Senin, 25 April 2011

Sebuah Asa





Sahabat, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Caranya sangat manusiawi (*hmmmm…atau mungkin hewani kali ye..hehehe*). Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Sahabat, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.

Sahabat, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada sahabat, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam....?

Aku ingin menulis cinta diatas langit
Sehingga semua orang yang menengadah akan menunduk dan kembali bersyukur
Aku ingin menyemai kasih didalam air
Sehingga orang yang tenggelam akan bangkit dan tidak berputus asa
Aku ingin mengukir sayang diatas cadas
Sehingga orang yang keras akan lebih peduli dan rendah hati
Aku juga ingin menganyam asmara di permukaan kapas
Sehingga orang yang lemah bisa menjadi kokoh dalam hidup

Namun aku hanya bisa menulis cinta diatas kertas
Yang mudah robek dan terbakar
Sehingga tidak semua orang merasakannya
Walaupun mereka berhak memilikinya
Walupun mereka ingin mengecapnya
Tapi kertas itu akan tetap menjadi usang
Bahkan pudar coretanynya
Sehingga cinta akan semakin samar
Seumur dengan kertas tua itu....?

by bkn pujangga

Kamis, 21 April 2011

Jika Penyesalan



Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.
Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.


Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Saat semua telah menjadi masa lalu
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)-- (Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.
Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)-- (Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua....?



Ya Allah
Apakah untuk Mengingat-Mu
Aku Harus Sakit Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Beribadah Kepada-Mu
Aku Harus Jatuh Merintih Tiada Berdaya Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Menggapai Cinta-Mu
Aku Harus Dinasehati Beribu-ribu Kali Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Mengingat Kematian
Aku Harus Sekarat di Rumah Sakit Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Mengharapkan Kasih Sayang-Mu
Aku harus Berbaring di Ruang Rumah Sakit untuk Beberapa Lama Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Mendapat Cinta Kasih-Mu
Aku harus Tertimpa Musibah yang Sedemikian Dahsyat Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Mengharapkan Ridho-Mu
Aku harus Menerima Pahitnya Rasa Hati ini Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Meningkatkan Kualitas Ibadahku Kepada-Mu
Aku harus Diterpa Dahsyatnya Cobaan Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Beramal Sholeh ?
Aku harus Harus Dimarahi oleh Orang Tuaku Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Larut dalam Naungan Kasih dari-Mu
Aku harus Mendengarkan Gigihnya Perjuangan Mereka Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Melangkah Kaki ini ke Rumah-Mu
Aku harus Selalu Diajak oleh Mereka ?

Ya Allah
Apakah untuk Menimbulkan Rasa Cinta Sejatiku Hanya Untuk-Mu
Aku harus Melihat Tangisan–tangisan Mereka Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Menginginkan Cahaya-Mu
Aku harus Merasakan Sakit yang Teramat Perih Disekujur Tubuhku Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Mengagungkan Asma-Mu
Aku harus Merasakan Sakit yang Teramat Sangat Menusuk Hingga ke Dalam Jiwa ini dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Terus Menancapkan Keteguhan Iman ini Didada
Aku harus Diceramahi Berulang–ulang Kali Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Menitikkan Air Mata Kasih-Mu
Aku harus Melihat Saudaraku Tertatih-tatih Melawan Derasnya Arus Kehidupan ini Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Terus Berjuang Dijalan-Mu
Apakah Orang Lain Harus Terus Berusaha Keras Meluluhkan Jiwa yang Keras Kepala ini Dulu ?

Ya Allah
Tancapkan di Hati ini
Agar Cinta-Mu, Kasih-Mu, Cahaya-Mu, Ridho-Mu, Naungan-Mu
Selalu Menghiasi Perjalanan Hidupku ini.

Sungguh ya Allah
Hati ini Terkadang Teramat Lupa dengan Kasih yang Engkau Limpahkan

Sungguh ya Allah
Hati ini Baru Luluh Jika Engkau Menimpakan Cobaan Kepada Ku

Sungguh ya Allah
Hati ini Masih Terpesona Dengan Hiruk Pikuk Dunia

Sungguh ya Allah
Hati ini Masih Segan Meninggalkan Segala Sesuatu yang Sebenarnya Menghinakan

Sungguh ya Allah
Hati ini Sulit untuk Meninggalkan Manisnya Godaan Dunia ini

Sungguh ya Allah
Hati ini Seakan Membatu Jika Ingin Mengingat Engkau

Sungguh ya Allah
Langkah Kaki ini Terkadang Berat Tuk Terus Melangkah

Sungguh ya Allah
Keteguhan Hati ini Terkadang Terus Menerus Naik-turun Menggoyang Cinta Kasih Sejati-ku
Yaitu Cinta Sejati yang Seharus Hanya Ku Peruntukkan Untuk-Mu


Sehelai daun jatuh ke bumi, itu aku
Sekuntum bunga mekar tak tertahan, itu aku
Hujan mendenting bak tangisan langit, itupun aku
Pelangi muncul setelah hujan reda, he, itu aku lagi

Secangkir kopi asapnya mengepul. itu juga aku
Setangkai ilalang bergoyang ditiup angin sambil tersenyum, itu aku sekali
Sebab aku ilalang yang senang memandang sehelai daun jatuh ke bumi
Aku ilalang yang membunga saat bunga rekahkan kuntumnya
Aku ilalang yang membasahkan jiwa saat hujan mendenting
Aku ilalang yang memuja pelangi
Aku ilalang yang tergila-gila pada aroma secangkir kopi

Akulah segala yang dipandangi ilalang, kapan saja angin berhembus dan ia tersenyum.


by bkn pujangga

Seutas Tali Keberanian



Aku merindumu sangat gaduh. Seperti sepisau sepi, segemuruh luruh, dan segala keresahan yang tak patuh. Mereka kompak bersetubuh.
Aku merindumu saat mataku terbuka. Saat mataku terpejam. Bahkan saat aku sedang ada di kelam malam. Menggigil, aku dibuatnya demam.
Merindumu itu mudah. Seperti hujan yang mau tumpah. Seketika dia buat kita basah. Ah, aku, tentu cuma bisa pasrah dalam gelisah.
Aku merindumu seperti senja di hari Sabtu. Terlalu menjura menanti Minggu.
Aku merindumu seperti debu. Yang kerap enyah saat tak resah. Dan kembali pasrah saat gundah.
Aku merindumu tak kenal waktu. Setiap helaan napas, setiap gerakan gatal, dan setiap waktu mandi aku. Iya, sedemikian absurdnya aku.
Aku merindumu bagai ambigu. Antara merah dan biru. Aku memilih abu-abu. Warna itu cocok untukku.
Aku merindumu seperti awan yang cerah. Yang cantik berarak, berjejer riang. Liat, awan menggemaskan itu akan ku bawa pulang. Untuk seseorang
Aku merindumu seperti alunan lagu. Yang dentuman dan baitnya nada berima. Sama dengan detak jantungku
Aku merindumu dengan inginku. Dengan letihku. Dengan sedihku. Dan kamu, akan menghilangkan semua itu.
Aku merindumu seperti candu. Yang kau bakar pelan-pelan. Tolong! Jangan biarkan ku mati perlahan.
Aku merindumu dengan sombongku. Dengan angkuhku. Walaupun kau ada dihadapanku, aku tak akan mengaku!



Aku merindumu dalam marah. Setelah pendar emosi yang gerah. Aku akan bakar semua pilar hatimu yang goyah.
Aku merindumu dalam diam. Kusampaikan dengan bisik halus pada malam. Berharap kau mengerti dan paham.
Aku merindumu merindukan aku. Merindukan kita dan kerinduan ini. Terlebih lagi, saat kau ada di sana, dan aku cuma akan ada di sini.
Aku merindumu dengan mengertiku. Ketika jarak terpisah, degup yang membuncah. Dan pekik hati yang menanti.
Aku merindumu yang tiada sempurna. Dengan begitu, kan kulengkapi kekuranganmu. Kita akan saling berguna.
Aku merindumu dalam ragu. Karena aku tak tahu. Gerangan apa yang sedang berlalu. Kamu? Aku? Atau sepenggal kisah lalu.
Aku merindumu saatku mulai mengantuk. Aku ingin terjaga, tak terjerembab, jauh dari pulas. Karena sadarku lebih indah dari mimpiku. Kamu.


Tersebutlah kisah seutas tali yang senang bepergian. Suatu hari di dalam hutan ia temukan sebatang ranting dengan daunnya yang hijau dan bunga kuncup yang semakin memperindahnya, talipun menghampiri kemudian bertanya :
"Kenapa kau terbaring disini ranting ?"
"Aku jatuh dari pohonku karena angin yang kencang, dan aku tak memiliki kekuatan untuk dapat kembali" jawab ranting dengan suara lirih.
Talipun merasa kasihan dan akhirnya talipun membantu ranting untuk berdiri dengan menyimpulkan tali pada tubuh ranting "Aku yang akan menjagamu" begitulah tutur tali.

