Kamis, 23 Desember 2010

Mimpi



Guratan nasib terukir di dalam sebuah lembaran
Sunyi, senyap, sedih, silih bergantian
Menghiasi hari seperti mengolok
Membuka sisi kelam di sebuah kehidupan

Tak punya arti jiwa ini tercipta
Berkelumit dengan indahnya dunia fana
Tertawa terbahak melihatnya
Tangisan rintih jiwa menjalaninya

Kemanakah jiwa harus pergi
Meninggalkan hari-hari yang sepi
Menjalani hidup yang lebih berarti
Mengusir rasa sedih yang ada di hati
Tuk menjadi hamba yang lebih diberkati

Cinta datang membawa arti tenang
jiwa hilang telah kembali pulang
kenangan kelam tersibak oleh cahaya terang
seakan surga yang tiba-tiba datang.



Apakah semua itu buah dari sebuah mimpi
apakah semua yang telah kulalui ini hanya sebuah ilusi
mimpikah jiwa yang ingin mempunyai arti

oh, sungguh pantaskah meratapi sebuah mimpi
Kekosongan yang belum sempat dijalani

Namun akhirnya satu hal yang hamba sadari
Jiwa dicipta bukan untuk bermimpi, jiwa dicipta untuk mengejar mimpi
Membuat sebuah ilusi mempunyai arti
Sampai datang panggilan ILLAHI

Catatan Sang Wanita




Mampukah aku menjadi seperti Siti Khadijah...?
Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah,
Hartanya diperjuangkan ke jalan fisabillah,
Penawar hati kekasih Allah,
Susah dan senang rela bersama.

Dapatkah kudidik jiwa seperti Siti Aishah,
Isteri Rasulullah yang bijak,
Pendorong di kala kesusahan dan penderitaan,
Tiada sukar untuk dilaksanakan.

Mengalir air mataku,
Melihat pengorbanan puteri solehah Siti Fatimah,
Akur dalam setiap perintah,
Taat pada abuyanya yang sentiasa berjuang,
Tiada memiliki harta dunia,
Layaklah ia sebagai wanita penghulu syurga.

Ketika aku marah,
Inginku intip serpihan sabar,
Daripada catatan hidup Siti Sarah.
Tabahkah jiwaku,
Setabah umi Nabi Ismail,
Mengendong bayinya yang masih merah,
Mencari air penghilang dahaga,
Di terik padang pasir merak,
Ditinggalkan suami akur tanpa bantah,
Pengharapannya hanya pada Allah,
Itulah wanita Siti Hajar.

Dapatkah aku mengikut jejak Siti Rahmah,
Permaisuri Nabi Ayyub,
Pasrah dengan dugaan Tuhannya,
Walau pernah tersungkur ke dalam jerat syaitan,
Namun ia kembali,
Kerana iman yang kuat,
Telah dijanjikan syurga adalah balasannya,
Bahagia adalah miliknya.

Mampukah aku menjadi wanita solehah?
Mati dalam keunggulan iman,
Bersinar indah, harum tersebar,
Bagai wanginya pusara Masyitah.

kry bukan pujangga

Semua Sama




Presiden, Sutradara, Direktur, Penulis, Seniman, org kaya, org miskin,
Apakah mereka alien...?

Mereka itu adalah manusia biasa sama seperti kita2 ini.
Punya 1 kepala, 2 mata, 2 kaki , 2 tangan, 1 tubuh, 1 mulut, 1 hidung...!

Makin lama kesini makin aku ketemu banyak orang dan berbagaimacam kalangan. Mereka semua sama.
Pernah bertemu dan bertukar pikiran dengan berbagai macam orang (dr tukang becak sampai orang terkenal) mereka semua sama

Manusia yang punya kelebihan dan juga kekurangan.
Manusia yang ingin dicintai dan dimengerti.
Manusia yang punya pemikiran, dsb.



Ya mereka hebat, tapi mereka semua sama seperti kita.
We are human being.

