Selasa, 12 Februari 2019
Diam
Dari Abu Hurairah ra diceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda :
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir,hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam."
Uqbah bin Amir menceritakan, "saya bertanya kepada Rasulullah saw "Apakah keselamatan itu?" Beliau menjawab," Jagalah lisanmu, perluaslah rumahmu, dan menangislah akan dosa-dosamu."
Diam adalah pondasi keselamatan dan merupakan penyesalan terhadap berbagai celaan. Oleh karena itu kewajiban diam di tetapkan oleh syara', perintah dan larangan. Sedangkan diam pada saat-saat tertentu adalah sifat pemimpin, sebagaimana ungkapan bahwa berbicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik.
Abu Ali Ad Daqqaq berkata, "Barangsiapa yang mendiamkan kebenaran,maka ia ibarat syetan yang bisu."
Sikap diam sambil memperhatikan merupakan bagian dari perilaku orang-orang yang baik. Allah swt berfirman :
"Apabila dibacakan AlQuran maka hendaklah di dengarkan dan diperhatikan agar kamu sebagian mendapatkan rahmat."
QS Al A'Raaf 204
Menyimpan mulut didepan orang yang diam merupakan sikap yang baik untuk menghindari kebohongan, umpatan dan kekejaman raja.
Diam terbagi menjadi 2, yaitu diam secara lahir dan diam secara bathin. Orang yang bertawakal hatinya selalu diam dengan meninggalkan berbagai tuntutan ekonomi. Sedangkan orang yang berma'rifat hatinya akan selalu diam dengan mempertemukan ketetapan hukum melalui sikap yang baik. Oleh karena itu perbuatan yang baik adalah yang dapat dipercaya, sedangkan ketetapan yang baik adalahhal yang dapat diterima.
Dzunun Almisri pernah di tanya oleh seseorang, "siapakah yang mampu menjaga diri?"
"Orang yang betul-betul menjaga mulutnya"
Jawaabnya.
Menurut suatu riwayat, Abu Bakar Ashshidiq meletakkan batu kecil didalam mulut beliau agar bicaranya dapat diminimalkan.
Sebgian ahli hikmah telah berkata "Manusia diciptakan Allah swt dengan mempunyai satu mulut, dua mata dan dua telinga agar dia dapat mendengar dan melihat lebih banyak dari apa yang dia katakan".
@hmhartani 03082016mrabu_
Minggu, 10 Februari 2019
Tasyahud
اني وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ المُشْرِكِيْن . إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْن لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ المُسْلِمِيًن
Sesungguhnya aku menghadapkan mukaku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk golongan orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, karena itu aku rela diperintah, dan aku adalah golongan orang muslim.
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ للهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيد نا مُحَمَّد وعلى آلِ سيد نا مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى سيد نا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيد نا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سيد نا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيد نا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيد نا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيد نا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد. اَلْلَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَجَّالِ .
Segala kehormatan, keberkahan, dan kebaikan Allah. Salam, rahmat, dan berkah-Nya kupanjatkan untuk Nabi (Muhammad). Salam keselamatan semoga tetap untuk kami sebagai hamba yang sholeh. Aku bersaksi (bersumpah dan berjanji) bahwa tiada ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkan sholawat-Mu kepada Nabi Muhammad sebagaimana Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Diseluruh alam semesta Engkaulah Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari siksa jahannam dan siksa kubur serta dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari kejahatan fitnah nya Dajjal.
by_hm_hart.
Shalat dan Hukumnya
A. Syarat Wajib Shalat
Pengertian kata ‘syarat’ secara bahasa bermakna alamat. Sedangkan secara epistemologi ialah sesuatu yang harus ada (ada atau dilakukan) karena ketiadaannya akan menyebabkan tidak adanya sesuatu. Namun, keberadaannya tidak mengharuskan ada dan tidak adanya sesuatu. Syarat merupakan hal yang harus dilakukan sebelum melakukan sesuatu.
Pengertian dari syarat wajib shalat adalah syarat yang menjadikan seseorang menanggung kewajiban untuk melaksanakan shalat.
Syarat wajib shalat ada tiga, yaitu :
Islam
Balig
Berakal.
Jika salah satu dari tiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka seseorang tidak mempunyai kewajiban untuk shalat.
B. Syarat Sah Shalat
Syarat sah shalat adalah sesuatu yang harus dipenuhi oleh seseorang yang melakukan shalat agar shalatnya menjadi sah. Syarat sah shalat ada delapan, yaitu :
Suci dari hadats besar dan hadats kecil
Suci dari najis, baik pakaiannya, badannya, maupun tempat shalatnya.
Menutup aurat
Menghadap qiblat
Memasuki waktu shalat
Mengetahui fardunya shalat
Tidak boleh mengitiqadkan fardunya shalat menjadi sunah
Menjauhi hal-hal yang membatalkan shalat
C. Rukun Shalat
Rukun shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak dianggap secara syar’i dan juga tidak bisa diganti dengan sujud syahwi. Rukun shalat ada delapan belas, yaitu :
Niat
Berdiri jika mampu
Takbiratul ihram
Membaca surat al-Fatihah diawali dengan membaca bismillahirrahmanirrahim
Ruku
Thuma’ninah dalam ruku
I’tidal
Thuma’ninah dalam i’tidal
Sujud
Thuma’ninah dalam sujud
Duduk diantara dua sujud
Thuma’ninah ketika duduk diantara dua sujud
Duduk terakhir
Tasyahud dalam duduk terakhir
Membaca shalawat dan salam kepada Nabi SAW
Salam pertama
Tertib
Mualat
D. Sunah Haiat Shalat
Sunah haiat adalah amalan sunah dalam shalat yang apabila terlupa tidak perlu dilakukan sujud sahwi. Sunah haiat dalam mengerjakan shalat ada lima belas, yaitu :
Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ruku, dan i’tidal
Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri
Membaca doa iftitah
Membaca isti’adzah
Mengeraskan bacaan ketika shalat jahr dan memelankan bacaan ketika shalat sirr
Membaca amin
Membaca surat lain setelah membaca al-Fatihah
Bertakbir ketika hendak ruku dan bangun dari ruku
Mengucapkan (Sami’Allahu liman hamidah)
Membaca tasbih dalam ruku dan sujud
Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha ketika duduk
Menggenggam jari-jari tangan kanan, kecuali jari telunjuk dalam bertasyahud, dan mengembangkan jari-jari tangan kiri.