Haripun berganti dan bulan demi bulanpun berlalu, Tali semakin menyayangi ranting dan rantingpun semakin merasa berharga karena tali selalu membuatnya merasa luar biasa. Tali begitu menyayangi ranting hingga semakin ia kuatkan ikatannya,Tali berjanji untuk tidak melepaskan ranting, namun tali tak menyadari ...

"Tali mengapa kau mengikatku semakin erat" tanya ranting
"Karena aku begitu mencintaimu, aku memiliki banyak harapan padamu dan banyak mimpi - mimpiku yang ingin kugapai bersamamu" jawab tali
Rantingpun tersenyum mendengarnya.

Sampai tibalah suatu hari, ketika ikatan kuat tali itu akhirnya mematahkan ranting. Talipun menangis memanggil manggil ranting namun ranting diam seribu bahasa seolah ia tak peduli..

Semilir angin berhembus, dalam bayangan kabut ia melihat sosok ranting tersenyum padanya dan berkata "Tali, terima kasih telah mencintaiku..namun ada satu hal yang ingin kukatakan sejak dulu namun tak berani kuungkap padamu, Tali..semakin kau kuatkan ikatanmu semakin kau menyakitiku..berbulan - bulan kucoba tuk menahan sakit itu karena aku tahu kau lakukan itu karena cintamu padaku..tapi kau lupa Tali, cintamu itulah yang membunuhku, keegoanmu tuk memilikiku yang menghancurkanku dan harapan serta mimpimu itulah yang mematahkanku"


Ketika telaga mata telah mengering
dan gunung hati telah membeku..

Tatkala masa takkan mampu menggulirkan waktu
dan zaman takkan mampu menggantikan hati..

Dikala segala yang terjadi yang telah terlewati
terlanjur tuk disesali
dan terlambat tuk disadari..

Biarkan ia berlalu
seperti angin yang berhembus
Izinkan ia tenggelam
seperti mentari yang kembali ke peraduannya

Untukmu Tali..Janganlah kau patahkan rantingmu

Kenapa datangnya pelangi harus di dahuluin dengan mendung yang mencekam dan sambaran petir jg hujat yg lebat ?
Kenapa pelangi datang hanya beberapa saat saja ?
adakah jawaban untuk ini .... !

Apa Kabar Cinta



Segala puji bagi Allah yang telah meninggikan derajat orang-orang mulia dan Dia yang mengutus malam dengan gelapnya serta shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. dan pula semoga engkau selalu dalam lindunganNYA, Betapa maha Agung Allah yang telah menciptakan sebuah kecantikan wajah dan hati pada dirimu dengan tangannya dan akupun tidak tahu apa yang sedang aku rasakan ini terhadapmu,

cintakah!!! tapi aku tidak menginginkan cintamu karena aku tahu cintamu adalah hanya untuk Allah dan aku tidak ingin merebut cintamu dariNYA.engakau wanita, betapa indah hati ini tatkala melihat keindahan yang Allah ciptakan dengan tangannya pada wajah yang kau balut dengan jilbabmu, dan bukannya aku ingin berzina dengan kedua mataku akan tetapi aku mengagumimu dengan segala keindahanNYA.engkau wanita aku telah lama membisikan segala doa dalam butiran tasbih, dan memanjatkan pintaku kepada maha cinta, untuk mengisikan separuh hatiku dan separuhnya lagi rindu,

seperti halnya aku sekarang ini, hatiku dipenuhi rasa damai dan rindu karena hati ini telah menjadikan apa yang kulihat terasa indah dan nikmat seakan akan aku tidak ingin kehilangan kenikmatan yang Allah berikan kepada mahluknya melalui cinta dan kasihNYA dan hatiku ini juga membawa sebuah kerinduan yang mendalam dan kedamaian pada hati yang ada pada dirimu akan tetapi apakah semua yang kurasakan ini belumlah sempurna bila hatimu belum menjawabnya dan adakah hatimu sama halnya dengan hatiku...?

Sepenggal kisah yang kau torehkan ke jantung hatiku tak dapat mati walau raga ini telah pergi…
Nestapa yang kurasakan seperti air yang mencari tempat berlabuh …
Ombak di laut pun semakin bergemuruh…
Kau hanya segelintir seseorang yang singgah dalam hidupku…
Kau adalah orang asing yang membuat hidupku berwarna dalam sekejap…
Setelah semuanya hampa aku tersadar ternyata kau hanya datang mewarnai hidupku yang yang dulu gelap dan kini menjadi terang…

Aku pun terdiam dan membisu ,kurenungi nasib yang kujalani …
Ternyata begitu berat melepas orang yang begitu amat berarti dalam kehidupan ini…
Kau akan selalu tersimpan dalam lentera hidup di hati, jiwa , dan ragaku…
Masih saja setumpuk rinduku ini hanya untukmu, saat ini, esok dan selamanya ku kan selalu sayang..

Andai bisa ku putar waktu..Kan ku resapi makna hujan yang sering membasahi kisah kita..
Betapa indah semua rindu yang rasanya penuh kehidupan..
Penuh keinginan...Di pagi ini, ketika air mataku mengering..Ku sandarkan harapanku pada Robbku..

Terpisah darimu bukanlah sesuatu yang mudah bagiku, membutuhkan energi besar sekedar melupakanmu sejenak. Engkau terlampau indah untuk dilukiskan dalam torehan pena, bahkan belum kutemukan kata untuk melukiskan indahmu. Kadang kuberharap kau tak mengusik tenangku, tetapi bayangmu terlampau sulit untuk dihapuskan, ia selalu saja hadir menggoda naluri, hingga terasa sekujur tubuh terkapar menikmati getirnya rindu..?

bkn pujangga

Sabtu, 19 Maret 2011



Aku merindumu sangat gaduh. Seperti sepisau sepi, segemuruh luruh, dan segala keresahan yang tak patuh. Mereka kompak bersetubuh.
Aku merindumu saat mataku terbuka. Saat mataku terpejam. Bahkan saat aku sedang ada di kelam malam. Menggigil, aku dibuatnya demam.
Merindumu itu mudah. Seperti hujan yang mau tumpah. Seketika dia buat kita basah. Ah, aku, tentu cuma bisa pasrah dalam gelisah.
Aku merindumu seperti senja di hari Sabtu. Terlalu menjura menanti Minggu.
Aku merindumu seperti debu. Yang kerap enyah saat tak resah. Dan kembali pasrah saat gundah.
Aku merindumu tak kenal waktu. Setiap helaan napas, setiap gerakan gatal, dan setiap waktu mandi aku. Iya, sedemikian absurdnya aku.
Aku merindumu bagai ambigu. Antara merah dan biru. Aku memilih abu-abu. Warna itu cocok untukku.
Aku merindumu seperti awan yang cerah. Yang cantik berarak, berjejer riang. Liat, awan menggemaskan itu akan ku bawa pulang. Untuk seseorang
Aku merindumu seperti alunan lagu. Yang dentuman dan baitnya nada berima. Sama dengan detak jantungku
Aku merindumu dengan inginku. Dengan letihku. Dengan sedihku. Dan kamu, akan menghilangkan semua itu.

Aku merindumu seperti candu. Yang kau bakar pelan-pelan. Tolong! Jangan biarkan ku mati perlahan.
Aku merindumu dengan sombongku. Dengan angkuhku. Walaupun kau ada dihadapanku, aku tak akan mengaku!
Aku merindumu dalam marah. Setelah pendar emosi yang gerah. Aku akan bakar semua pilar hatimu yang goyah.
Aku merindumu dalam diam. Kusampaikan dengan bisik halus pada malam. Berharap kau mengerti dan paham.
Aku merindumu merindukan aku. Merindukan kita dan kerinduan ini. Terlebih lagi, saat kau ada di sana, dan aku cuma akan ada di sini.
Aku merindumu dengan mengertiku. Ketika jarak terpisah, degup yang membuncah. Dan pekik hati yang menanti.
Aku merindumu yang tiada sempurna. Dengan begitu, kan kulengkapi kekuranganmu. Kita akan saling berguna.
Aku merindumu dalam ragu. Karena aku tak tahu. Gerangan apa yang sedang berlalu. Kamu? Aku? Atau sepenggal kisah lalu.
Aku merindumu saatku mulai mengantuk. Aku ingin terjaga, tak terjerembab, jauh dari pulas. Karena sadarku lebih indah dari mimpiku. Kamu.