Allah tdk melihat penampilan fisikmu & tidak pula kepada rupamu, tetapi Allah melihat hatimu (HR.Muslim).

Dan Allah mengetahui apa yg tersimpan dlm hatimu (QS.33:51)



Aku adalah Kamu

"Tanah yg kuinjak sama sepertimu,
langit yg kujunjung sama sepertimu.
Aku tak berbeda darimu..
Udara yg kuhirup, kau hirup juga.
Dingin yg kau rasa, kurasakan sama.
Kita tak terlihat beda..
Matahari takkan terlihat beda dari tempatmu.
Bulan dan bintang akan terlihat sama dari tempatku.
Memberikan cahaya yg sama untuk kita.
Kendati doa terucap beda,
anugerah yg sama kita terima.
Aku adalah kamu, manusia yg sama....!

by Bukan Pujangga

Rabu, 22 Desember 2010

Senyum Menyapa



Senyum Menyapa


Aku hanya ingin menyapamu dengan memanggil namamu
Mendengar cerita tentang kisah impianmu yang telah pilu
Aku tak akan mengeluh dihadapmu karena aku ada untukmu

Tak kuhiraukan gunda dihatiku
Kubiarkan telingaku mendengar semua isi hatimu
Tanpa kau tau apa isi didalam hatiku

Taukah kamu melihatmu tertawa adalah sebaris bahagia untukku
Pilumu adalah sedih yang mendera didadaku
Aku akan rela untukmu mendengar semua eluhanmu
Meskipun akhirnya engkau bukanlah milikku

hari-hari ku yang sepi…
telah membawa hidupku dalam kesedihan..
canda tawa yang dulu ada..
telah terbawa jauh oleh rasa cintaku padamu…
aku hanya bisa berharap..
kau akan tau dan mengerti…
memahami dan merasakan apa yang aku rasakan..
dan membawa kembali senyuman untuk ku…
senyuman yang dulu kau bawa bersama cintaku…

tapi ada satu hal yang selalu aku takutkan…
kau tak pernah merasakan apa yang aku rasakan..
kau hanya menganggapku sebagai teman..
itu yang selalu membuatku merasa sepi…
tak mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini…
rasa cinta yang terpendam di dasar lubuk hati..

itu yang selalu membuatku tersenyum saat kau bahagia..
melihat kau bersama dia yang kau cintai…
dan dia itu bukan aku…
mungkin memang aku tersenyum bahagia…
tapi sebenarnya hatiku menangis…
menyadari bahwa cintamu bukan untuk ku…
tapi aku akan tetap tersenyum bahagia…
karna bahagiamu bahagia ku juga….

kala sepi menyayat hati
kelelahan jiwa menemani
tertatih-tatih langkahkan kaki
pijak jalan kehidupan penuh duri
raih mimpi tak bertepi
gapai cinta tak pernah bermakna

senandungkan kidung asmara
urai dalam bait-bait derita
debur ombak kehidupan
hantam karang keteguhan hati
mencoba tegarkan jiwa
dari cerita cinta penuh luka

ku akui begitu banyak cinta
yang datang dan pergi
tapi tak satupun cinta yang mampu
menyemaikan segala rasa dikalbu
yang telah gersang dan mengering
walau bibir selalu tersenyum
tapi hati menangis pilu
dihimpit dilema yang membelenggu

jangan cintai………
karena tak pantas untuk dicintai
jangan sayangi……..
karena tak pantas untuk disayayangi
jangan berharap……..
karena tak pantas untuk diharap
biarlah semua berjalan
mengikuti alur roda kehidupan
biarlah semua berlalu mengikuti
kehendak yang MAHA TAHU.....!

by Bukan Pujangga

Mencari Cahaya



Aku adalah kegelapan
sendiri dalam gelap
Berlari dan berlari terus mencari secercah cahaya
Yang sanggup menerangi ruang hati ini
Jalan yang terjal, tajam dan berliku
Biarlah kutempuh
walau terasa sakit