Duduk iftirasyi dalam semua duduk
Duduk tawarruk pada saat duduk terakhir
Melakukan salam kedua
E. Sunah Ab’ad Shalat
Sunah abad ialah amalan sunah dalam shalat yang apabila terlupa harus melakukan sujud sahwi.
Sunah ab’ad dalam shalat ada tujuh, yaitu :
Membaca tasyahud awal
Duduk dalam tasyahud awal
Membaca shalawat kepada nabi dalam tasyahud awal
Membaca shalawat kepada keluarga nabi dalam tasyahud akhir
Membaca doa qunut
Membaca shalawat kepada nabi dalam doa qunut
Membaca shalawat kepada keluarga nabi dalam doa qunut
F. Hal-hal yang Membatalkan Shalat
Perkara yang membatalkan shalat ada sebelas, yaitu :
Berbicara dengan sengaja
Banyak bergerak
Hadats
Terkena najis
Terbukanya aurat
Berubah niat
Membelakangi qiblat
Makan
Minum
Tertawa terbahak-terbahak
Murtad
hmhart_ ٥/٠٦/١٤٤٠
Jumat, 08 Februari 2019
Shalat
Shalat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib ada padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya. Adapun syarat-syaratnya ada sembilan:
Islam,
Berakal,
Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk),
Menghilangkan hadats,
Menghilangkan najis,
Menutup aurat,
Masuknya waktu,
Menghadap kiblat,
Niat.
Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat.
Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah).
Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka shalat tidak ada (yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya, pent.).
Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat shalat di sini ialah syarat-syarat sahnya shalat tersebut.
Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Shalat
1. Islam
Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla,
“Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal.” (At-Taubah:17)
Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqan:23)
Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Aali ‘Imraan:85)
2. Berakal
Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah,
“Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).
3. Tamyiz
Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.” (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)
4. Menghilangkan Hadats (Thaharah)
Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim dan selainnya)
Dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`.” (Muttafaqun ‘alaih)
5. Menghilangkan Najis
Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan pakaianmu, maka sucikanlah.” (Al-Muddatstsir:4)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya.”
6. Menutup Aurat
Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah).” (HR. Abu Dawud)
Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.
Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu ‘anhu,
“Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.”
Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raaf:31) Yakni tatkala shalat.
7. Masuk Waktu
Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: “Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini.”
Dan firman Allah ‘azza wa jalla,
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`:103)
Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Israa`:78)
8. Menghadap Kiblat
Dalilnya firman Allah,
“Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (Al-Baqarah:144)
9. Niat
Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur, “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab)
Rukun-Rukun Shalat
Rukun-rukun shalat ada empat belas:
Berdiri bagi yang mampu,
Takbiiratul-Ihraam,
Membaca Al-Fatihah,
Ruku’,
I’tidal setelah ruku’,
Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh,
Bangkit darinya,
Duduk di antara dua sujud,
Thuma’ninah (Tenang) dalam semua amalan,
Tertib rukun-rukunnya,
Tasyahhud Akhir,
Duduk untuk Tahiyyat Akhir,
Shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Salam dua kali.
Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat
1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampu
Dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat ‘Ashar), serta berdirilah untuk Allah ‘azza wa jalla dengan khusyu’.” (Al-Baqarah:238)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah dengan berdiri…” (HR. Al-Bukhary)
2. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: ‘Allahu Akbar’, tidak boleh dengan ucapan lain
Dalilnya hadits, “Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya, “Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah.” (Idem)
3. Membaca Al-Fatihah
Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka’at, sebagaimana dalam hadits,
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaih)
4. Ruku’
5. I’tidal (Berdiri tegak) setelah ruku’
6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
7. Bangkit darinya
8. Duduk di antara dua sujud
Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah dan sujudlah.” (Al-Hajj:77)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi.” (Muttafaqun ‘alaih)
9. Thuma’ninah dalam semua amalan
10. Tertib antara tiap rukun
Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii` (orang yang salah shalatnya),
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, …
Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata:
‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
‘Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku’lah hingga kamu tenang dalam ruku’, lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
11. Tasyahhud Akhir
Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan:
‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih, assalaamu ‘alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril ‘alaihis salam dan Mikail ‘alaihis salam)’, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jangan kalian mengatakan, ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya)’, sebab sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, ‘Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan’, …
” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.
12. Duduk Tasyahhud Akhir
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat.” (Muttafaqun ‘alaih)
13. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian shalat… (hingga ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.”
Pada lafazh yang lain, “Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
14. Dua Kali Salam
Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… dan penutupnya (shalat) ialah salam.”
Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka shalatnya batal, harus diulang dari awal. Wallaahu A’lam.
Maraaji’: Syarh Ad-Duruus Al-Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, karya Asy-Syaikh Ibnu Baaz dengan susunan Muhammad bin ‘Ali Al-Arfaj.
(Dikutip dari link //fdawj.atspace.org/awwb/th3/26.htm, Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-26 Tahun ke-3 / 27 Mei 2005 M / 18 Rabi’uts Tsani 1426 H)
Wajib-Wajib Shalat
Setelah pada edisi yang lalu dijelaskan syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, sekarang akan dibahas hal-hal yang wajib dalam shalat atau dengan istilah lain wajib-wajib shalat, dan akan dibahas pula sunnah-sunnah dalam shalat.
