Kamis, 23 Desember 2010

Mimpi



Guratan nasib terukir di dalam sebuah lembaran
Sunyi, senyap, sedih, silih bergantian
Menghiasi hari seperti mengolok
Membuka sisi kelam di sebuah kehidupan

Tak punya arti jiwa ini tercipta
Berkelumit dengan indahnya dunia fana
Tertawa terbahak melihatnya
Tangisan rintih jiwa menjalaninya

Kemanakah jiwa harus pergi
Meninggalkan hari-hari yang sepi
Menjalani hidup yang lebih berarti
Mengusir rasa sedih yang ada di hati
Tuk menjadi hamba yang lebih diberkati

Cinta datang membawa arti tenang
jiwa hilang telah kembali pulang
kenangan kelam tersibak oleh cahaya terang
seakan surga yang tiba-tiba datang.



Apakah semua itu buah dari sebuah mimpi
apakah semua yang telah kulalui ini hanya sebuah ilusi
mimpikah jiwa yang ingin mempunyai arti

oh, sungguh pantaskah meratapi sebuah mimpi
Kekosongan yang belum sempat dijalani

Namun akhirnya satu hal yang hamba sadari
Jiwa dicipta bukan untuk bermimpi, jiwa dicipta untuk mengejar mimpi
Membuat sebuah ilusi mempunyai arti
Sampai datang panggilan ILLAHI

Catatan Sang Wanita




Mampukah aku menjadi seperti Siti Khadijah...?
Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah,
Hartanya diperjuangkan ke jalan fisabillah,
Penawar hati kekasih Allah,
Susah dan senang rela bersama.

Dapatkah kudidik jiwa seperti Siti Aishah,
Isteri Rasulullah yang bijak,
Pendorong di kala kesusahan dan penderitaan,
Tiada sukar untuk dilaksanakan.

Mengalir air mataku,
Melihat pengorbanan puteri solehah Siti Fatimah,
Akur dalam setiap perintah,
Taat pada abuyanya yang sentiasa berjuang,
Tiada memiliki harta dunia,
Layaklah ia sebagai wanita penghulu syurga.

Ketika aku marah,
Inginku intip serpihan sabar,
Daripada catatan hidup Siti Sarah.
Tabahkah jiwaku,
Setabah umi Nabi Ismail,
Mengendong bayinya yang masih merah,
Mencari air penghilang dahaga,
Di terik padang pasir merak,
Ditinggalkan suami akur tanpa bantah,
Pengharapannya hanya pada Allah,
Itulah wanita Siti Hajar.

Dapatkah aku mengikut jejak Siti Rahmah,
Permaisuri Nabi Ayyub,
Pasrah dengan dugaan Tuhannya,
Walau pernah tersungkur ke dalam jerat syaitan,
Namun ia kembali,
Kerana iman yang kuat,
Telah dijanjikan syurga adalah balasannya,
Bahagia adalah miliknya.

Mampukah aku menjadi wanita solehah?
Mati dalam keunggulan iman,
Bersinar indah, harum tersebar,
Bagai wanginya pusara Masyitah.

kry bukan pujangga

Semua Sama




Presiden, Sutradara, Direktur, Penulis, Seniman, org kaya, org miskin,
Apakah mereka alien...?

Mereka itu adalah manusia biasa sama seperti kita2 ini.
Punya 1 kepala, 2 mata, 2 kaki , 2 tangan, 1 tubuh, 1 mulut, 1 hidung...!

Makin lama kesini makin aku ketemu banyak orang dan berbagaimacam kalangan. Mereka semua sama.
Pernah bertemu dan bertukar pikiran dengan berbagai macam orang (dr tukang becak sampai orang terkenal) mereka semua sama

Manusia yang punya kelebihan dan juga kekurangan.
Manusia yang ingin dicintai dan dimengerti.
Manusia yang punya pemikiran, dsb.



Ya mereka hebat, tapi mereka semua sama seperti kita.
We are human being.

Allah tdk melihat penampilan fisikmu & tidak pula kepada rupamu, tetapi Allah melihat hatimu (HR.Muslim).