Sakit di jiwa dan ragaku, aku tak peduli
Karena aku seorang hamba yang tiada arti
Terus kuberlalu mencari kebenaran yang hakiki
Hingga jalanku terseok - seok, kakiku pincang mataku buta
Tanganku buntung, telingaku tuli

Biarlah semua itu aku tak peduli
karena aku hamba yang tiada arti
Walau sakit dan perih aku tetap tak peduli
Asalkan aku bisa menemukan cahaya itu
Cahaya menuju keabadian yang hakiki

Yaa Robbi...
Wahai Tuhanku
Tunjukkan aku jalan lurusmu
Karena bagiku
Seteguk rahmatMu akan menghapus dahaga jiwa yang kering ini
Secercah hidayahMu menetapkan imanku
Namun...hatiku yang pincang
Hingga aku tak kuasa berjalan dijalan - Mu


Hatiku buta... yaa Robbi
Hingga aku tak bisa merasakan indahnya ma'rifat kepada- Mu
Hatiku buntung... Hancur…
Dalam berdoa pun aku tak bisa menengadahkan kekhusuan dan Ketulusan
Hatiku tuli… Pekak…
Hingga aku tak bisa mendengar arah dimana petunjukMu Menuntunku

Duhai Rosululloh…..
Yaa Sayyidii... Yaa Rosululloh...
Aku umatmu yang tiada arti
Hatiku buta sehingga semua menjadi gelap
Kuyakin engkau mendengar rintihan hati ini
Kuyakin engkau merasakan kepedihan hati

Perihnya jiwa jika jauh dari sang Pencipta alam raya
Atas seizin Allah,
Angkatlah kami Yaa Rosulullah, dari jurang jahiliyah ini
Walau kami tahu, betapa kotornya diri ini
Betapa hina - dina- papah terluka
karena maksiat yang berlarut - larut

Namun,setetes syafaatmu yaa Rosul
Adalah penghapus segala gundah dan resah
Setitik air mata darimu yaa Rosul
Adalah embun ditengah padang yang gersang

Yaa Ayyuhal Ghoutsu...
Bimbing...bimbing dan didiklah kami
Hingga kami menjadi manusia yang berjiwa manusia
Manusia yang sebenarnya bukan imitasi belaka
Kuyakin , engkau merasakan sakit yang kurasakan
Engkau turut prihatin pada diri ini, jiwa yang buta ini

Maka tolonglah kami
Arahkan pancaran Nadroh, radiasi batin pada jiwa yang hina ini
Sehingga aku bisa bangkit dari kehancuran yang berlarut - larut ini
Bangkit dari kedholiman dan kekufuran
Sejauh ini telah kulihat cahaya itu
Namun begitu sulit untuk meraihnya, karena aku tiada daya

Ya Sayyidi…..Yaa Rosululloh...
Yaa Ayyuhal Ghoutsu...
Kami memang bukanlah orang yang mulia
Kami tidaklah pantas mendekat kepada engkau, apalagi mencintaiMu
Namun bagaimanapun juga
Seperti apapun diri ini
Sehina dan sehancur apapun diri ini
Dan sebesar apapun dosa dan kerendahan kami

Namun kami tak bisa ingkari
Dalam palung hati yang terdalam walau hanya setitik
Kumasih mengharap setitik kasih sayangMu Yaa Alloh…
Kujulurkan lidahku walaupun bagaikan anjing yang kelaparan dan kehausan
Kunanti setetes syafaat dan nadrohMu
Yaa Rosululloh.. Yaa Ghoutsi hadzazaman…

Tengoklah kami
Walau aku bukan manusia lagi
Namun, rasa sakit ini
Rindu dan cinta akan ketentraman jiwa
Dalam naungan agama dan perjuangan yang suci nn mulia ini
Pastilah terobati.

Thank's to Bukan Pujangga