Adapun wajib-wajib (hal-hal yang wajib dalam) shalat itu ada delapan:
Semua takbir, selain Takbiiratul Ihraam
Mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri
Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua
Mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiim saat ruku’
Mengucapkan Subhaana rabbiyal a’laa saat sujud
Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud
Membaca Tasyahhud awal
Duduk untuk tasyahhud awal.
Penjelasan Wajib-wajib Shalat
1. Semua takbir, kecuali Takbiiratul Ihraam
Sesuai ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir di setiap naik dan turunnya, berdiri dan duduknya.” (HR. Ahmad, An-Nasa`iy dan At-Tirmidziy menshahihkannya)
Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika imam bertakbir maka bertakbirlah.”
Ini adalah perintah, sedangkan perintah menunjukkan wajib.
2. Mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiim saat ruku’
Sesuai dengan hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang menggambarkan shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau dalam ruku’nya mengucapkan, “Subhaana rabbiyal ‘azhiim” (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung) dan pada sujudnya mengucapkan, “Subhaana rabbiyal a’laa” (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi)
3. Mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri
Berdasarkan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mensifati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) tatkala mengangkat punggungnya dari ruku’. (Muttafaqun ‘alaih)
4. Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua (imam, makmum dan yang shalat sendiri)
Sesuai kelanjutan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada hadits yang lalu, “Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berdiri mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu.”
5. Mengucapkan Subhaana rabbiyal a’laa saat sujud
Sesuai hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang lalu.
6. Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud
Sebagaimana dalam hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan antara dua sujud Rabbighfirlii. (HR. An-Nasa`iy dan Ibnu Majah)
7. Membaca Tasyahhud awal, dan
8. Duduk untuk tasyahhud awal
Sebagaimana hadits, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada tiap dua rakaat At-Tahiyyaat.”, dan pada hadits yang lain, “Jika kalian telah duduk pada tiap dua rakaat maka ucapkanlah At-Tahiyyaat.” (HR. Al-Imam Ahmad dan An-Nasa`iy)
Untuk lebih lengkapnya bisa meruju’ kepada kitab Syuruuthush Shalaati wa Arkaanuhaa, karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, kitab Al-‘Uddah Syarh Al-‘Umdah hal.13-17, dan kitab Manaarus Sabiil hal.70-87
Itulah penjelasan singkat tentang 8 (delapan) hal yang wajib dilakukan pada setiap shalat.
Perbedaan antara rukun-rukun shalat dengan wajib-wajib shalat adalah kalau meninggalkan rukun-rukun shalat baik dengan sengaja ataupun lupa maka akan membatalkan shalat, sedangkan meninggalkan wajib-wajib shalat, jika ditinggalkan secara sengaja maka shalatnya batal, namun jika ditinggalkan karena lupa maka dia melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa, sebagai gantinya)
080202019m_
Rukun-Rukun Shalat
Rukun-rukun shalat ada empat belas:
Berdiri bagi yang mampu,
Takbiiratul-Ihraam,
Membaca Al-Fatihah,
Ruku’,
I’tidal setelah ruku’,
Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh,
Bangkit darinya,
Duduk di antara dua sujud,
Thuma’ninah (Tenang) dalam semua amalan,
Tertib rukun-rukunnya,
Tasyahhud Akhir,
Duduk untuk Tahiyyat Akhir,
Shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Salam dua kali.
Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat
1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampu
Dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat ‘Ashar), serta berdirilah untuk Allah ‘azza wa jalla dengan khusyu’.” (Al-Baqarah:238)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah dengan berdiri…” (HR. Al-Bukhary)
2. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: ‘Allahu Akbar’, tidak boleh dengan ucapan lain
Dalilnya hadits, “Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya, “Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah.” (Idem)
3. Membaca Al-Fatihah
Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka’at, sebagaimana dalam hadits,
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaih)
4. Ruku’
5. I’tidal (Berdiri tegak) setelah ruku’
6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
7. Bangkit darinya
8. Duduk di antara dua sujud
Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah dan sujudlah.” (Al-Hajj:77)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi.” (Muttafaqun ‘alaih)
9. Thuma’ninah dalam semua amalan
10. Tertib antara tiap rukun
Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii` (orang yang salah shalatnya),
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, …
Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata:
‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
‘Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku’lah hingga kamu tenang dalam ruku’, lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
11. Tasyahhud Akhir
Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan:
‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih, assalaamu ‘alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril ‘alaihis salam dan Mikail ‘alaihis salam)’, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jangan kalian mengatakan, ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya)’, sebab sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, ‘Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan’, …
” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.
12. Duduk Tasyahhud Akhir
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat.” (Muttafaqun ‘alaih)
13. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian shalat… (hingga ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.”
Pada lafazh yang lain, “Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
14. Dua Kali Salam
Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… dan penutupnya (shalat) ialah salam.”
Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka shalatnya batal, harus diulang dari awal. Wallaahu A’lam.
Maraaji’: Syarh Ad-Duruus Al-Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, karya Asy-Syaikh Ibnu Baaz dengan susunan Muhammad bin ‘Ali Al-Arfaj.
(Dikutip dari link //fdawj.atspace.org/awwb/th3/26.htm, Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-26 Tahun ke-3 / 27 Mei 2005 M / 18 Rabi’uts Tsani 1426 H)
Wajib-Wajib Shalat
Setelah pada edisi yang lalu dijelaskan syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, sekarang akan dibahas hal-hal yang wajib dalam shalat atau dengan istilah lain wajib-wajib shalat, dan akan dibahas pula sunnah-sunnah dalam shalat.