Dan Allah mengetahui apa yg tersimpan dlm hatimu (QS.33:51)



Aku adalah Kamu

"Tanah yg kuinjak sama sepertimu,
langit yg kujunjung sama sepertimu.
Aku tak berbeda darimu..
Udara yg kuhirup, kau hirup juga.
Dingin yg kau rasa, kurasakan sama.
Kita tak terlihat beda..
Matahari takkan terlihat beda dari tempatmu.
Bulan dan bintang akan terlihat sama dari tempatku.
Memberikan cahaya yg sama untuk kita.
Kendati doa terucap beda,
anugerah yg sama kita terima.
Aku adalah kamu, manusia yg sama....!

by Bukan Pujangga

Rabu, 22 Desember 2010

Senyum Menyapa



Senyum Menyapa


Aku hanya ingin menyapamu dengan memanggil namamu
Mendengar cerita tentang kisah impianmu yang telah pilu
Aku tak akan mengeluh dihadapmu karena aku ada untukmu

Tak kuhiraukan gunda dihatiku
Kubiarkan telingaku mendengar semua isi hatimu
Tanpa kau tau apa isi didalam hatiku

Taukah kamu melihatmu tertawa adalah sebaris bahagia untukku
Pilumu adalah sedih yang mendera didadaku
Aku akan rela untukmu mendengar semua eluhanmu
Meskipun akhirnya engkau bukanlah milikku

hari-hari ku yang sepi…
telah membawa hidupku dalam kesedihan..
canda tawa yang dulu ada..
telah terbawa jauh oleh rasa cintaku padamu…
aku hanya bisa berharap..
kau akan tau dan mengerti…
memahami dan merasakan apa yang aku rasakan..
dan membawa kembali senyuman untuk ku…
senyuman yang dulu kau bawa bersama cintaku…

tapi ada satu hal yang selalu aku takutkan…
kau tak pernah merasakan apa yang aku rasakan..
kau hanya menganggapku sebagai teman..
itu yang selalu membuatku merasa sepi…
tak mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini…
rasa cinta yang terpendam di dasar lubuk hati..

itu yang selalu membuatku tersenyum saat kau bahagia..
melihat kau bersama dia yang kau cintai…
dan dia itu bukan aku…
mungkin memang aku tersenyum bahagia…
tapi sebenarnya hatiku menangis…
menyadari bahwa cintamu bukan untuk ku…
tapi aku akan tetap tersenyum bahagia…
karna bahagiamu bahagia ku juga….

kala sepi menyayat hati
kelelahan jiwa menemani
tertatih-tatih langkahkan kaki
pijak jalan kehidupan penuh duri
raih mimpi tak bertepi
gapai cinta tak pernah bermakna

senandungkan kidung asmara
urai dalam bait-bait derita
debur ombak kehidupan
hantam karang keteguhan hati
mencoba tegarkan jiwa
dari cerita cinta penuh luka

ku akui begitu banyak cinta
yang datang dan pergi
tapi tak satupun cinta yang mampu
menyemaikan segala rasa dikalbu
yang telah gersang dan mengering
walau bibir selalu tersenyum
tapi hati menangis pilu
dihimpit dilema yang membelenggu

jangan cintai………
karena tak pantas untuk dicintai
jangan sayangi……..
karena tak pantas untuk disayayangi
jangan berharap……..
karena tak pantas untuk diharap
biarlah semua berjalan
mengikuti alur roda kehidupan
biarlah semua berlalu mengikuti
kehendak yang MAHA TAHU.....!

by Bukan Pujangga

Mencari Cahaya



Aku adalah kegelapan
sendiri dalam gelap
Berlari dan berlari terus mencari secercah cahaya
Yang sanggup menerangi ruang hati ini
Jalan yang terjal, tajam dan berliku
Biarlah kutempuh
walau terasa sakit

Sakit di jiwa dan ragaku, aku tak peduli
Karena aku seorang hamba yang tiada arti
Terus kuberlalu mencari kebenaran yang hakiki
Hingga jalanku terseok - seok, kakiku pincang mataku buta
Tanganku buntung, telingaku tuli

Biarlah semua itu aku tak peduli
karena aku hamba yang tiada arti
Walau sakit dan perih aku tetap tak peduli
Asalkan aku bisa menemukan cahaya itu
Cahaya menuju keabadian yang hakiki

Yaa Robbi...
Wahai Tuhanku
Tunjukkan aku jalan lurusmu
Karena bagiku
Seteguk rahmatMu akan menghapus dahaga jiwa yang kering ini
Secercah hidayahMu menetapkan imanku
Namun...hatiku yang pincang
Hingga aku tak kuasa berjalan dijalan - Mu


Hatiku buta... yaa Robbi
Hingga aku tak bisa merasakan indahnya ma'rifat kepada- Mu
Hatiku buntung... Hancur…
Dalam berdoa pun aku tak bisa menengadahkan kekhusuan dan Ketulusan
Hatiku tuli… Pekak…
Hingga aku tak bisa mendengar arah dimana petunjukMu Menuntunku