Kala Cinta Menyayat



Andai kau baca goresan ini, jujur saja…. seperti biasa aku selalu dilanda rindu padamu. Apalagi berminggu terakhir tak jemu aku memandang potretmu .Tapi aku seolah sudah kehilangan jejakmu. Bahkan mungkin cerita kita kemarin sudah berlalu bagimu. Tinggalah kini aku yang masih mencoba mencari dalamnya sunyi. Hanya agar bisa menghindar dari hidupmu tapi apakah aku bisa? entahlah. Sungguh hati ini serasa tercabik. Sanggupkah aku berjanji untuk tidak menjumpaimu kelak ?

Memang tak pantas lagi aku berkhayal tentang dirimu. Bahkan rindu inipun sesungguhnya terlarang buatmu. Namun apa dayaku ? Meski tak bisa lagi aku memandang potretmu, wujudmu masih begitu nyata dalam pandangku. Bibir ini masih saja sering menyebut namamu tanpa sadarku , mempertaruhkan hidupku. Tak terpikikr olehku apa yang terjadi andai dinding-dinding kamar ini tahu bahkan dalam berbaringpun, dirimu tak pernah lepas dari pikirku.

Aku memang mencintaimu. Tak pernah kuragukan itu. Tapi apakah kita saling mencintai sejak pertama kali bertemu ? Itu yang aku tak tahu. Mampukah pertemuan dan perbincangan sesaat diantara kita menghadirkan rasa cinta ? Namun ketika kuceritakan perjalanan hati , iman dan hidupku sejak mengenalmu, seorang temanku yang kebetulan seorang mahasiswa pisikologi memastikan itu.

Kuakui…aku memang sudah larut dalam dirimu sejak hatiku bergetar mu di sebuah jejaring sosial facebook. Kala itu aku langsung terobsesi ingin bertatap muka denganmu. Aku pikir obsesi itu akan hilang setelah terwujud. Namun ternyata aku salah. Aku malah menginginkan pertemuan denganmu, meski dengan pertimbangan tertentu apakah kau ingin pertemuan itu terjadi. aku sadar siapa diriku, akupun memaklumi dan bisa memahami sikap yang kau akan tunjukkan padaku nantinya.

Bahkan kubiarkan kau berpikir hina tentang diriku. Sebab andaipun kujelaskan , aku tetap merasa tak pantas buatmu. Itulah awal mula aku terbiasa bertahajud. Padahal sebelumnya, seburuk apapun perjalanan hidup yang menderaku, hampir tak pernah aku berkeluh kesah dan mengadu kepada Sang Empunya Hidup. Saat itu aku berkeyakinan tak ada yang bisa merubah takdir. Satu-satunya pertahanan adalah aku harus bisa kuat ,tegar dan tabah jika keinginan untuk mengakhiri hidupun takpernah diijinkan olehNya. Bahkan tak jarang di tengah malam buta kusenandungkan Alquran dengan terbata-bata , karena selalu berlinang air mata tak kala membaca tafsirnya. Sungguh akhirnya aku merasa mengenalmu adalah hal terindah. Karenamu aku merasakan damainya hati kala bercengkerama dengan Allah. Cintaku padamu telah membuatku merasa begitu dekat denganNya. Bahkkan aku juga pernah berusaha memperbaiki kwalitas hidupku dengan ibadah.


Dan kini meski akhirnya mungkin kau mulai mengerti tentang kehidupanku yang complicated, Namun itu justru menyadarkanku untuk kemudian menuntun langkahku harus menjauh darimu walaupun di butuhkan energi yang besar tuk bisa melakukan itu. Apalagi kala kulihat potret keluargamu. Sungguh aku tak berniat mempermainkan hatimu. Aku hanya tak ingin nantinya lebih menyakitimu dan membawamu masuk dalam kemelut hidupku. Sungguh cintaku tulus padamu tanpa berharap kau membalasnya. Meski kini aku menderita karena hanya bisa berkhayal tentang cinta kita, tapi aku bersyukur saat ini kadang masih bisa bertahajud , mencoba bercengkrama dengan Allah tentang dirimu. Ternyata meski telah kupilih sendiri jalan hidupku, menjauh dan meninggalkanmu, tetap saja bayang dan ingatanku tentangmu masih sanggup menuntunku bertahajud padaNYA. Dan dengan semuanya itu, mungkinkah rindu ini masih terlarang buatmu ?

Ah … Andai kau baca goresan ini , aku hanya ingin bilang padamu . “Jika mencintaimu adalah salah, aku tak pernah ingin menjadi benar “

Malam ini seperti malam sebelumnya....

Teringat kebersamaan kita. Ingat hari dimana kau selalu ada, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku, seperti dulu. Masih dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untukmu.

Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan hati kita. Mungkin kita tak akan seperti ini. Andai saja sedikit kau melihat hatiku. Tak mungkin kubiarkan diriku menjauh. Pergi mengusung piluku sendiri. apapun yang terjadi... Aku tau, .... saat ini masih terngiang bisik isak tangismu, erat hangat pelukan saat terakhir dan akan mengingatkanku bahwa kau akan selalu ada. Aku rindu semuanyaAku hilang akal ...



Kalau saja perasaan lebih kuat dari pada keegoisan. Hingga tak perlu ada ‘benang’ yang melilit sekujur tubuhku. Membuatku sesak. Membuatku galau berkepanjangan dan tak bisa kuelakkan. Dan mengapa baru kusadari, kalau jauh darimu seperti ada sesuatu yang hilang? Ada yang tertinggal dan ada sesuatu yang kurang.

Dan itu tak mungkin kuingkari. Tulus dari dasar hatiku. Kau tau... Ingin sekali aku bisa jujur padamu. Mengatakan apa yang kurasakan. Tapi seolah tak mungkin dan tak akan pernah, dilema hati tak pernah dapat jawaban. Tak bisa mengurai benang kusut yang kulakukan. Menjauh darimu. Mati matian tak peduli padamu. Acuh dan tak memperhatikanmu lagi. Berusaha sekuat tenaga tak melihatmu. Itu semua menyakitkan . Membuatku sedih. Tapi aku bisa apa? Tak ada lagi yang dapat kulakukan. Bahkan kubiarkan kau mengira, bahwa memang itulah yang kuinginkan. Membiarkan kau berpikir bahwa aku membencimu.

bodoh....Kubiarkan kau menduganya. Sedikitpun tak berusaha kusangkal. Maafkan aku... Andai masih bisa kukatakan kepadamu

Langkahku terhenti saat hati mulai mencair karena rindu…
Genggamlah jariku, karena mungkin kita tak mungkin kembali ke masa-masa ini…
Pertama ku sentuh warnamu, saat hati ini gersang, penuh dengan debu….
Sperti Oase yg bangkitkan hasrat untuk berbagi angan.. kamu hadir bawakan aku Cinta..
Kamu buat aku tertunduk, merenung, dan menatap jauh ke dalam mata indahmu
Sungguh.., aku telah tenggelam dan hanyut dalam lautan cinta terlarang ini..

Saat kututup mataku, terbersit keinginan untuk bawa kamu jauh kedalam kehidupanku
Saat kuyakinkan hati ini bahwa kamu mampu bertahan dengan semua keadaanku saat ini
Selalu ada sesuatu yang memaksa aku berfikir kembali untuk melangkah lebih jauh
Sampai di Titik ini, aku harus menjawab… mengapa hatiku sering bimbang

Jujur…. dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam.. aku katakan…
Aku sayang kamu…… Aku cinta Kamu… Aku akan selalu rindu padamu…..
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada padamu
Hingga buatlah kamu benci padaku karena perasaanku ini…

Ada senyummu, pandanganmu dan suaramu di sela-sela aku menghela nafas…
Sungguh, kamu begitu memberi arti di dalam kisah hidupku

Sampai kusadari, aku bukanlah orang yang kau cari…
Aku bukanlah pangeran dalam mimpimu…
Aku bukanlah pembawa bahagian di masadepanmu,
Aku hanya seorang pemimpi, yg dapat halangi kamu untuk temukan belahan hatimu yang lain..

Aku tak bisa menjadi tanpa batas dimatamu…
Akupun Kadang tak bisa selalu ada disisimu saat kamu butuh aku..
Aku tak bisa janjikan waktu-waktu indah untuk kamu,
Aku sadar benar, semua ini menyiksaKu… aku dan kenangan-kenangan kita

Bila kita tak mungkin lagi bersatu,…
Sungguh….
Aku akan tetap berusahA selalu ada untuk kamu,
Walau tak mungkin hatimu utuh untukku..

