Kamis, 21 April 2011

Jika Penyesalan



Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.
Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.


Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Saat semua telah menjadi masa lalu
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini)-- (Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.
Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)-- (Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua....?



Ya Allah
Apakah untuk Mengingat-Mu
Aku Harus Sakit Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Beribadah Kepada-Mu
Aku Harus Jatuh Merintih Tiada Berdaya Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Menggapai Cinta-Mu
Aku Harus Dinasehati Beribu-ribu Kali Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Mengingat Kematian
Aku Harus Sekarat di Rumah Sakit Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Mengharapkan Kasih Sayang-Mu
Aku harus Berbaring di Ruang Rumah Sakit untuk Beberapa Lama Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Mendapat Cinta Kasih-Mu
Aku harus Tertimpa Musibah yang Sedemikian Dahsyat Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Mengharapkan Ridho-Mu
Aku harus Menerima Pahitnya Rasa Hati ini Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Meningkatkan Kualitas Ibadahku Kepada-Mu
Aku harus Diterpa Dahsyatnya Cobaan Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Beramal Sholeh ?
Aku harus Harus Dimarahi oleh Orang Tuaku Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Larut dalam Naungan Kasih dari-Mu
Aku harus Mendengarkan Gigihnya Perjuangan Mereka Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Melangkah Kaki ini ke Rumah-Mu
Aku harus Selalu Diajak oleh Mereka ?

Ya Allah
Apakah untuk Menimbulkan Rasa Cinta Sejatiku Hanya Untuk-Mu
Aku harus Melihat Tangisan–tangisan Mereka Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Menginginkan Cahaya-Mu
Aku harus Merasakan Sakit yang Teramat Perih Disekujur Tubuhku Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Mengagungkan Asma-Mu
Aku harus Merasakan Sakit yang Teramat Sangat Menusuk Hingga ke Dalam Jiwa ini dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Terus Menancapkan Keteguhan Iman ini Didada
Aku harus Diceramahi Berulang–ulang Kali Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Selalu Menitikkan Air Mata Kasih-Mu
Aku harus Melihat Saudaraku Tertatih-tatih Melawan Derasnya Arus Kehidupan ini Dulu ?

Ya Allah
Apakah untuk Terus Berjuang Dijalan-Mu
Apakah Orang Lain Harus Terus Berusaha Keras Meluluhkan Jiwa yang Keras Kepala ini Dulu ?

Ya Allah
Tancapkan di Hati ini
Agar Cinta-Mu, Kasih-Mu, Cahaya-Mu, Ridho-Mu, Naungan-Mu
Selalu Menghiasi Perjalanan Hidupku ini.

Sungguh ya Allah
Hati ini Terkadang Teramat Lupa dengan Kasih yang Engkau Limpahkan

Sungguh ya Allah
Hati ini Baru Luluh Jika Engkau Menimpakan Cobaan Kepada Ku

Sungguh ya Allah
Hati ini Masih Terpesona Dengan Hiruk Pikuk Dunia

Sungguh ya Allah
Hati ini Masih Segan Meninggalkan Segala Sesuatu yang Sebenarnya Menghinakan

Sungguh ya Allah
Hati ini Sulit untuk Meninggalkan Manisnya Godaan Dunia ini

Sungguh ya Allah
Hati ini Seakan Membatu Jika Ingin Mengingat Engkau

Sungguh ya Allah
Langkah Kaki ini Terkadang Berat Tuk Terus Melangkah

Sungguh ya Allah
Keteguhan Hati ini Terkadang Terus Menerus Naik-turun Menggoyang Cinta Kasih Sejati-ku
Yaitu Cinta Sejati yang Seharus Hanya Ku Peruntukkan Untuk-Mu


Sehelai daun jatuh ke bumi, itu aku
Sekuntum bunga mekar tak tertahan, itu aku
Hujan mendenting bak tangisan langit, itupun aku
Pelangi muncul setelah hujan reda, he, itu aku lagi

Secangkir kopi asapnya mengepul. itu juga aku
Setangkai ilalang bergoyang ditiup angin sambil tersenyum, itu aku sekali
Sebab aku ilalang yang senang memandang sehelai daun jatuh ke bumi
Aku ilalang yang membunga saat bunga rekahkan kuntumnya
Aku ilalang yang membasahkan jiwa saat hujan mendenting
Aku ilalang yang memuja pelangi
Aku ilalang yang tergila-gila pada aroma secangkir kopi

Akulah segala yang dipandangi ilalang, kapan saja angin berhembus dan ia tersenyum.


by bkn pujangga

Seutas Tali Keberanian



Aku merindumu sangat gaduh. Seperti sepisau sepi, segemuruh luruh, dan segala keresahan yang tak patuh. Mereka kompak bersetubuh.
Aku merindumu saat mataku terbuka. Saat mataku terpejam. Bahkan saat aku sedang ada di kelam malam. Menggigil, aku dibuatnya demam.
Merindumu itu mudah. Seperti hujan yang mau tumpah. Seketika dia buat kita basah. Ah, aku, tentu cuma bisa pasrah dalam gelisah.
Aku merindumu seperti senja di hari Sabtu. Terlalu menjura menanti Minggu.
Aku merindumu seperti debu. Yang kerap enyah saat tak resah. Dan kembali pasrah saat gundah.
Aku merindumu tak kenal waktu. Setiap helaan napas, setiap gerakan gatal, dan setiap waktu mandi aku. Iya, sedemikian absurdnya aku.
Aku merindumu bagai ambigu. Antara merah dan biru. Aku memilih abu-abu. Warna itu cocok untukku.
Aku merindumu seperti awan yang cerah. Yang cantik berarak, berjejer riang. Liat, awan menggemaskan itu akan ku bawa pulang. Untuk seseorang
Aku merindumu seperti alunan lagu. Yang dentuman dan baitnya nada berima. Sama dengan detak jantungku
Aku merindumu dengan inginku. Dengan letihku. Dengan sedihku. Dan kamu, akan menghilangkan semua itu.
Aku merindumu seperti candu. Yang kau bakar pelan-pelan. Tolong! Jangan biarkan ku mati perlahan.
Aku merindumu dengan sombongku. Dengan angkuhku. Walaupun kau ada dihadapanku, aku tak akan mengaku!