Duhai Rosululloh…..
Yaa Sayyidii... Yaa Rosululloh...
Aku umatmu yang tiada arti
Hatiku buta sehingga semua menjadi gelap
Kuyakin engkau mendengar rintihan hati ini
Kuyakin engkau merasakan kepedihan hati

Perihnya jiwa jika jauh dari sang Pencipta alam raya
Atas seizin Allah,
Angkatlah kami Yaa Rosulullah, dari jurang jahiliyah ini
Walau kami tahu, betapa kotornya diri ini
Betapa hina - dina- papah terluka
karena maksiat yang berlarut - larut

Namun,setetes syafaatmu yaa Rosul
Adalah penghapus segala gundah dan resah
Setitik air mata darimu yaa Rosul
Adalah embun ditengah padang yang gersang

Yaa Ayyuhal Ghoutsu...
Bimbing...bimbing dan didiklah kami
Hingga kami menjadi manusia yang berjiwa manusia
Manusia yang sebenarnya bukan imitasi belaka
Kuyakin , engkau merasakan sakit yang kurasakan
Engkau turut prihatin pada diri ini, jiwa yang buta ini

Maka tolonglah kami
Arahkan pancaran Nadroh, radiasi batin pada jiwa yang hina ini
Sehingga aku bisa bangkit dari kehancuran yang berlarut - larut ini
Bangkit dari kedholiman dan kekufuran
Sejauh ini telah kulihat cahaya itu
Namun begitu sulit untuk meraihnya, karena aku tiada daya

Ya Sayyidi…..Yaa Rosululloh...
Yaa Ayyuhal Ghoutsu...
Kami memang bukanlah orang yang mulia
Kami tidaklah pantas mendekat kepada engkau, apalagi mencintaiMu
Namun bagaimanapun juga
Seperti apapun diri ini
Sehina dan sehancur apapun diri ini
Dan sebesar apapun dosa dan kerendahan kami

Namun kami tak bisa ingkari
Dalam palung hati yang terdalam walau hanya setitik
Kumasih mengharap setitik kasih sayangMu Yaa Alloh…
Kujulurkan lidahku walaupun bagaikan anjing yang kelaparan dan kehausan
Kunanti setetes syafaat dan nadrohMu
Yaa Rosululloh.. Yaa Ghoutsi hadzazaman…

Tengoklah kami
Walau aku bukan manusia lagi
Namun, rasa sakit ini
Rindu dan cinta akan ketentraman jiwa
Dalam naungan agama dan perjuangan yang suci nn mulia ini
Pastilah terobati.

Thank's to Bukan Pujangga

Jumat, 17 Desember 2010

Matahari dan Bunga





Matahari dan Bunga


Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.... Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia Dan pria berkata ingin menjadi matahari. Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga...!

Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari....!



Wanita berkata ingin menjadi Phoenix... yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari, dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari....!

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah tiga kali... namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari, tanpa mau ikut berubah bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari....! Pria merenung sendiri dan menatap matahari.



Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga agar ia tumbuh, berkembang... dan terus hidup sebagai bunga yang cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut Kasih..... yaitu memberi tanpa pamrih. Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari..... agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan, siapakah yang ingat kepada matahari.... Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan... dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut.... Ini disebut dengan Pengorbanan... menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.



Saat wanita jadi phoenix yang dapat terbang tinggi, jauh ke langit bahkan di atas matahari... Pria tetap selalu jadi matahari agar phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan mencegahnya. Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix. Matahari selalu ada untuk phoenix kapan pun ia mau kembali walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain selain phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya..... Ini disebut dengan Kesetiaan..... walaupun ditinggal pergi dan dikhianati, namun tetap menanti dan mau memaafkan.

Untuk para wanita.... Siapakah Matahari yang ada di dalam kehidupanmu....Bila engkau sudah menemukan dan melihat Matahari dalam kehidupanmu.....pergi... lihat dan jangan pernah meninggalkannya.

karya Bukan Pujangga

Wanita Pedamba Surga




Pedamba Surga

Pesona akhlakmu bagai mutiara yang berkilauan
Halus tuturmu menggambarkan pribadi yang santun
Kecantikan hatimu laksana kapas tanpa noda
Kesejukan aura jiwamu seperti bidadari syurga
Kau hiasi dirimu dengan bingkaian akhlak islami
Semakin berwibawa karena auratmu terhijabi.

Saat wanita lain bergelimang kesenangan semu
Menari-nari di atas lantai dansa
Menenggak arak dalam gelas-gelas kristal
Engkau justru mengurung diri
Mentafakuri kehidupan akhirat yang masih ghaib
Mengembara dalam pencarian jati diri.