Semoga kamu temukan cinta sejatimu, tanpa batas… hingga dunia tau….
Sesungguhnya ada ruang di dalam mata indahmu..
Ruang yang hanya pantas diisi dengan cinta tulus dengan hati…
Aku Cinta Padamu…

Terima kasih, untuk semua perhatianmu.. yg membuat aku akan sangat kehilanganmu..
tak kan ku sia2kan airmata yg menetes untuk aku...I LOVE U

Dan sekarang...Kalau suatu hari nanti kau bisa melihat segala yang sengaja aku lakukan. Mungkin kita sudah terlambat, ... Meski kutunggu kau yang merubahnya. Aku tak pernah ingin berharap lagi. Semuanya ingin kulupakan. Berusaha kukubur dalam dalam. Bukan ingin berlalu, tak mengingatmu sama sekali.tapi Cuma ini jalan terbaik. Untukku. Untukmu. Untuk kita tapi apakah aku bisa?? hmmm.entahlah. Segalanya kini sudah kupasrahkan. Sudah kurelakan, meski rasa sakit tak bisa kutepis. Bagaimanapun tak pernah kuinginkan kalau akhirnya seperti ini. Kau adalah bagian terindah dalam hidupku. Orang yang kucintai sepenuh hati. Yang pernah kuijinkan mengetuk pintu hatiku. Memasuki seluruh cinta yang selalu kusimpan rapat untuk sosok dalam mimpiku. Semuanya akan kukenang, Hari hari termanis yang kau beri sepanjang kita bersama. Moment terindah yang kau hadirkan untukku. Terima kasih... Untuk segalanya. Mungkin itu yang belum sempat kuucapkan. Karena membuatku bahagia meski sesaat.

Suatu hari nanti jika aku kembali.Berdiri didepanmu dengan sosok yang berbeda. Mungkin tak sesuai yang kau harapkan. Tapi aku ingin kau mengerti, inilah aku! Seperti inilah aku! Apa adanya. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tanpa pernah lagi harus memikirkan banyak perasaan yang mesti kujaga. Ingin berdiri tegar meskipun tanpamu. Ingin memperbaiki segalanya. Bagaimanapun aku tak ingin membuatmu malu, karena pernah menyayangiku. Dan dari semuanya, tak bisa kupungkiri bahwa ini semua karenamu, Kau memberi arti. Terlalu berharga untukku.

Hanya satu yang tak akan pernah berubah, .... Aku sayang kamu. Selamanya. Tak akan pernah meninggalkanmu. Melupakanmu. Seperti juga saat terakhir kita bersama, masih selalu berharap, kebahagiaan mendampingi langkahmu. Mewarnai hidupmu. Meski bukan aku lagi yang melakukannya. Aku ingin selalu melihat binar dimatamu. Ingin melihatmu selalu tersenyum dan tertawa bahagia. Ingin mimpimu terwujud. Impian impian indah yang pernah kudengar. Aku ingin sekali bisa membuat harapanmu terkabul. Cuma itu yang tersisa kini, ...Melihatmu bahagia... mendengarmu bahagia... berdoa agar kau bahagia.


thanks to mr_bkn pujangga

Rabu, 19 Januari 2011

Surat Cinta



Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku

Tak terasa dua tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.

Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin BERPACARAN denganmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada BIDADARI-ku. Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

Aku yang tidak mengerti diriku…

Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu... aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.

Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA.

Minggu, 16 Januari 2011

Jika Tua



Jika aku tua nanti,
Mengertilah terhadapku,
Jika aku lupa cara mengikat sepatuku,
Ingatlah saat ku dulu mengajarimu..!

Kalau aku berulang-ulang mengatakan sesuatu,
Bersabarlah mendengarkanku
Jangan memutus pembicaraanku
Walau sudah bosan telingamu..!

Jika aku seketika lupa pembicaraan kita,
Berilah aku waktu untuk mengingatnya
Bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting
Asal kau ada mendengarkan disampingku..!

Saat kau kecil aku harus mengulang cerita
Yang telah beratus kali kubacakan agar kau tertidur dan gembira
Jika aku tua nanti, rengkuhlah jemariku ini
Beri aku perhatianmu yang tak pernah henti..!

Kalau aku perlu kamu memandikanku, janganlah marah kepadaku
Ingatlah, sewaktu kecil aku harus memakai seribu cara untuk membujukmu
Kalau aku tak paham informasi dan hal baru, janganlah mengejekku
Ingatlah dahulu aku harus bersabar menjawab setiap "mengapa" darimu..!

Jika nanti aku lemah dan tak sanggup berjalan lagi,
Ingatlah saat kau dulu belajar menapakkan kaki
Ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku
Seperti saat aku dulu mendampingimu..!

Kini, temani aku jalani sisa usiaku
Berikan kasih tulus mu
Kan ku balas dengan rasa syukurku
Serta cinta tak terhingga untukmu..!

Jika aku tua nanti,
Kelak kan tiba waktuku tuk pergi
Panjatkanlah selalu doamu padaNya yang Maha Tinggi
Karena permohonanmu kan melesat bagai cahaya dalam kuburku…menerangi..!

Jangan kau tangisi dan ratapi aku dengan kesedihanmu
Berdoa dan perbanyaklah amal baikmu
Doa anak saleh yang kan membantu
dan jadi pelita dalam kuburku..!

Jadilah orang yang berbakti
Isi hidup dengan hal yang berarti
Agar kelak Dia kan mempertemukan kita kembali
Ditaman surgaNya yang abadi....!

Sabtu, 15 Januari 2011

Ingat Diri



Teringat kebersamaan kita. Ingat hari dimana kau selalu ada, menemani langkahku, mendampingi hidupku, mengisi hatiku, seperti dulu. Masih dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untukmu.

Andai saja kita saling terbuka. Andai kita mau jujur dengan hati kita. Mungkin kita tak akan seperti ini. Andai saja sedikit kau melihat hatiku. Tak mungkin kubiarkan diriku menjauh. Pergi mengusung piluku sendiri. apapun yang terjadi... Aku tau, .... saat ini masih terngiang bisik isak tangismu, erat hangat pelukan saat terakhir dan akan mengingatkanku bahwa kau akan selalu ada. Aku rindu semuanyaAku hilang akal ...

Kalau saja perasaan lebih kuat dari pada keegoisan. Hingga tak perlu ada ‘benang’ yang melilit sekujur tubuhku. Membuatku sesak. Membuatku galau berkepanjangan dan tak bisa kuelakkan. Dan mengapa baru kusadari, kalau jauh darimu seperti ada sesuatu yang hilang? Ada yang tertinggal dan ada sesuatu yang kurang.

Dan itu tak mungkin kuingkari. Tulus dari dasar hatiku. Kau tau... Ingin sekali aku bisa jujur padamu. Mengatakan apa yang kurasakan. Tapi seolah tak mungkin dan tak akan pernah, dilema hati tak pernah dapat jawaban. Tak bisa mengurai benang kusut yang kulakukan. Menjauh darimu. Mati matian tak peduli padamu. Acuh dan tak memperhatikanmu lagi. Berusaha sekuat tenaga tak melihatmu. Itu semua menyakitkan . Membuatku sedih. Tapi aku bisa apa? Tak ada lagi yang dapat kulakukan. Bahkan kubiarkan kau mengira, bahwa memang itulah yang kuinginkan. Membiarkan kau berpikir bahwa aku membencimu.

bodoh....Kubiarkan kau menduganya. Sedikitpun tak berusaha kusangkal. Maafkan aku... Andai masih bisa kukatakan kepadamu

Dan sekarang...Kalau suatu hari nanti kau bisa melihat segala yang sengaja aku lakukan. Mungkin kita sudah terlambat, ... Meski kutunggu kau yang merubahnya. Aku tak pernah ingin berharap lagi. Semuanya ingin kulupakan. Berusaha kukubur dalam dalam. Bukan ingin berlalu, tak mengingatmu sama sekali.tapi Cuma ini jalan terbaik. Untukku. Untukmu. Untuk kita. Segalanya kini sudah kupasrahkan. Sudah kurelakan, meski rasa sakit tak bisa kutepis. Bagaimanapun tak pernah kuinginkan kalau akhirnya seperti ini. Kau adalah bagian terindah dalam hidupku. Orang yang kucintai sepenuh hati. Yang pernah kuijinkan mengetuk pintu hatiku. Memasuki seluruh cinta yang selalu kusimpan rapat untuk sosok dalam mimpiku. Semuanya akan kukenang, Hari hari termanis yang kau beri sepanjang kita bersama. Moment terindah yang kau hadirkan untukku. Terima kasih... Untuk segalanya. Mungkin itu yang belum sempat kuucapkan. Karena membuatku bahagia meski sesaat.