Adapun wajib-wajib (hal-hal yang wajib dalam) shalat itu ada delapan:
Semua takbir, selain Takbiiratul Ihraam
Mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri
Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua
Mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiim saat ruku’
Mengucapkan Subhaana rabbiyal a’laa saat sujud
Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud
Membaca Tasyahhud awal
Duduk untuk tasyahhud awal.
Penjelasan Wajib-wajib Shalat
1. Semua takbir, kecuali Takbiiratul Ihraam
Sesuai ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir di setiap naik dan turunnya, berdiri dan duduknya.” (HR. Ahmad, An-Nasa`iy dan At-Tirmidziy menshahihkannya)
Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika imam bertakbir maka bertakbirlah.”
Ini adalah perintah, sedangkan perintah menunjukkan wajib.
2. Mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiim saat ruku’
Sesuai dengan hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang menggambarkan shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau dalam ruku’nya mengucapkan, “Subhaana rabbiyal ‘azhiim” (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung) dan pada sujudnya mengucapkan, “Subhaana rabbiyal a’laa” (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi)
3. Mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri
Berdasarkan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mensifati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) tatkala mengangkat punggungnya dari ruku’. (Muttafaqun ‘alaih)
4. Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua (imam, makmum dan yang shalat sendiri)
Sesuai kelanjutan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada hadits yang lalu, “Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berdiri mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu.”
5. Mengucapkan Subhaana rabbiyal a’laa saat sujud
Sesuai hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang lalu.
6. Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud
Sebagaimana dalam hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan antara dua sujud Rabbighfirlii. (HR. An-Nasa`iy dan Ibnu Majah)
7. Membaca Tasyahhud awal, dan
8. Duduk untuk tasyahhud awal
Sebagaimana hadits, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada tiap dua rakaat At-Tahiyyaat.”, dan pada hadits yang lain, “Jika kalian telah duduk pada tiap dua rakaat maka ucapkanlah At-Tahiyyaat.” (HR. Al-Imam Ahmad dan An-Nasa`iy)
Untuk lebih lengkapnya bisa meruju’ kepada kitab Syuruuthush Shalaati wa Arkaanuhaa, karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, kitab Al-‘Uddah Syarh Al-‘Umdah hal.13-17, dan kitab Manaarus Sabiil hal.70-87
Itulah penjelasan singkat tentang 8 (delapan) hal yang wajib dilakukan pada setiap shalat.
Perbedaan antara rukun-rukun shalat dengan wajib-wajib shalat adalah kalau meninggalkan rukun-rukun shalat baik dengan sengaja ataupun lupa maka akan membatalkan shalat, sedangkan meninggalkan wajib-wajib shalat, jika ditinggalkan secara sengaja maka shalatnya batal, namun jika ditinggalkan karena lupa maka dia melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa, sebagai gantinya)
080202019m_
Kamis, 07 Februari 2019
Nasehat Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib adalah salah satu sahabat Nabi yang namanya dikenal oleh semua umat muslim. Oleh Rasulullah, beliau diberi gelar babul ilmu atau pintunya ilmu, sehingga setiap perkataan Ali selalu direnungkan oleh para sahabat lainnya.
Termasuk semua nasihat yang pernah dikatakan Ali dulu. Berikut ini ada di antaranya 7 nasihat Ali bin Abi Thalib yang harus kita renungkan dan diingat seumur hidup kita. Kemudian mengamalkan semua nasihat tersebut.
1. Jangan bicara tentang hartamu di hadapan orang miskin
Membicarakan harta yang kita miliki dihadapan orang miskin sama saja dengan sombong. Kita merasa lebih unggul dari orang miskin karena memiliki harta yang jauh lebih banyak. Secara tak sadar, kita juga sudah menyakiti perasaan orang miskin tersebut.
2. Jangan bicara kesehatanmu di hadapan orang sakit
Saat bertemu orang sakit, jangan bicarakan soal kesehatanmu di depannya. Sebab perkataanmu akan menyakiti perasaan orang sakit. Perlu diingat, orang yang sakit sedang belajar menghargai betapa nikmatnya sehat itu dan mereka sedang digugurkan dosanya oleh Allah bila ikhlas menerima semua penyakitnya. Maka dari itu, berilah semangat kepada orang sakit.
3. Jangan bicara kekuatanmu di hadapan orang lemah
Membicarakan keunggulan fisikmu, kecerdasanmu, kemampuanmu di depan orang yang kamu anggap lebih lemah dari kita juga termasuk perbuatan sombong. Kamu secara tidak sadar ingin disanjung dan disegani oleh orang lemah itu agar kamu ditakuti.
4. Jangan bicara kebahagiaanmu di hadapan orang yang sedih
Jika ada orang sedih mengajakmu berbicara, jangan sampai kamu membicarakan soal kebahagiaanmu seolah kamu mengejek orang sedih itu. Hiburlah mereka dengan menyemangati mereka bahwa semua kesedihan yang kita alami pasti akan digantikan dengan kebahagiaan.
5. Jangan bicara kebebasanmu di hadapan orang yang terpenjara
Tak semua orang bisa merasakan kebebasan, sebagian ada yang merasa terpenjara karena pekerjaannya atau permasalahan hidupnya. Jangan sampai kamu membicarakan tentang kebebasanmu kepada orang yang merasa terpenjara, karena hal itu bisa membuat orang tersebut berkecil hati.
6. Jangan bicara tentang anakmu di hadapan orang yang tidak mempunyai anak
Sebagian orang ada yang tidak dikaruniai anak, baik itu karena mandul atau memang belum ada kehendak dari Allah. Kehadiran anak bagi mereka sangat dinanti-nanti, kadang mereka sangat sedih karena tak kunjung punya anak. Jadi, jangan sampai kamu berbicara soal anak di depan orang yang tidak mempunyai anak karena itu akan menyakiti perasaannya.