Di saat wanita lain asyik memilih busana trendi
Sibuk memoles tubuh dan wajah
Berlomba memamerkan aurat mereka
Engkau justru tampil bersahaja
Dalam balutan gamis dan kerudung panjang
Engkau sembunyikan auratmu
Agar tak terjamah pesona kecantikan itu
Dari mata-mata lelaki jalang.

Di saat wanita-wanita lain tertawa lepas
Menikmati euphoria tanpa batas
Menebar cinta basi pada lelaki
Engkau justru menangis dalam sujud
Mendaki taubat dalam bukit tahajud
Mengemis ampunan pada Penggenggam nyawa
Menutup lisan dari bicara sia-sia.

Di saat wanita-wanita lain mengidolakan
Miyabi, Britney Spears, Celine Dion, Maddona
Engkau mengidolakan Khadijah, Maryam, Asiyah, Fatimah
Di saat wanita lain bangga aibnya terbuka
Puas jika namanya di puja-puja
Engkau justru mengasingkan diri dari gemerlap dunia
Merahasiakan kebaikan yang kau lakukan pada sesama
Karena takut jatuh pada perbuatan riya’.

Di saat wanita-wanita lain menghabiskan waktu di plaza
Menghamburkan materi dengan sia-sia
Engkau justru menghabiskan waktumu di mushola
Menguatkan zikir dan memuja asma-Nya.
Merenda istigfar di atas sajadah cinta.

Di saat wanita-wanita lain hanyut dalam pesona zaman
Bercengkerama liar dengan segala kemewahan
Sibuk memuja artis-artis idaman
Engkau justru sibuk mengkaji ilmu
Mendakwahkan agama Islam tanpa ragu
Berjibaku dengan segala kesulitan
Meneriakkan kalimat jihad militan.

Di saat wanita-wanita lain sibuk menenteng majalah erotis
Menggumbar gosip sesama secara sadis
Engkau justru teguh pada Al-Qur’an dan hadis
Yang kau jadikan pegangan hidup
Agar iman di dadamu tidak redup.

Wanita pendamba syurga…
Agungnya akhlakmu berselimut mutiara
Pada rahimmu kelak generasi-generasi agama
Akan Allah amanahkan
Engkau calon madrasah pertama
Saat mujahid-mujahid terlahir di dunia.

karya Bukan Pujangga

Roda Kehidupan





Roda Rona Kehidupan


Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia, tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.



Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei....semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.



Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

Sahabat, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.



Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Teman, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu...!

Sebuah karya Bukan pujangga

Jumat, 06 Agustus 2010

UKM


MANAJER PRODUKSI UKM

Di hadapan Nanang--yang datang terlambat siang itu--telah bersiap Kaji Jamal, Kang Arip dan Pak Gini yang sejak pagi ternyata sudah menungguinya!

"Oke Bapak-Bapak--langkah pertamanya, kita buat master sample item-itemnya dulu dari order baru kita itu," kata Nanang--tanpa basa-basi, membuka pertemuan.

"Setelah jadi, tolong Kang Arip sekalian dibuatkan jigmal komponennya. Jangan lupa ukurannya dilebihkan enam belas mili yang dua muka, sedang sisi sampingnya cukup lima mili saja. Itu penting Kang, soalnya kita nanti pakai kayu kampung, agar tetap bisa dapat ukuran presisi komponen jadinya setelah keluar dari kiln dry chamber, diplanner dan diamplas," kata Nanang, menjelaskan detail tehnisnya. "Hubungi pengrajin yang biasanya membuat komponen dengan standar kualitas kita".

"Baik Mas," kata Kang Arip, menyanggupi.

"Untuk Pak Kaji," kata Nanang, kali ini ditujukan ke Kaji Jamal, "dana operasional untuk proses awal produksi, tolong segera disiapkan".

"Kira-kira berapa Mas?" tanya Kaji Jamal yang menjadi pemodalnya. "Sudah Saya buatkan cash flownya Pak Kaji terperinci. Nanti Saya berikan print-printnannya," jawab Nanang.

"Untuk proses finishingnya, kapan bisa dimulai Mas?" tanya Pak Gini--tukang finishing itu, menyela.

"Setelah komponennya diukir Pak, bisa langsung diamplas dulu," jawab Nanang.


Sesaat Nanang mengamati raut ketiga koleganya itu dalam-dalam. Moga-moga saja mereka sudah paham dengan pembagian kerja yang sudah Saya atur tadi, kata Nanang dalam hati. Namun, demi memastikannya,"Bagaimana Bapak-Bapak, sudah paham 'kan semuanya?"

"Paham Mas," jawab ketiganya hampir serempak.