Suatu hari nanti jika aku kembali.Berdiri didepanmu dengan sosok yang berbeda. Mungkin tak sesuai yang kau harapkan. Tapi aku ingin kau mengerti, inilah aku! Seperti inilah aku! Apa adanya. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Tanpa pernah lagi harus memikirkan banyak perasaan yang mesti kujaga. Ingin berdiri tegar meskipun tanpamu. Ingin memperbaiki segalanya. Bagaimanapun aku tak ingin membuatmu malu, karena pernah menyayangiku. Dan dari semuanya, tak bisa kupungkiri bahwa ini semua karenamu, Kau memberi arti. Terlalu berharga untukku.

Hanya satu yang tak akan pernah berubah, .... Aku sayang kamu. Selamanya. Tak akan pernah meninggalkanmu. Melupakanmu. Seperti juga saat terakhir kita bersama, masih selalu berharap, kebahagiaan mendampingi langkahmu. Mewarnai hidupmu. Meski bukan aku lagi yang melakukannya. Aku ingin selalu melihat binar dimatamu. Ingin melihatmu selalu tersenyum dan tertawa bahagia. Ingin mimpimu terwujud. Impian impian indah yang pernah kudengar. Aku ingin sekali bisa membuat harapanmu terkabul. Cuma itu yang tersisa kini, ...Melihatmu bahagia... mendengarmu bahagia... berdoa agar kau bahagia....!

by bkn pujangga

Memeluk Bayang



Andai aku masih punya sepasang kaki keberanian untuk mencintaimu...
Manakala langit hitam berjelaga tak memberiku waktu.
Menciumi wangi dan lembutmu semasa bibir kita terkunci, tanpa kata...
Meski telah berulang2 ku hempas wujudmu dalam khayal!
Ya, aku masih saja mencintaimu...
...Begitu dan selalu begitu...

selalu ingin ku berjalan bersamamu, namun tak pernah bisa
karena ikatan itu telah membatasi segala prilaku-ku
walau kadang rinduku padamu tak terbelenggu

...sering aku datang ke serambi hatimu. Berharap sedetik saja kau datang lalu memeluku. Namun ikatanmu menjauhkan ragamu dari aku tapi tidak hatimu! Andai dapat ku kawinkan waktu dg harap, mungkin saat ini tubuhmu dapat ku dekap erat. Meski hanya sekejap. Ya, hanya sekejap!

kembali kudengarkan senandung lirih itu, saat kerinduan akan dirimu semakin deras. samar terdengar dari jauh petikan gitarmu itu. ingin ku berlari merengkuh tubuhmu dalam dekapanku meski hanya sesaat sekedar memuaskan rinduku yang begitu tertatih-tatih...

Resah bayangi anganku, ketika khayal yg menari dipelupuk mataku, membias nanar sekilas tatap matamu, yang membiusku dlm segala rona indahmu. Ingin ku bebaskan hasrat yg menggebu, ingin aku mrengkuhmu, merasakan rindu yg menggeliat di detak jantungmu. Rasa yg semakin meradang, sukma yg tersihir oleh raga yg memikat pandang. Terasa hampa kala berangan tanpa tujuan. Wajahmu membawaku lagi dalam lamunan rindu kelabu...

setetes air mata jatuh dari langit, entah milik siapa. membasahi tanah yang kering dan menjadi lembab. dikesunyianku, aku melihat hujan dari segala hujan yang melahirkan sebuah renungan dan perlahan memecah dalam kebekuan hatiku. dingin menyempurnakan rinduku kali ini. hampa tak bertuan....aku tak bisa kemana untuk entah kapan nanti

waktu akan mempertemukan aku dan kamu, suatu saat nanti...
Sebab bertemu dg mu, aku seperti kosong yg bertemu isi, seperti api yg memeluk kayu, seperti laut yg selalu ditemani ombak. Jika waktu itu datang akan ku sematkan cincin yg terbuat dari hatimu dan hatiku, agar kau tau betapa aku mencintaimu...dari dulu'

cukuplah…
biar saja aku disini bersama sunyi. menghitung setiap butir rinai hujan yg membekukan diri. krn aku tak mampu berbuat apa² disaat kau memilih berlalu, aku hanya mampu membeku disamping kesunyian.

biarlah semuanya menjadi kenangan yg membentang disepanjang jalan yg tampak mulai membeku, mungkin kau tak cukup mengerti tentang rinai hujan yg turun membekukan diri. aku tak meminta apapun dan kaupun tak perlu memberi kehidupanmu padaku dan kesunyian....

kepingan sunyiku bserakan diantara beranda risau. Tak mampu ku menyapu pedih dalam ruang yg bungkam. Dan penatku pun menjerit diantara kosongnya hati,
tanpamu...

ada banyak rindu untuk kuserahkan padamu. tapi belenggu ini susah untuk kulepas. hari²ku tanpamu adalah kesunyian yg abadi, sunyi yg kekal, sunyi yg membuatku terluka. Luka yg teramat dalam. sayang, kutitipkan tulisan ini pada senja. aku tahu, senja akan menyampaikannya padamu. krn setiap hari dia berpapasan denganmu. aku tahu, kau takkan pernah datang lagi dlm hari²ku, tapi itu tak penting. asal engkau tahu, knp sebab aku tak lagi menemuimu.

salamku untuk lagu dan gitar, sahabat setiamu dlm kesunyian...maafkan aku...

Aku rapuh tanpamu, aku jenuh tanpamu, aku hilang tanpamu,aku rengsa tanpamu.
Aku tak ingin lagi tanpamu!...Aku ingin setiap detik bersamamu.
Dan bukan, tanpamu...!


aku pun rapuh
tapi meski aku rapuh dalam langkah, dilelahnya jiwa dan resahnya airmata namun cinta dalam jiwa cinta tak pernah lelah mencoba menguatkanku...
mencintaimu adalah bahagiaku karena memilikimu dalam hati
mencintaimu adalah sedihku karena kita sering terpisah
hanya sekeping kepercayaan ku titipkan untukmu jagalah dengan kecintaan jangan biarkan pecah berserakan

sepi saupi sepa saupa, tak ada rindu yg menyepi. Tak ada cinta yg menyapa. Angin datanglah, bintang berkumpulah. Mari kita rayakan hari dimana diam adalah raja!

Bulan tertawa, melihatku terpaku menatap selembar sketsa wajahmu yg ku lukis diatas kanvas biru...

Aku rindu!...Ya, aku rindu...!
Tak sadarkah kamu? Bahwa telah ku lumat habis waktu tanpa sisa, demi untuk mendekapmu semalam saja? Atau haruskah aku berlutut dkaki langit, hanya utk dapat mengecupmu sekali saja?
Ah sudahlah! Lupakan inginku, abaikan rasaku sebab telah ku cintai kamu dg caraku, dg cara bagaimana ketulusan itu membimbingku. Cinta tidak melepas apa yg ingin kita genggam juga tidak menggenggam yg ingin kita lepas. Cinta itu membebaskan. Mencintai Tuhan sekaligus mahluknya bukanlah kesalahan!


jadi salahkah aku bila mencintaimu....?
satu kebahagiaan yg terindah yg pernah kumiliki adalah bersamamu menempati cinta dalam satu hati...!

Chienta, bahagiaku dpt mendengar renyah suaramu malam ini, bebas tawamu jg lembutmu pun terpancar jelas meski jarak mbentang diantara kita.

Jantungku berdegup kencang. Aliran darahku mengalir deras. Nadiku berdenyut memburu.
Lamunanku pudar, sepiku pun hilang.
Mencintaimu pada satu hati yg ku yakini adl hal terindah yg pernah ada.
Merindukanmu pada tiap detik yg berlalu adlh masa yg berarti dlm hidupku.

Terima kasih chienta, sebab telah kau torehkan lagi warna dselembar kertasku yg usang.
Membuat kelabu itu pudar berganti pelangi.

Selamat tidur chienta, aku akan selalu menjagamu dari kejauhan...

chie and giel :
untuk apa aku cemburu jika hanya membuatmu menjauh dariku pun untuk apa aku curiga jika itu hanya membuatmu tersiksa. rasa itu untuk d'rasakan dan bukan untuk d'paksakan...maka nikmati sajalah..!

Ketika cinta adalah luka
mengais duka, merajai nestapa
diantara dentuman tangis dan airmata
aku meringkuk dalam kesendirian tanpa rasa

Rindu yang kini berubah menjadi sembilu,
seperti mengiris urat nadiku satu persatu.
Mungkinkah ini akhir dari rasaku
yang dulu pernah menjadi lilin penerang hatiku?