7. Jangan bicara tentang orangtuamu di hadapan anak-anak yatim
Nasihat terakhir Ali adalah jangan membicarakan tentang orangtuamu di hadapan anak-anak yatim. Sebab perkataanmu akan menyakiti perasaan anak yatim yang sudah tidak bisa lagi merasakan hangatnya pelukan orangtua.
Ikutilah nasihat Ali, insyaallah kita akan hidup saling berdampingan bersama orang lain.
070202019m
Selasa, 29 Januari 2019
Mesjid
Mengapa Tempat Ibadah Umat Islam Disebut Masjid...?
Berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat sujud. Masjid merupakan suatu bangunan gedung atau lingkungan yang berpagar sekeliling, yang didirikan secara khusus sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT, khususnya untuk mengerjakan shalat. Istilah masjid berasal dari kata sajada-yasjudu yang berarti bersujud atau menyembah.
Karena masjid adalah Baitullah (rumah Allah), maka orang yang memasukinya disunahkan mengerjakan salat Tahiyyatul Masjid (menghormati masjid dua rakaat). Nabi Muhammad SAW bersabda, ''Jika salah seorang kamu memasuki masjid, jangan dulu duduk sebelum mengerjakan salat dua rakaat.'' (HR Abu Dawud).
Kata masjid merupakan bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan jama' (banyak) masaajid banyak terdapat dalam Alquran, antara lain dalam ayat berikut ini: ''Hai Anak Adam pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid...'' (QS Al-A'raaf [7]: 31).
Dalam ayat lainnya, Allah SWT berfirman yang artinya, ''Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah...'' (QS At-Taubah [9]: 18).
Sejarah perkembangan bangunan masjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah Islam dan pembangunan kota-kota baru. Pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, bila umat Islam menetap di suatu daerah baru, maka salah satu sarana untuk kepentingan umum yang mereka buat adalah masjid.
Masjid merupakan salah satu karya budaya umat di bidang teknologi konstruksi yang telah dirintis sejak masa permulaannya. Ini lantas menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam. Perwujudan bangunan masjid juga merupakan lambang dan cermin kecintaan umat Islam kepada Tuhannya dan menjadi bukti tingkat perkembangan kebudayaan Islam.
Bangunan-bangunan masjid yang menakjubkan keindahannya di bumi Spanyol, Suriah, Kairo, Baghdad dan sejumlah tempat di Afrika, menjadi bukti peninggalan monumental umat Islam yang pernah mengalami kejayaan di bidang teknologi konstruksi, seni dan ekonomi.
Masjid memiliki sejumlah komponen yaitu kubah, menara, mihrab dan mimbar. Adapun komponen masjid yang khas terdapat di Indonesia adalah beduk. Selain digunakan untuk tempat melaksanakan salat lima waktu, salat Jumat, salat Tarawih dan ibadah-ibadah lainnya, masjid juga digunakan untuk kegiatan syiar Islam, pendidikan agama, pengajian dan kegiatan lainnya yang bersifat sosial.
Fungsi masjid yang sesungguhnya dapat dirujuk pada sejarah masjid paling awal, yaitu penggunaan masjid pada masa-masa al-khulafaa-ar Rasyidun dan seterusnya. Pada masa-masa itu masjid paling tidak mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi keagamaan dan fungsi sosial. Fungsi masjid bukan hanya tempat salat, tapi juga lembaga untuk mempererat hubungan dan ikatan jamaah Islam yang baru tumbuh.
Rasulullah mempergunakan masjid sebagai tempat untuk menjelaskan wahyu yang diterimanya, memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan para sahabat tentang berbagai masalah, memberi fatwa, mengajarkan agama Islam, membudayakan musyawarah, menyelesaikan perkara-perkara dan perselisihan-perselisihan, tempat mengatur dan membuat strategi militer dan tempat menerima perutusan-perutusan dari Semenanjung Arabia.
hm_hart/١٢/٢/٢٠١٧/
Sejarah perkembangan bangunan masjid erat kaitannya dengan perluasan wilayah Islam dan pembangunan kota-kota baru. Pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, bila umat Islam menetap di suatu daerah baru, maka salah satu sarana untuk kepentingan umum yang mereka buat adalah masjid.
Masjid merupakan salah satu karya budaya umat di bidang teknologi konstruksi yang telah dirintis sejak masa permulaannya. Ini lantas menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam. Perwujudan bangunan masjid juga merupakan lambang dan cermin kecintaan umat Islam kepada Tuhannya dan menjadi bukti tingkat perkembangan kebudayaan Islam.
Bangunan-bangunan masjid yang menakjubkan keindahannya di bumi Spanyol, Suriah, Kairo, Baghdad dan sejumlah tempat di Afrika, menjadi bukti peninggalan monumental umat Islam yang pernah mengalami kejayaan di bidang teknologi konstruksi, seni dan ekonomi.
Masjid memiliki sejumlah komponen yaitu kubah, menara, mihrab dan mimbar. Adapun komponen masjid yang khas terdapat di Indonesia adalah beduk. Selain digunakan untuk tempat melaksanakan salat lima waktu, salat Jumat, salat Tarawih dan ibadah-ibadah lainnya, masjid juga digunakan untuk kegiatan syiar Islam, pendidikan agama, pengajian dan kegiatan lainnya yang bersifat sosial.
Fungsi masjid yang sesungguhnya dapat dirujuk pada sejarah masjid paling awal, yaitu penggunaan masjid pada masa-masa al-khulafaa-ar Rasyidun dan seterusnya. Pada masa-masa itu masjid paling tidak mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi keagamaan dan fungsi sosial. Fungsi masjid bukan hanya tempat salat, tapi juga lembaga untuk mempererat hubungan dan ikatan jamaah Islam yang baru tumbuh.