Karena sudah dianggap selesai, mereka kemudian membubarkan diri--meninggalkan ruang pertemuan itu, kecuali Nanang dan Kaji Jamal yang memiliki agenda lanjutan.

"Saya sudah mendapatkan anak SMK Mas--perempuan, baru lulus tahun ini," kata Kaji Jamal, membuka pembicaraan. "Besok dia sudah bisa bekerja di sini dengan kita".

"Terima kasih Pak Kaji," kata Nanang nampak senang mendengarnya.

"Tapi terus-terang--jika boleh tahu alasannya, kenapa Mas tidak mencari sekretaris yang sarjana saja, 'kan pendidikannya jauh lebih tinggi?" tanya Kaji Jamal membuka uneg-unegnya.

Mendengar pertanyaan koleganya itu, jenak Nanang tak langsung berkata-kata dan hanya menyungging senyum.

"Suatu saat Pak Kaji, tetap kita butuh kok sekretaris yang berpendidikan sarjana. Hanya saja mengingat perusahaan furniture kita yang baru berdiri ini masih berskala kecil dan manajemen administrasinya pun juga belum terlalu rumit, cukup lulusan SMK saja yang kita pekerjakan di samping gajinya lebih murah," jawab Nanang, menjelaskan.

"Soal kemampuan," lanjut Nanang,"Pak Kaji tidak usah kuatir. Namanya saja sekolah kejuruan, pasti lulusan SMK sudah dibekali ilmu ke sekretarisan seperti akutansi, komputer, bahasa inggris dan sejenisnya meski mungkin ilmunya tidak sekomplit yang didapat sarjana. Intinya efisiensi tepat guna Pak Kaji. Toh pekerjaannya nanti juga langsung di bawah kontrol Saya. Jadi--seandainya terjadi kesalahanpun, bisa langsung Saya koreksi," jawab Nanang berpanjang lebar, menjelaskan.

"Saya sudah mengerti Mas," kata Kaji Jamal itu akhirnya, tak lagi mempertanyakan.

Kemudian--setelah dirasa cukup pembicaraannya, kedua kolega itu lalu meninggalkan ruang pertemuan perusahaan di waktu mendekati pukul setengah empat, ke rumah masing-masing untuk berlepas lelah bersama keluarga.

Dari Bpk Himawan Noorkanji
Jepara, 29-30 Juli 2010

Persijap



PERSIJAP

Ramai juga penontonnya untuk sesi latihan hari ini. Parkiran motornya saja—yang di depan gerbang utama stadiun itu—sudah terderet penuh hingga empat baris! takjub Rama dalam hati. “Dua ribu Mas,” kata tukang parkir padanya, meminta bayar di muka.

Kemudian—usai memarkirkan kendaraannya, Rama langsung menuju ke tribun VIP lewat jalan samping kiri gerbang utama stadiun. Mana dia ya? tanyanya dalam hati. Agar lebih mudah terlihat, sengaja dia memilih tempat duduk yang berada ditengah-tengah tribun tepat di samping pagar merah pembatas.

“Aku sudah di tribun VIP nih, di tempat yang banyak anak-anaknya,” pesan sms yang di kirim Rama menandai keberadaannya. Dan tak sampai sepuluh menit, “Hai!” teriak perempuan dari pinggir lapangan sembari melambaikan tangan padanya.

“Sudah lama di sini?” tanya perempuan itu, menyusul dan duduk di sebelahnya. “Belum, aku baru datang kok,” jawab Rama. “Eh, tadi kamu kok bisa masuk di area lapangan?”

“Tadi, waktu menunggumu di parkiran, aku ketemu Mas Anis—yang jadi pengurus klub ini, terus di ajak masuk,” jawab perempuan itu dengan mata yang terus terfokus pada para pemain di lapangan yang tengah berlatih.

Maniak bola juga perempuan ini, pikir Rama. Mulai dari pelatih lama klub yang pindah ke luar daerah, datangnya pelatih baru pengganti yang dari luar negeri, para pemain inti yang belum di kontrak, sampai para pemain inti yang baru kawin beberapa minggu itupun semuanya dia tahu! Keren!

“Seharusnya pihak klub segera membuat kontrak baru bagi para pemain intinya sebelum kontrak lama yang berlaku setahun itu habis. Kalau terlambat, bisa-bisa mereka akan berpindah ke luar daerah jika mendapat tawaran yang lebih baik,” cerita perempuan itu, nampak prihatin dengan kondisi klub.

“Kalau aku melihat beritanya di koran-koran, klub ini kan memang sedang kesulitan keuangan terutama sejak dana dari APBD yang sepuluh milyar itu dihentikan?” kata Rama, mencoba mengingatkan.