Pada titik nadir aku bertanya, akankah rasa ku ini mati ya Jiwa?
seiring waktu yang tak akan pernah diam apalagi berhenti?
Atau akankah rindu hanya akan menjadi benalu dalam kalbu yang membiru?
Ah sudahlah persetan dengan rasa, setan saja tak punya rasa!
Ya, itu saja...!

malam bidadari tanpa sayap
aku kembali dengan tumpukan kata
dan memandangmu dari tempat
yang dapat kau lihat
mengatakan padamu dengan sejuta mantra
bahwa aku selalu cinta

kemana saja kau mengembara duhai bidadari bertandukku
aku berharap kau merasakan
semua kelelahan yang aku rasakan
dari sebuah pengendalian
agar aku tak selalu tersiksa sendirian
dan cinta pun tak terbumikan

puisiku ada dan mengalir dengan rasa
tidak cuma kata
jika tak percaya tanyakan saja pada angin
sebab ia yang selalu menemani sepi yang mengigit
seperti malam ini

dingin yang mengigit pada pagi yang begitu buta
dinding-dinding mulai sepi
tembokpun mulai kedinginan
lalu menyerahlah dalam mimpiku
perlahan mimpi-mimpi mulai mengendap
menikamku dari belakang
dalam kesunyian yang hening
aku dibunuh para mimpi
dan haripun lengkaplah malam
ketika aku mencoba menutup mata
tergolek pasrah berendam dalam mimpi-mimpi malam

sendiri aku tapaki sedih yang mendidih
kembali aku berjalan pada ketidakpastian yang pedih
diam…lagi-lagi hanya itu yang aku bisa
begitupun bulan yang mulai enggan
menunjukan kemerlap bintang ...!

by bkn pujangga

Arjuna Pencari Cinta



Namanya Arjuna, persis nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan. Tapi ia tak tampan, tak gagah. Apalagi digila-gilai oleh wanita. Arjuna yang ini hanya seorang penjual ulat sebagai pakan burung yang penghasilannya tidak menentu. Tinggalnya di sebuah rumah sederhana dengan ibundanya yang sudah berusia 70 tahunan. Sejak usia 2 tahun Arjuna menderita lumpuh. Penyebabnya adalah demam yang sangat tinggi yang kemudian merusak syarafnya.

Arjuna kini sudah 40 tahun dan tetap lumpuh. Ia pun masih tetap ulet menjalankan profesinya. Sejak beberapa waktu yang lalu ia mempunyai kegemaran baru, suka mengikuti pengajian dari masjid ke masjid. Dari pengembaraannya itu akhirnya ia jatuh cinta pada sebuah masjid di sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kyai yang masih muda dan berkharisma.

Pagi itu Arjuna tampak rapi dan wangi. Ia menggunakan baju terbaiknya, sebuah baju koko berwarna putih yang dimintanya pada sang ibu untuk disetrika licin-licin. Ia sudah siap menuju pengajian di pondok pesantren. Jaraknya lumayan, dari Jl. Pendawa Dalam, Bandung, ke daerah Gegerkalong Girang. Apalagi bagi seseorang yang tak berfisik sempurna seperti Arjuna, jarak itu terasa lebih dari sekedar lumayan.

Arjuna merangkak di depan rumahnya, lalu dengan suara cadelnya berteriak memanggil becak di ujung jalan. Sang tukang becak pun tanggap dengan panggilan Arjuna. Ia mafhum, Arjuna pasti akan pergi ke pondok pesantren.

Arjuna duduk manis di dalam becak, hingga sampai ke jalan besar. Di jalan besar, sang tukang becak membantu memanggilkan taxi. Satu taxi lewat, taxi berikutnya juga, dan berikutnya, lalu berikutnya. Arjuna tetap duduk manis di dalam becak, tersenyum. Keringat mengucur di tubuh sang tukang becak yang tampak sedikit kesal tidak satu pun taxi yang mau berhenti.

Membawa Arjuna sebagai penumpang taxi memang berbeda. Sang sopir taxi harus rela membantu menggendongnya. Maka tak heran kalau tak semua sopir taxi mau. Tapi Allah selalu memberikan pertolongan-Nya. Sebuah taxi meluncur pelan dan berhenti. Sampai di pondok pesantren Arjuna disambut oleh beberapa orang jemaah. Ia sama sekali tak dipandang sebelah mata. Justru banyak orang yang sayang padanya, termasuk sang kyai.

Ceramah pun dimulai. Seperti kali yang lalu. kali ini Arjuna tak mampu membendung air matanya. Semangatnya membara. Bukan hanya itu bahkan bergejolak. Bagai sebuah handphone yang perlu di-charge, inilah saat-saat Arjuna menge-charge jiwanya. Total biaya Rp.50.000,- yang harus ia keluarkan untuk pulang pergi ke pondok pesantren, serasa tak ada harganya dibanding dengan setrum yang menyulut dirinya. Ajuna jadi lebih semangat bekerja, lebih semangat mengumpulkan uang untuk bisa datang ke pengajian.

Arjuna sekarang jadi rajin ibadah malam. Sifat pemarahnya mulai hilang, jadi lebih sabar dan optimis. Pelan-pelan keinginan itu muncul. Suatu keinginan yang sama sekali tak pernah berani untuk ia mampirkan walau sekilas di kepalanya.

"Ibu, Arjuna kepingin kawin!" Suara cadel Arjuna bagai geledek yang memecah kesunyian malam di telinga sang ibu.

"Arjuna enggak mimpi kan?" sang ibu bertanya sambil menguncangkan tubuh Arjuna yang tergolek lemah di tempat tidur.

" Eh ibu, Arjuna mah bangun. Ini enggak mimpi. Sungguhan, Arjuna kepingin kawin."

Sang ibu menelan ludahnya beberapa kali, miris. "Jang, kamu teh mau kawin sama siapa?"

"Nggak tau. Tapi Arjuna sudah minta sama Allah."

Mata sang ibu hampir-hampir tak kuat membendung air mata yang hendak tumpah. "Bener atuh, kalau memohon ya sama Allah."

Sang ibu bingung apa yang harus ia lakukan. Menghibur Arjuna dan membangun mimpi-mimpi indah yang kosong melompong. Atau membuatnya melek melihat kondisi cacatnya. Tapi itu sama saja artinya dengan menghempaskannya ke jurang dalam. Sang ibu cuma bisa menyerahkan pada Allah, apapun kehendak-Nya.

Malam purnama. Arjuna baru saja selesai sholat tahajud. Ia merenungi keinginannya yang mulai menjadi azzam. Pikirannya berkecamuk. "Tapi, kalau nanti punya istri pasti biaya akan bertambah. Sekarang saja hidup sudah pas-pasan. Ah, rejeki kan sudah diatur oleh Allah, tinggal kita yang harus ikhtiar. Tapi, mau nikah sama siapa. Eh, iya ya. Siapa yang mau sama saya yang jalan aja mesti merangkak, mau ke mana-mana mesti digotong. Ah, itu kan sama juga, jodoh sudah diatur sama Allah. Tinggal ikhtiar saja. Besok saya akan bilang sama Pak Kyai, minta dicarikan istri."

"Pak Kyai, saya kepingin kawin!"

Pak Kyai itu pun kaget tak beda seperti ekspresi sang ibu ketika mendengar ucapan Arjuna. Dengan sabar Kyai berkata, "Wah bagus itu. Menikah kan sunnah Rasulullah, apalagi kalau niatnya untuk ibadah."

"Iya, iya, saya kepingin kawin karena kepingin ibadah. Kepingin punya anak-anak yang normal dan berjuang di jalan Allah."

"Arjuna mau menikah dengan siapa?"

"Saya ingin minta dicarikan sama Pak Kyai."

Pak Kyai pun menggaruk-garuk kepalanya. Bukan amanah yang ringan. Sudah berkali-kali ia mempertemukan jodoh diantara santri-santrinya. Diantaranya ada juga yang tidak sekali langsung jadi. Itu pun santri-santri yang normal, tapi Arjuna...?!

Sang Kyai bukan mengecilkan arti Arjuna. Semua orang sudah ditentukan takdirnya oleh Allah. Dan tak akan tahu takdirnya bagaimana kecuali dengan berusaha. Tapi usaha yang harus dilakukan untuk mencari istri untuk Arjuna bukan perkara mudah. Tapi Allah berkehendak lain. Sang Kyai akhirnya menemukan sang gadis.

Gadis itu normal, juga sholehah. Ia salah satu jamaah yang kerap mengikuti pengajian Kyai. Kyai mengucap syukur yang tiada tara, karena akhirnya gadis itu mengucapkan kesediaannya menikah dengan Arjuna.