Rasulullah mempergunakan masjid sebagai tempat untuk menjelaskan wahyu yang diterimanya, memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan para sahabat tentang berbagai masalah, memberi fatwa, mengajarkan agama Islam, membudayakan musyawarah, menyelesaikan perkara-perkara dan perselisihan-perselisihan, tempat mengatur dan membuat strategi militer dan tempat menerima perutusan-perutusan dari Semenanjung Arabia.
hm_hart/١٢/٢/٢٠١٧/
Sabtu, 26 Januari 2019
Bahagia Dunia dan Akhirat
4 golongan orang mendapat kebahagian dunia dan akhirat :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم قال أَرْبَعٌ مَنْ أُعْطِيْهِنَّ فَقَدْ أُعْطِيَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةٍ قَلْبٌ شَاكِرٌ وَلِسَانٌ ذَاكِرٌ وَبَدَنٌ عَلَى الْبَلَاءِ صَابِرٌ وَزَوْجَةٌ لَا تَبْغِيْهِ خَوْناً فِى نَفْسِهَا وَمَالِهِ (البيهقي، الطبرانين أبو يعلى) الدرر المنثور.
Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Bahwasannya Nabi saw. bersabda, ‘Ada empat hal yang siapa saja diberikan kepadanya berarti ia dikarunia kebaikan dunia dan akhirat: (1) hati yang senantisa bersyukur, (2) lisan yang selalu berdzikir, (3) badan yang sabar menghadapi ujian, dan (4) istri yang tidak berkhianat di dalam dirinya maupun harta suaminya.’” (H.R. Abu Ya’la, Baihaqi, dan Thabrani).
Manusia adalah makhluk yang mempunyai sifat tidak pernah puas, selalu mencari kebahagiaan menurut ukurannya masing-masing. Sehingga diilustrasikan dengan suatu nasihat bijak (hadits) sebagai berikut:
Nabi Muhammad SAW berkata : “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ingin memiliki lembah emas kedua ; seandainya ia memiliki lembah emas kedua, ia ingin memiliki lembah emas yang ketiga. Baru puas nafsu anak Adam kalau sudah masuk tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang mau kembali kepada-Nya.” (Hadits Riwayat Bukhari Muslim)
Padahal kehidupan di dunia ini hanyalah sementara sedangkan di akhirat kekal abadi. Tidak salah bila solusi terbaik baik setiap problematika manusia berujung pada agama, yang meyakini bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan materi dan tidak hanya dengan akal saja. Sejalan dengan hal ini bila tujuan kebahagiaan manusia telah diluruskan menjadi tujuan yang hakiki, kebahagiaan dunia dan akhirat dijaminkan atas dirinya. Ada resep bagi orang-orang yang beriman (meyakini hari akhirat) untuk mendapatkan kebahagiaan dunia-akhirat yaitu:
1. Hati yang bersyukur.
Sifat manusia yang tidak pernah puas itu mendorong manusia untuk terus-menerus mengejar dunia meskipun sebagian besar kenikmatan duniawi telah dicapai. Padahal tidak ada jaminan bagi siapapun yang telah mendapatkan kenikmatan dunia akan mendapati kebahagiaan, contohnya seseorang yang dulunya pas-pasan sehingga ke mana-mana naik motor berdua dengan istrinya. Setelah sukses dan bisa membeli mobil, masing-masing pergi dengan mobilnya sehingga akhirnya bercerai karena suatu sebab. Tinggallah penyesalan, “Mending dulu ya waktu masih susah rukun dengan istri/suami …” Lain dengan orang yang hatinya bersyukur, akan muncul sifat qona-ah (merasa cukup dengan yang dimiliki dan tidak dengki dengan kelebihan orang lain) sehingga tidak mudah tergoda bisikan setan yang mendorong untuk mendapatkan kenikmatan dengan cara yang keliru. Meskipun hidup dalam kekurangan, ketika hati bersyukur tidak merasa susah karena kebahagiaan hakiki adanya di hati.
2. Lisan yang selalu berdzikir (mengingat Allah).
Sumber malapetaka manusia salah satunya bersumber dari lisannya. Ketika seseorang tidak bisa mengendalikan lisannya maka kecelakaanlah yang akan didapatkannya. Namun sebaliknya, bila lisan selalu digunakan untuk kebaikan dan banyak mengingat Allah, maka kebahagiaan akan didapati meskipun dalam kondisi apapun. Lisan yang digunakan untuk beribadah dan saling menasihati untuk kebaikan akan memberikan manfaat bagi pemiliknya, di dunia maupun di akhirat. Allah akan mengabulkan setiap doa hambanya, karenanya lisan yang digunakan untuk memperbanyak berdoa adalah sikap terbaik bagi setiap manusia. Karenanyalah kebahagiaan dunia dan akhirat akan diperoleh.
3. Badan yang sabar dengan cobaan.
Badan adalah nikmat yang Allah berikan kepada setiap manusia, dengannya manusia menggapai harapan kebahagiaannya di dunia. Sayangnya tidak jarang manusia menggunakannya juga untuk bermaksiat, sehingga meskipun ia mendapatkan kenikmatan tetapi hakikatnya akan menjerumuskan ia ke dalam jurang kenistaan. Setan selalu menggoda manusia untuk menggunakan badannya untuk bermaksiat, karena dengannya ia akan mendapat kemenangan. Contohnya ketika seseorang kesurupan dan dibacakan ayat-ayat Al Qur-an maka setan akan mencoba bertahan dalam tubuh yang kesurupan. Tetapi ketika seseorang memberinya sesaji dan setan itu pergi darinya maka kemenangan yang didapati hakikatnya adalah kalah karena mengikuti kemauan setan.