“Iya juga sih, makanya pihak klub dengan kepengurusannya yang baru sekarang sedang membuat unit-unit usaha untuk menambah pemasukan. Pemkab juga ikut membantu memberi pemasukan klub melalui biaya yang ditambahkan dalam pembuatan STNK, ongkos parkir dan lain-lain,” tanggap perempuan itu memaparkan infonya. “Jika memungkinkan,” tambahnya, ”menurutku pihak klub juga seharunya bisa melibatkan perusahaan-perusahaan furniture yang banyak berdiri di sini untuk berpartisipasi dari sisi dana”.

“Wah, kalau itu sih aku tidak yakin,” kata Rama, ganti menanggapi. “Tahu sendiri ‘kan kondisi sekarang di mana-mana sepi. Hampir merata perusahaan furniture mengalami penurunan order bahkan tak sedikit yang bangkrut. Jadi—kalau toh masih ada keuntungan, mereka pasti menggunakannya untuk mempertahankan aktivitas produksinya ketimbang kepentingan yang lain,” kata Rama lagi, berpendapat.

Perempuan itu hanya mengangguk saja mendengar pendapat Rama. Nampak enggan dia membantah perkataan temannya itu yang seprofesi dengannya sebagai praktisi furniture di Kota Jepara.
“Jam lima, sudah selesai tuh latihannya. Yuk pulang,” ajak Rama demi melihat para penonton yang telah bersiap meninggalkan tempat.

“Oke”.
Kemudian—setelah berderet bersama penonton lainnya yang antri menuju pintu keluar—Rama dan perempuan itu menuju tempat parkir mengambil kendaraannya dan langsung pulang, beriring cerahnya suasana sore itu yang tak menyiratkan hujan.

thank's to Bpk Himawan Noorkanji
Jepara 29 Juli 2010

Pekerja



MALAYSIA
by Bpk Himawan Noorkanji
31 Juli 2010

Sudah menjadi resiko Marno--yang bertiket pesawat kelas ekonomi tujuan malaysia--setiba mendarat di KL airport, ikut ber-antri panjang dengan penumpang lain yang kebanyakan TKI itu tengah diperiksa satu-persatu passportnya oleh petugas. Namun--yang tak pernah disangkanya, pihak imigrasi tiba-tiba menahannya tanpa konfirmasi ketika giliran petugas bandara itu memeriksa dokumen yang ditunjukkannya!

"Silahkan menunggu di sana Pak," kata petugas keamanan yang mengawal Marno itu 'ramah', sembari menunjuk ke arah bangku-bangku berjajar di suatu ruangan yang di dalamnya ternyata telah banyak orang-orang--dari Cina daratan terutama--bernasib sama. Apa kesalahanku ya, juga mereka? Bingung Marno bertanya sendiri, dalam hati.

"Kenapa bisa di tahan di sini Bang?" tanya laki-laki itu--entah datang dari mana, tiba-tiba menghampiri dan duduk disebelah Marno. "Saya tidak tahu Bang. Saya langsung ditahan saja oleh petugas setelah pemeriksaan passport Saya," jawabnya.

"Abang Orang Melayu ya?" tanya laki-laki itu lagi. "Bukan Bang, Saya Orang Indonesia dan ini pertama kalinya Saya ke Malaysia," jawab Marno, berterus-terang.

Sejenak laki-laki itu mengamati Marno dengan pandangan tajam. Lalu, "Tujuannya kesini bekerja atau ada keperluan lain Bang?" tanya laki-laki itu lagi, lebih jauh. "Bekerja Bang. Saya dikirim ke sini oleh bos Saya--Orang Malaysia yang punya perusahaan furniture di Indonesia--sebagai desainer di showroomnya yang berada di daerah Selangor sana," jawab Marno terbuka.

Dengan runut, Marno mulai bercerita tentang alasan bosnya yang menerbangkannya ke negeri jiran itu untuk membantu tim marketing di Kuala Lumpur, mendesain barang-barang langsung ke rumah dan apartemen para pemesan, demi meghindari kesalahan teknis seminimal mungkin yang kerap merugikan pihak perusahaan gara-gara mengganti barang atau bahkan dibatalkan ordernya akibat spesifikasinya yang tidak sesuai.

Entah mengerti atau tidak, laki-laki itu nampak serius menyimak setiap perkataan Marno hingga tak terasa telah dua jam lebih waktu Marno mengakhiri ceritanya.

"Saya paham alasannya sekarang kenapa Abang ditahan. Punya nomer telpon perusahaan bosnya yang di Selangor?" kata laki-laki itu sembari bertanya.