Ina, gadis itu, jelas-jelas tahu Arjuna yang akan dinikahinya berfisik tak sempurna. Sangat jauh dari gambaran tokoh Arjuna yang ada di lirik lagu.

"Kenapa Ina mau menikah dengan Arjuna?" tanya sang Kyai. "Ina sudah tahu apa resikonya? Apa yang akan dihadapi di kemudian hari?"

"Niat saya cuma ingin mencari keridhoan Allah. Saya ingin menjadi bidadari di syurga nantinya," kata sang gadis dengan mantap.

Pagi hari di bulan Agustus 2002 itu seakan bersinar lebih cerah dari biasanya bagi Arjuna. Sebelum berangkat, ia menangis. Bukan sedih, justru kebahagiaan luar biasa yang tak terbendung. Suatu keajaiban yang tak pernah ia bayangkan akan terwujud. Mulanya hanya sebuah keinginan, lalu menjadi tekad, dan kini menjadi nyata. Allah mengabulkan permohonannya.

Terbata-bata Arjuna mengucapkan ijab kabul. Bukan karena grogi, tapi karena memang ia kesulitan mengucapkan kata-kata. Dua ratus pasang mata ikut berlinangan airmata, tak kuasa menahan haru yang tiba-tiba menyeruak. Arjuna menyerahkan mas kawin berupa 23 gram emas kepada istrinya. Lalu Arjuna bersujud di hadapan ibunya, menangis tersedu-sedu.


Di hadapan para tamu, sang Kyai berkata, "Kita harus banyak belajar dari Arjuna, seseorang yang diberi ujian berupa kekurangan fisik dari Allah, namun tidak takut dan berani mengambil keputusan terhadap masa depannya. Arjuna adalah contoh seseorang yang berserah kepada Allah, yakin akan rejeki yang sudah ditetapkan-Nya. Semoga Allah memberkahi pasangan pengantin ini, menjadikannya sakinah, mawadah, warrahmah." Doa sang Kyai ini pun di amini oleh para tamu walimah.

Arjuna memandangi istrinya penuh haru. Ina baru saja selesai mencuci baju. Arjuna senang sekali, kini ia tak lagi mencuci baju sendiri seperti ketika bujangan dahulu. Ina juga selalu merawat dengan penuh ikhlas dan telaten. Seorang gadis telah Allah kirim untuk menjadi pendampingnya di dunia. Arjuna berharap Ina juga akan menjadi bidadarinya di surga nanti. Insya Allah.

by bkn pujangga

Berkah Ramadhan




Berkah demi berkah Kau sisipkan
Kesempatan demi kesempatan Kau hamburkan
Semakin berat tak kuasa jiwa ini kehilangan
Tak mampu batin ini ditinggalkan
.
Perih kini kusadari,
Yang kurisaukan akan segera datang..
Dimana ia pergi dan mungkin tak bisa kutemui lagi
Dimana letupan-letupan rindu masih mengisi sanubari
waktu itu berlari..
: menyapu tiap detiknya dengan khilafku
.
Ramadhan bulan penuh ampunan..
Terimakasih ya Robb, kau sempatkan aku menemuinya
Lapar dahaga yang begitu nikmat
Tadarus dan tarawih yang begitu sehat..
Kau tunjukkan pada pecintaMu,
Tentang rahmat dan magfirah yang tak henti membasuh

Maafkan hamba, ya Allah..,
Sucikan noda karat pada qolbu ini..
Kuat terasa indahnya cinta Sang Maha Cinta
Eloknya kasih dari Sang Maha Kasih
Membuat rajutan rindu semakin erat menjerat

Cepat temui aku lagi, Ramadhan..
Obati rindu ini segera dengan rasukan damaimu
Kami menanti..
Seruan angir membisik suka akan hadirmu..!

Syahdu Ramadhan



Segurat tipis pelangi
menggantung di ujung langit
sekeping angan tunduk
tepekur diambang maghrib

suara-suaraMu terus menggema
mengisi penuh gendang telinga
hingga nyeri dan luka ini tak kuasa lagi
bersembunyi
di balik tirai airmata
yang terus jatuh ke palung
yang paling sunyi
di kedalaman dada

maka biarkanlah jemari ini bergetar
dalam tengadah
manangkup butiran embun-embun
bening pecah
bersama malam dan fajar yang tunduk
berselisihan
memasuki pintu-pintu barokah.....!


Bumi berputar bak secanggih-canggihnya piranti..
Dengan kekuatan yang teramat sakti..
Dialah Allah sang Pencipta yang takkan pernah letih..
Yang berikan nikmat silih berganti..

Ramadhan...
Memang telah kita sering lewati seperti dulu..
Tapi apakah evaluasi ibadah juga perlu?
Jangan...
Jangan perkenankan dirimu lakukan jika tak ingin membuat hati pilu..
Hanya akan berujung malu
Tapi,,
lakukanlah jika yakin hatimu akan luluh..

Tak usah banyak berpikir..
Tentang alasan banyak kesibukan yang diukir..
Hingga prioritas ibadah jadi tersingkir..
Cobalah kawan, minimal isi waktu luang dengan berdzikir..

Jika ada kekhilafan memang tak bisa diralat..
Tapi jangan momen Ramadhan saja sebagai alat..
tuk mengais manis kepadaNya setelah pahit bagai lalat..
Bermuhasabahlah dan taubatlah dengan sholat..
Itupun jika tak ingin kualat

Masih maukah mengurangi keangkuhan dengan bermuhasabah?
Yakinlah takkan pernah bisa jika tak dicoba..
Apalagi jika harga diri terlalu tinggi tuk dirubah..

Tak usahlah direnungkan hingga kepala pening..
karena cahaya wudhu kan tetap tersurat di kening..
hingga terompet sangkakala tetap tidak bergeming..
Apalagi jika senantiasa bertarawih dengan kekhusukan dalam hening..
niscaya setelah Ramadhan hatipun tetap bening..

Ramadhan ...
Inilah saat kita menumbuhkan keimanan seperti biji..
yang tlah kita tanam sejak kecil dengan rajin mengaji..
Kita rawat dan sirami hingga matang hingga siap saji..
Hingga setelah Ramadhan pun bisa kita uji...

Ramadhan...
Mungkin hati kecil kita pun merindu kala lama tak bersua..
Tapi jangan sambut bulan suci ini dengan bermewah-mewah..
Karena Ramadhan harusnya bulan penuh dengan taqwa..
dan bulan penyembuhan bagi segala penyakit dalam jiwa...



Tak masalah jika ingin Ramadhan kali ini lebih berwarna..
Tapi apapun kesibukan pastikanlah bermakna..
Bukan hanya ajang tebar pesona..
Atau hanya ingin membuat orang yang dicintai terpana..
Patutlah hanya mengharap ridho Sang Maha Sempurna...
Sebelum ajal menjemput dan harapan menjadi sirna..

Janganlah lewati Ramadhan dengan gelisah..
sekalipun tak ada lagi asa..
Yakinlah sakit dan masalah bisa jadi pengurang dosa..
Apalagi saat momen Ramadahan ini apapun pasti bisa..
Maka ingatlah pada sebuah kisah..
Dimana cobaan berat pada Nabi dan Rasul serta umat terdahulu pada tiap masa..
Jauh lebih berat dari berkilo air raksa..
Bahkan bagi Bangsa Palestina yang kini tersiksa..
Perang tak menyurutkan niat mereka tuk berpuasa..
Gelimpangan bom di sekeliling tak bisa mengurangi rasa..
kenikmatan luar biasa saat adzan menggema hingga ke angkasa..

Sesyahdu Ramadhan di kala menjelang..
Seindah langit yang tinggi menjulang..
Bulan penuh ampunan dan pendidikan..
Tak patut sedikitpun disiakan..

Tak seindah nada-nada air hujan yang merintik..
Tak semegah suasana malam di bawah naungan purnama nan cantik..
Tak bisa aku lukiskan indahnya anugrahNya dalam Ramadhan yang ada di tiap detik..
Yang beri kita semua hidayah tuk dipetik..

Cinta Cahaya



Telah menembus bilik qolbuku, Rasanya hangat menyinari qolbu.
Bak cahaya musim semi, menumbuhkan tunas muda, memekarkan bunga sakura
dalam taman cinta....!

Ku bertanya padanya kenapa cinta hadir, inginkah menjadi cahaya? yang menjadikan bumi penuh warna...? cahaya yang menumbuhkan, menyegarkan, menghidupkan,
namun aku hanya seoarang insan yang tak sempurna, yang merindukan mu di taman cinta-Nya.

Aku mencintaimu karena engkau, dicintai Sang Pemberi Cinta....!