4. Istri atau Pasangan yang sholih dan tidak banyak menuntut.
Setiap manusia diberikan pasangan hidup untuk meraih ketenangan hidup. Pasangan yang terbaik bukanlah pasangan yang cantik/ganteng, kaya, dan berkedudukan tinggi melainkan pasangan yang sholih yang memberikan ketentraman lahir batin. Ilustrasinya, istri yang sholihah adalah istri yang pengertian dan sabar. Istri yang ketika suaminya pulang kerja tidak langsung menanyakan tentang upah sang suami, tetapi lebih pada memberikan servis terbaik untuk suami. Demikian juga suami, yang ketika pulang kerja tidak melampiaskan rasa kesal atau capeknya kepada istri. Meminta yang sewajarnya dan tidak berlebihan, memahami bahwa istri di rumah tidak berarti tidak capek apalagi yang sama-sama bekerja. Suami yang tidak segan membantu meringankan pekerjaan rumah, tidak menyerahkan semua urusan itu kepada istri. Pasangan yang sholih inilah yang akan menemani kita di dunia dan juga hingga di akhirat, karenanya tidak salah bila mesti saling mendukung untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki.
Published by الحج محمد هرتاني /١٥/٥/٢٠١٦م
1. Hati yang bersyukur.
Sifat manusia yang tidak pernah puas itu mendorong manusia untuk terus-menerus mengejar dunia meskipun sebagian besar kenikmatan duniawi telah dicapai. Padahal tidak ada jaminan bagi siapapun yang telah mendapatkan kenikmatan dunia akan mendapati kebahagiaan, contohnya seseorang yang dulunya pas-pasan sehingga ke mana-mana naik motor berdua dengan istrinya. Setelah sukses dan bisa membeli mobil, masing-masing pergi dengan mobilnya sehingga akhirnya bercerai karena suatu sebab. Tinggallah penyesalan, “Mending dulu ya waktu masih susah rukun dengan istri/suami …” Lain dengan orang yang hatinya bersyukur, akan muncul sifat qona-ah (merasa cukup dengan yang dimiliki dan tidak dengki dengan kelebihan orang lain) sehingga tidak mudah tergoda bisikan setan yang mendorong untuk mendapatkan kenikmatan dengan cara yang keliru. Meskipun hidup dalam kekurangan, ketika hati bersyukur tidak merasa susah karena kebahagiaan hakiki adanya di hati.
2. Lisan yang selalu berdzikir (mengingat Allah).
Sumber malapetaka manusia salah satunya bersumber dari lisannya. Ketika seseorang tidak bisa mengendalikan lisannya maka kecelakaanlah yang akan didapatkannya. Namun sebaliknya, bila lisan selalu digunakan untuk kebaikan dan banyak mengingat Allah, maka kebahagiaan akan didapati meskipun dalam kondisi apapun. Lisan yang digunakan untuk beribadah dan saling menasihati untuk kebaikan akan memberikan manfaat bagi pemiliknya, di dunia maupun di akhirat. Allah akan mengabulkan setiap doa hambanya, karenanya lisan yang digunakan untuk memperbanyak berdoa adalah sikap terbaik bagi setiap manusia. Karenanyalah kebahagiaan dunia dan akhirat akan diperoleh.
3. Badan yang sabar dengan cobaan.
Badan adalah nikmat yang Allah berikan kepada setiap manusia, dengannya manusia menggapai harapan kebahagiaannya di dunia. Sayangnya tidak jarang manusia menggunakannya juga untuk bermaksiat, sehingga meskipun ia mendapatkan kenikmatan tetapi hakikatnya akan menjerumuskan ia ke dalam jurang kenistaan. Setan selalu menggoda manusia untuk menggunakan badannya untuk bermaksiat, karena dengannya ia akan mendapat kemenangan. Contohnya ketika seseorang kesurupan dan dibacakan ayat-ayat Al Qur-an maka setan akan mencoba bertahan dalam tubuh yang kesurupan. Tetapi ketika seseorang memberinya sesaji dan setan itu pergi darinya maka kemenangan yang didapati hakikatnya adalah kalah karena mengikuti kemauan setan.
4. Istri atau Pasangan yang sholih dan tidak banyak menuntut.
Setiap manusia diberikan pasangan hidup untuk meraih ketenangan hidup. Pasangan yang terbaik bukanlah pasangan yang cantik/ganteng, kaya, dan berkedudukan tinggi melainkan pasangan yang sholih yang memberikan ketentraman lahir batin. Ilustrasinya, istri yang sholihah adalah istri yang pengertian dan sabar. Istri yang ketika suaminya pulang kerja tidak langsung menanyakan tentang upah sang suami, tetapi lebih pada memberikan servis terbaik untuk suami. Demikian juga suami, yang ketika pulang kerja tidak melampiaskan rasa kesal atau capeknya kepada istri. Meminta yang sewajarnya dan tidak berlebihan, memahami bahwa istri di rumah tidak berarti tidak capek apalagi yang sama-sama bekerja. Suami yang tidak segan membantu meringankan pekerjaan rumah, tidak menyerahkan semua urusan itu kepada istri. Pasangan yang sholih inilah yang akan menemani kita di dunia dan juga hingga di akhirat, karenanya tidak salah bila mesti saling mendukung untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki.