"Ada Bang, di kartu nama. Sebentar Saya ambilkan," jawab Marno, sambil membuka tas ranselnya. "Ini Bang, kartu namanya. Ada alamat lengkap dengan nomer telponnya tertulis di situ".

"Saya pinjam sebentar ya Bang kartu namanya. Saya akan bantu telponkan ke nomer ini," kata laki-laki itu, usai membaca kartu nama yang diberikan Marno.

"Silahkan Bang".

Dengan membawa kartu nama yang diberikan Marno, laki-laki itu lalu beranjak menuju ke salah satu ruangan tempat para petugas imigrasi itu sibuk beraktivitas. Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu demi membantunya, sementara Marno hanya bisa berpasrah saja menunggu.

"Sudah Saya hubungi perusahaan bosnya, sebentar lagi akan ada yang menjemput. Jangan ke mana-mana ya Bang, tunggu di sini saja," kata laki-laki itu akhirnya keluar, mendatangi Marno lagi setelah hampir setengah jam berada di ruangan itu.

Lega rasanya, sukur Marno dalam hati. Kekuatiran dideportasi seketika hilang. Spontan kembali terbayang rencananya--di sela libur kerja--ingin melihat KLCC alias menara kembar, Genting Highland, Petaling Jaya alias Pecinannya KL dan tempat lain yang terkenal di negara itu.

Namun--terlepas dari kegembiraannya itu, rasa penasaran tentang alasan penahanannya yang seharusnya tidak terjadi itu--karena dia masih merasa dokumen yang dibawanya lengkap dan resmi--masih tetap menjadi pertanyaan yang memenuhi benak Marno.

"Mohon maaf jika petugas kami sudah menahan Abang di sini karena curiga melihat status visa di passport yang Abang punya berlevel "profesional", berbeda dengan penumpang yang bersama Abang tadi rata-rata "temporary employee" atau "employee"," kata laki-laki itu--ternyata petugas imigrasi yang tak berseragam, menjawab pertanyaan Marno.

"Apalagi," lanjut laki-laki itu, menambahkan, "penampilan Abang juga tidak meyakinkan sebagai "profesional" karena berpakaian casual dan bersandal".

Gelinya sendiri rasanya Marno dalam hati mendengar jawaban laki-laki itu barusan. Masalah penampilan rupanya, pikirnya yang baru tersadar--hal yang sering dianggapnya sepele, ternyata bisa menjadi sangat penting berkait status seseorang di tempat yang berbeda budaya.

"Sama-sama Bang, Saya sendiri juga salah karena telah membuat repot Abang dan petugas di sini. Saya juga berterima kasih karena Abang sudah membantu menghubungi bos Saya," kata Marno akhirnya nampak tulus, diujung pembicaraan.

Kemudian--setelah passportnya yang sempat ditahan itu dikembalikan--dengan diantar laki-laki itu, Marno segera meninggalkan kantor imigrasi bandara menuju ke tempat penjemputan di mana kerabat Bosnya telah datang dan tengah menunggu di sana.

Sebuah tulisan dari
Bpk Himawan Noorkanji

Jepara 31 Juli 2010

Jumat, 30 Juli 2010

Fantasy



I wish I still had the courage to love a pair of legs ...
Whenever a black sky not give me time. Sniff fragrant and during our lips locked, without a word ...Although it has been my fantasy...!
Yes, I still love you ...... Once and always so ...

always wanted me to walk with you, but never could
because it has limited ties all of my behavior
although sometimes you unfettered melancholy... Times I've come to the porch of your heart. Hoping for a second and then you come. However distanced from me but not your heart! If can I hope marries time, maybe this time your body can be hugged me tight. Although only an instant. Yes, just a snap!

I listened quietly humming again, when the longing for you more rapidly. faint sound of your guitar passages that far. I ran to embrace your body in my arms if only for a moment just to satisfy such melancholy hobbled ...

Restless overshadowed My idea, when the imaginary who danced my eyes, drift off briefly face-glazed eyes, which put me to sleep your beautiful in every hue. I wanted to release a raging desire who, like me, who feel nostalgic writhing in your heartbeat. Sense of who the more inflamed, soul who mesmerized by the enchanting view of sport. chestnut felt empty without a purpose. You're taking me back in a nostalgic reverie gray ...

a tear fell from the sky, whether it belongs to whom. dry and wet soil becomes moist. I see the rain from all the rain that gave birth to a slowly breaking the silence and stillness of my heart. improve cold melancholy this time. empty no man's land where .... I can not for sometime later

Time will bring me and you, someday ...
For you, I like the converging empty of content, such as fire wood who embraced, as always accompanied by deep-sea waves. If that time comes I'll Pin a twice-ring from your heart and my heart, so you know how much I love you ... from the first '

Let me here together silent. count every grain of rain, who freeze themselves. because I could not do anything when you're choosing ² passed, I was only able to freeze in addition to the silence.

let it be memorable stretches along the road who seemed to freeze, maybe you do not understand enough about rain degressive freeze yourself. I did not ask for anything and you know need to give your life to me and the silence ....