Ya ALLAH…
Izinkan aku mencintai-Mu melebihi segala yang ada di dunia ini
Izinkan aku mencintai orang-orang yang mencintai-Mu
Izinkan aku mencintai segala perkara yang dapat menjuruskan
aku untuk mencintai Mu


Melihatmu.....!
Seperti berkelana jauh menjelajah bintang
memetik setiap noktah-noktah cahayanya
yang membentuk wajahmu dirangka langit
lalu melukiskannya kembali
di kanvas hati, dengan lembut cahaya bulan
yang terbit dari indah matamu.

Bagai menikmati setiap tetes bening embun
yang menyebar rata pada rumput pekarangan
lalu menuainya satu-satu
dan kupintal rapi bersama desir rindu
yang terus mengalun meski mata sudah terjaga
dari rangkaian mimpi indah tentangmu.

Laksana menikmati larik pelangi dibatas cakrawala
Yang melengkung sempurna serupa senyummu
lalu dari sana, kujadikan setiap bilah warnanya
menjadi seikat puisi, yang kukirimkan padamu
bersama derai gerimis dan desah pilu tak berkesudahan.

Seperti mengayuh sampan kecil di danau yang sepi
Dimana setiap kali kayuhnya yang jatuh
memercik menerpa air, Adalah detak-detak jantungku
yang telah lelah menghitung waktu
sejak dirimu berlalu dan meninggalkan jejak lembut cahaya bulan
juga serpih kenangan, mengendap didasar hati, dari matamu…..!

Untuk Perempuan yang Menyimpan Lembut Cahaya Bulan di Matanya

Jika saja 1000 tahun ku lewati waktu hanya bersamamu ..
Rasanya terlalu singkat..
Namun sayang sedetikpun ku tak bisa melewatinya denganmu..
Walaupun di alam yang berikutnya..
Jika saja Rahmat dari Sang Pencipta Mengantarku ke SurgaNya,
Maka aku kan meminta Dia mencipta Manusia yang seperti kamu....?

by bkn pujangga

Cinta Musafir



Korelasi cinta menggapai angan sepoi
lamunan kasih menggebu diantara otakku yang bergelayutan bersama saraf – saraf
rindu dan terbuai akan virus yang mematikan
diantara jantung yang berdegup seraya
berhenti, ku pancarkan hasrat memeluk cita yang selama ini bersarang dalam
hayal.

Indahnya hari berjalan dengan awan yang
selalu tersenyum, mentari itu menyambut pada bunga yang tumbuh, langkah
menyusuri segala arah mencari debu tiada
henti tandang dalam tubuh yang dekil ini, kerinduan ini gelegarkan jagat nyawa melayang dalam sekotak TV, tangisan
terdengar dari kejauhan terbang cerita berita.

Rerumputan kering terlihat di belakang
sekolahku, aroma syahdu ayat – ayat cinta bergelayutan diantara embun rambut
kepala, dalam sekejap, mata ini kerangka masa membahana dalam padang pasir
hamparan doa, tubuh ini merasa lemah tuk gapai cinta sang pujangga, otot – otot
dalam tubuh mulai mengendur seakan dunia ini menghentak seisi jagat raya,
memblokir, menerawang bersama awan putih dari surga, apakah manusia menerima
kenyataan tanpa adanya kesimpangan dan keraguan, pegangan itu telah dibawa oleh
kasih cinta sang kholik sebagai wahyu yang Maha dahsyat dari sang pencipta alam
jagat raya ini.

Alangkah damai bidadari itu menunggu
pada insan yang telah memperjuangkan Iman dan Keyakinan pada sang kholik,
pancaran ibadah berbajukan nurani Islam, shahadat sebagai aliran darah , sujud
dalam taqwa, mati bersama senyum keikhlasan menunggu ridhoNya.

Insan antara adam dan hawa selalu
bersama sebagai potret awal kehidupan dimana cinta itu hilang melayang turun
kebumi terpatri tergoda makhluk kuldi, kini kita sandarkan tembok baja pada
hembusan nafas dzikir pada Ilahi, tertunduk menggapai khusnul khotimah cinta
pada akhir kehidupan, bertandang dan menjamu seluruh jiwa pada sang cipta.


Ashhaduallailahaillallah, dunia ini
mulai sakit entah kapan nafas kita di ajak bermain ke alam akhirat oleh
malaikat maut yang selalu menemani hidup manusia,………..

Kini aku menunduk menangis bersama dosa
dosa ampunkan insan yang membaca coretan hati sang musafir cinta.


Awan yang memutih itu menyapa dengan segala fana menggapai angan memberi salam dalam
kewajiban sang makhluk mengenakan pakaian hati yang kan disirami nada
instrospeksi hingga jiwa tertutupi dengan pakaian kamilin, syair tak beri
kesejukan dalam rona kegundahan iman hanya satu kuinginkan bacaan embun
penyejukan dalam ruhaniyah Al-Qur`an yang suci, jalan itu terus berubah bersama
roda perputaran zaman yang menggelitik bulu roma tubuh dekil dengan kayuhan
angin menggelombang samudra nun jauh, kekuatan kilat tak bisa mengalahkan akan
cinta sang Musafir pada Tuhannya, Tuhan Musafir tak pernah ada dan entah dimana, namun....!
Nuraninya terus berdenyut berteriak kamu diciptakan dan siapa yang mencipta ?

Langkah musafir terus bergontai menyusuri jalan – jalan yang berkelok, debu beterbangan bersama angin menyusuri lorong – lorong gelap, hanya Iman dan Islam yang
menerangi jagat raya kolbu, darah bergejolak menghentakkan berdemo meminta
ampunan atas jasad yang tak kenal lelah menemani ruh yang menunggu pertanggung
jawaban bersama timbangan akhirat.

Tangan – tangan kan berbicara yang telah menemani Musafir
bermain di alam dunia. Musafir bersenda gurau pada baju rombengnya, kenapa
engkau erat memeluk tubuhku yang sudah renta, bumi sebentar lagi akan mengunyah
segala yang ada dalam tubuh hingga tulang yang terus berdzikir atas ciptaan-Nya,
dan cacing berpesta menikmati makanan
dalam alam kubur. Cinta Musafir pada Tongkat Keyakinan Nurani mencari tuhan
hingga mulut berhenti mengalunkan nada istighfar atas-Nya. Mata menatap segala
penjuru antara hitam dan putih menyatu menuju pada kalamNya, entah kapan, dunia
mengalunkan kesucian alqur`an yang

kan membawa Musafir pada kepastian
perjalanan dengan tiket Khusnul Khotimah. Tak terasa air hujan turun deras
berlinang dari mata menghiasi wajah kepolosan akan sejuta impian bersama
bidadari surga, namun terhenti kala badai mengernyit kegundahan dalam lamunan
yang tak mungkin, bangkit tertatih – tatih kepala menongak sambil mengalunkan
nyanyian cinta bersama sholawat pada Insan kamil.

Angkara
menerjang bersama puyuh, merpati terus terbang melayang dalam kesetiaan, sang
malaikat kepakkan sayap pada bumi yang sedang dipijak oleh berjuta – juta
makhluk, kian hari mentari malu menyinari bumi, jam alam kokokan ayam jantan
saling sahut menyahut bangun insan jalani hidup, entah dosa atau pahala yang
terkantongi, hati Musafir menjerit kuatkah diriku jalani seribu tahun lagi
ataukah detik kedepan malaikat menjemput dengan segala senyum dengan bidadari
menyapa mengajak kedunia entah berantah, kini perjalanan hari berbeda roda
takdir menyelimuti, alam berubah jadi hitam, nafas mulai enggan berhembus,
jantung tak lagi menari bersama aliran darah gerak langkah mulai terhenti kaki
tak kuat menahan asa. Tertunduk sujud berdoa hamparan permadani menggelagar
bersama tangisan haru, memang hari ini sudah terjadwal dalam luh mahfudz aku
harus bertemu malaikat dan bidadari yang sudah lama menanti.

Baju rombeng itu menangis, tongkat itu bersedih, kala sang tuan pergi mengikuti arus
buku harian Tuhan sang Musafir, namun cinta tak pernah hilang karena kuikat
sekuntum bunga dzikir dalam hidupku, kuhias dalam ruangan yang penuh istighfar
bersama nafas dan aliran darah. Dan mulut bersedih terus berucap shalawat atas
insan kamil, dan akhir perjalanan mulut Musafir tersenyum memberi salam pada
makhluk dan musafir – musafir lainnya dengan tersedak akhir nafas terucap
Wassalamu`laikum Warahmatullah HiWabarokatuh, selamat jalan kawan dari dunia
yang tak terkontrol hanya akal dan Iman Islam yang terikat sekuat baja dalam
Nurani Hidup.....!

by bkn pujangga