Published by الحج محمد هرتاني /١٥/٥/٢٠١٦م
Ka'bah dan Rahasia
Berikut hal merupakan keajaipan yang kurang diketahui tentang struktur Ka'bah dari sudut ilmiah :
Mekah adalah daerah yang memiliki gravitasi paling stabil.Tekanan gravitasinya tinggi, dan di situlah berpusatnya kebisingan yang membangun yang tidak bisa didengar oleh telinga.Tekanan gravitasi yang tinggi berdampak langsung pada sistem kekebalan tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala serangan penyakit.Gravitasi Tinggi = elektron ion negatif yang berkumpul di situ tinggi.Apa yang dimaksudkan di hati adalah gema yang tidak bisa didengar tetapi bisa terdeteksi frekuensinya. Pengaruh elektron menyebabkan kekuatan dalaman.kembali tinggi, penuh semangat untuk melakukan ibadah, tidak ada sifat putus asa, mau terus hidup, penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.Gelombang radio tidak bisa mendeteksi posisi Ka'bah.Bahkan teknologi satelit pun tidak bisa meneropong apa yang ada di dalam Ka'bah. Frekuensi radio tidak mungkin dapat membaca apa-apa yang ada di dalam Ka'bah karena tekanan gravitasi yang tinggi.Tempat yang paling tinggi tekanan gravitasinya, memiliki kandungan garam dan aliran sungai di bawah tanah yang banyak. Sebab itulah jika shalat di Masjidil haram meskipun di tempat yang terbuka tanpa atap masih terasa dingin.Ka'bah bukan sekadar bangunan hitam empat persegi tetapi satu tempat yang ajaib karena di situ pemusatan energi, gravitasi, zona magnetisme nol dan tempat yang paling dirahmati.Tidur dengan posisi menghadap Ka'bah secara otomatis otak tengah akan terangsang sangat aktif hingga tulang belakang dan menghasilkan sel darah.Pergerakan mengelilingi Ka'bah arah lawan jam memberikan energi hidup secara alami dari alam semesta. semua yang ada di alam ini bergerak sesuai lawan jam, Allah telah menentukan hukumnya begitu.Peredaran darah atau apa saja di dalam tubuh manusia menurut lawan jam.
Justru dengan mengelilingi Ka'bah sesuai lawan jam, berarti peredaran darah di dalam tubuh meningkat dan sudah tentu akan menambah energi. Sebab itulah orang yang berada di Mekkah selalu bertenaga, sehat dan panjang umur.Sedangkan jumlah tujuh itu adalah simbolik ke tidak terhingga banyaknya. Angka tujuh itu berarti tidak terhadap atau terlalu banyak. Dengan melakukan tujuh kali putaran sebenarnya kita mendapat ibadah yang tidak terhadap jumlahnya.Larangan memakai topi, songkok atau menutup kepala karena rambut dan bulu roma (pria) adalah ibarat antena untuk menerima gelombang yang baik yang dipancarkan langsung dari Ka'bah. Sebab itu lah setelah melakukan haji kita seperti dilahirkan kembali sebagai manusia baru karena segala yang buruk telah ditarik dan diganti dengan nur atau cahaya yang baru.Setelah selesai semua itu barulah bercukur atau Tahalul. Tujuannya untuk melepaskan diri dari pantang larang dalam ihram. Namun rahasia di sebaliknya adalah untuk membersihkan antena atau reseptor kita dari segala kekotoran agar hanya gelombang yang baik saja akan diterima oleh tubuh.
Website Published by hm_hartani
Senin, 21 Januari 2019
Siti Khadijjah Ra
Dia menjadi wanita pertama yang mengakui kenabian Muhammad.
Siapa tak kenal sosok Khadijah, perempuan agung istri pertama Rasulullah. Beliaulah ibu para mukminin hingga akhir zaman. Keteguhannya dalam agama tak perlu dipertanyakan. Kesetiaannya pada sang suami tak usah diragukan.
Ia menjadi wanita pertama yang memeluk Islam, mendukung suaminya. Bahkan, ia merelakan hartanya di jalan dakwah. Tak heran jika Khadijah merupakan salah satu wanita agung sepanjang sejarah.
Nama lengkapnya adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Dia lahir di Makkah pada 556 Masehi, putri pasangan Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za'idah, dari kabilah Bani Asad suku Quraisy. Ayah Khadijah dikenal sebagai seorang pemimpin yang populer di kalangan Quraisy.
Ia merupakan seorang pengusaha yang wafat dalam pertempuran Fujjar. Nasab Khadijah dari pihak ayah berhimpun pada nasab kakek Rasulullah yang keempat, yakni Qushai bin Kilab.
Hidup di tengah keluarga kaya, Khadijah dibesarkan dalam kemewahan. Azti Arlina dalam Belajar Bisnis Kepada Khadijah menyebutkan, Khadijah lahir dari keluarga bangsawan Quraisy.
Ia besar di kalangan keluarga yang memiliki pencarian hidup sebagai pedagang besar. Ia juga pernah mendapatkan warisan dari harta dua suaminya yang telah wafat. Tapi, semua kekayaan tersebut tidak membuat seorang Khadijah hanya duduk santai menikmati kekayaan.
Sebaliknya, Khadijah begitu ulet dalam berbisnis, sehingga namanya diperhitungkan pada zamannya sebagai pengusaha sukses. Suami pertama Khadijah, yakni Abu Halah Malak bin Nabash bin Zarrarah At-Tamimi.
Bersama sang suami, Khadijah mebuat bisnis yang besar. Sayangnya, sang suami meninggal dunia. Khadijah pun mendapat warisan yang besar. Dari pernikahan dengan Abu Halah, Khadijah dikaruniai dua anak, yaitu Hindun dan Halah. Keduannya merupakan sahabat Rasulullah. Hindun bahkan seorang rawi yang banyak meriwayatkan hadis Rasul.
Setelah menjanda beberapa lama, Khadijah kemudian menikah lagi dengan Atique bin Aith bin Abdullah Al-Makhzumi. Tapi, dalam mengarungi rumah tangga dengan suami keduanya Khadijah memiliki banyak ketidakcocokan hingga akhirnya bercerai.
Dari pernikahan kedua ini Khadijah sempat melahirkan seorang anak perempuan bernama Hindah. Dari putrinya ini, keturunan Khadijah menyebar di Madinah yang dikenal Bani Thahirah (keturunan wanita suci). Tapi, keturunan tersebut
terputus.
21/05/1439h
Langganan:
Postingan (Atom)