Pieces between porch worried. I could not in the room who swept the painful silence. And was screaming among the empty hearts, without you ...

There are a lot of longing for I give it to you. but these chains I lifted hard for. I ² day without you is lasting silence, eternal silence who, silent who hurt me. Injury ultra deep. unfortunately, this paper at dusk. I know, dusk will tell you. every day she ran into you. I know, you'll never come again ² my header, but it's not important. long as you know, because I do not see you anymore.

compliments for the song and the guitar, friends... forgive me ...Without you I'm fragile, I'm bored without you, I'm lost without you, I'm spiritless without you.
I do not want anymore without you ! ...I want every second with you. And is not it, without you ...I too fragile but though I was fragile in the step, soul and tears but the love in the soul of love was never tired of trying ... because love is to have you in the heart
love you is because we often separate woe
Leave me a piece just for you keep faith with a love do not let it fly into pieces

Quiet uninteresting, no missed who retire. No love who said hello. The wind came, star. Let us celebrate the day where silence is king!

Moon laughed, seeing me stare at a piece of me who your face sketched on canvas painted blue ...

Do not you realize? That have been creamed my time without rest, in order to overnight? Or should I kneel sky, only to be just once?
anyway...! Looking forget, ignore because ye have loved me the way I , sincerity how it leads me. Love do not let what we want to hold the grip nor we want to escape. Love is free. Loving God and was not a mistake!
So?

So am I wrong when love you ...Felicity most beautiful one I've ever had who is occupied with love in one heart .. crunchy one can hear your voice tonight, free laughter emanating even though the distance clear between us.
My heart pounded. My blood stream pumping. Throbbing pulse quickened.
Reverie faded, my loneliness is gone.
Who love you in my heart believe one thing adl finest who ever lived.
Miss you every second on overdue days to have a meaningful life.

Thank you, because you have more color who to obsolete papers.
Making a change of the rainbow faded gray.

I will always take care of you from afar ...
Why would I be jealous if only to make you stay away from me for what I suspect even if it only makes you miserable. suppose it to d'felt and not to impose d'alone ... so enjoy ...

When love is wounded
scavenge grief, sorrow dominate
boom between sobs and tears
I curled up in solitude without any sense of

... Desire is now turned into a whistle,
like slicing my veins one by one.
Could this be the end of.
that used to be the candle lights my heart?


At the point I asked, I would think it to death yes Life?
over time that would never shut let alone stop?
Or would miss only a parasite in the heart of blue?
Ah well to hell with taste, the devil just no sense!
Yes, that's it!


night angel without wings
I came back with a pile of words
and looks at you from a place
can you see
tell you with a million mantras
that I always love


I hope you feel
all the fatigue that I feel
from a control
that I was always tormented alone
and love is not....

my poems there and flowing with a sense of
not just words
if you do not believe it just ask the wind
because he is always accompanied quiet biting
like tonight

the biting cold in the morning so blind
the walls began to slow
starting to get cold
Give it up in my dreams then
dreams slowly began to settle
stab me from behind
in the quiet solitude
I killed the dream
and the necessity complete night
when I tried to close my eyes
lay resigned to soak in dreams tonight

I was sad that his own boiling
I walked back on a painful uncertainty
quiet again ... that's all I can
as well as the moon began to reluctantly

Rabu, 28 Juli 2010

Call Victory



In my Takbir I call Victory
In my hand I call There are blowing my breath in your work
In this wicked soul, there is hope to you begged You mighty God,
Regulatory affairs, Oft-forgiving, the great giver of all decisions
In Front of all this earth

My Rabb I love most
Lord who gave me a sense of love and affection
Rabb has mempertemukanku and he, the person I loved most
Please listen I begged

Keep him in bed and look after him
Keep him in and he said
Keep him in the attitude and behavior
Keep him in operation and interaction

Rabb my most perfect
Test whether what you give him now, on my beloved
Please God, hear this wicked servant pleaded
Please Relieve all his efforts,
Please facilitates all the work,
Please do not give him a serious difficulty,
Please help him in all his business,

Continue to be with him
Continue to have his side Keep existing
Continue to protect him

love and my love for him just to you God
because nothing can be more trust than YOU
God's goodness to you because no one can keep it better than you
destiny of my very best to you Rabb
because no one can set a better fate for him