku menorehkan pesan, ketika kelak waktuku tiba lepas dari ragaku
Jangan tidurkan tubuhku dilubang gelap galian tanah-tanah merah

Relakan bangkai tubuhku menjadi abu dalam pelukan panas merah api
Biarkan segenggam abu dari tubuhku tersebar dalam asuhan kemilau perak matahari
Jangan tangisi ketika abu-abu itu singgah lembut menyentuh dedaunan dan tanah
Kelak jiwaku disana akan tersenyum manis, menentram didunia yang fana.



katakan.. bagaimana caraku hidup tanpamu..
jika engkau pergi meningalkanku..
bagaimana bisa aku bertahan tanpamu..
aku butuh kamu dalam pelukanku..
aku butuh tanganmu untuk selalu menggegamku..
aku butuh matamu untuk setiap semangatku..
aku butuh tawamu untuk setiap detik keresahanku..

katakan padakau..
bagaimana jika aku harus hidup tanpamu…
aku tak akan pernah tau bagaimana caraku bernafas..
aku tak akan pernah tau bagaimana caraku untuk bertahan..
beritau aku .. bagaimana caraku jika harus hidup tanpamu..

Tak bisa ku dustai nurani ..
Bila hari-hariku nanti ku lewati tanpamu
Bila sayangmu tak ada lagi untuk aku ..Maka
tak akan ada lagi matahari di langitku..
tak akan ada dunia lagi bagiku..
dan tak akan pernah ada cinta dalam hidupku..
kamu telah mengambil semua yang nyata dalam hidupku..
segalanya.. !

by bkn pujangga