Aku merindumu dalam marah. Setelah pendar emosi yang gerah. Aku akan bakar semua pilar hatimu yang goyah.
Aku merindumu dalam diam. Kusampaikan dengan bisik halus pada malam. Berharap kau mengerti dan paham.
Aku merindumu merindukan aku. Merindukan kita dan kerinduan ini. Terlebih lagi, saat kau ada di sana, dan aku cuma akan ada di sini.
Aku merindumu dengan mengertiku. Ketika jarak terpisah, degup yang membuncah. Dan pekik hati yang menanti.
Aku merindumu yang tiada sempurna. Dengan begitu, kan kulengkapi kekuranganmu. Kita akan saling berguna.
Aku merindumu dalam ragu. Karena aku tak tahu. Gerangan apa yang sedang berlalu. Kamu? Aku? Atau sepenggal kisah lalu.
Aku merindumu saatku mulai mengantuk. Aku ingin terjaga, tak terjerembab, jauh dari pulas. Karena sadarku lebih indah dari mimpiku. Kamu.


Tersebutlah kisah seutas tali yang senang bepergian. Suatu hari di dalam hutan ia temukan sebatang ranting dengan daunnya yang hijau dan bunga kuncup yang semakin memperindahnya, talipun menghampiri kemudian bertanya :
"Kenapa kau terbaring disini ranting ?"
"Aku jatuh dari pohonku karena angin yang kencang, dan aku tak memiliki kekuatan untuk dapat kembali" jawab ranting dengan suara lirih.
Talipun merasa kasihan dan akhirnya talipun membantu ranting untuk berdiri dengan menyimpulkan tali pada tubuh ranting "Aku yang akan menjagamu" begitulah tutur tali.

Haripun berganti dan bulan demi bulanpun berlalu, Tali semakin menyayangi ranting dan rantingpun semakin merasa berharga karena tali selalu membuatnya merasa luar biasa. Tali begitu menyayangi ranting hingga semakin ia kuatkan ikatannya,Tali berjanji untuk tidak melepaskan ranting, namun tali tak menyadari ...

"Tali mengapa kau mengikatku semakin erat" tanya ranting
"Karena aku begitu mencintaimu, aku memiliki banyak harapan padamu dan banyak mimpi - mimpiku yang ingin kugapai bersamamu" jawab tali
Rantingpun tersenyum mendengarnya.

Sampai tibalah suatu hari, ketika ikatan kuat tali itu akhirnya mematahkan ranting. Talipun menangis memanggil manggil ranting namun ranting diam seribu bahasa seolah ia tak peduli..

Semilir angin berhembus, dalam bayangan kabut ia melihat sosok ranting tersenyum padanya dan berkata "Tali, terima kasih telah mencintaiku..namun ada satu hal yang ingin kukatakan sejak dulu namun tak berani kuungkap padamu, Tali..semakin kau kuatkan ikatanmu semakin kau menyakitiku..berbulan - bulan kucoba tuk menahan sakit itu karena aku tahu kau lakukan itu karena cintamu padaku..tapi kau lupa Tali, cintamu itulah yang membunuhku, keegoanmu tuk memilikiku yang menghancurkanku dan harapan serta mimpimu itulah yang mematahkanku"


Ketika telaga mata telah mengering
dan gunung hati telah membeku..

Tatkala masa takkan mampu menggulirkan waktu
dan zaman takkan mampu menggantikan hati..

Dikala segala yang terjadi yang telah terlewati
terlanjur tuk disesali
dan terlambat tuk disadari..

Biarkan ia berlalu
seperti angin yang berhembus
Izinkan ia tenggelam
seperti mentari yang kembali ke peraduannya

Untukmu Tali..Janganlah kau patahkan rantingmu

Kenapa datangnya pelangi harus di dahuluin dengan mendung yang mencekam dan sambaran petir jg hujat yg lebat ?
Kenapa pelangi datang hanya beberapa saat saja ?
adakah jawaban untuk ini .... !

Apa Kabar Cinta



Segala puji bagi Allah yang telah meninggikan derajat orang-orang mulia dan Dia yang mengutus malam dengan gelapnya serta shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. dan pula semoga engkau selalu dalam lindunganNYA, Betapa maha Agung Allah yang telah menciptakan sebuah kecantikan wajah dan hati pada dirimu dengan tangannya dan akupun tidak tahu apa yang sedang aku rasakan ini terhadapmu,

cintakah!!! tapi aku tidak menginginkan cintamu karena aku tahu cintamu adalah hanya untuk Allah dan aku tidak ingin merebut cintamu dariNYA.engakau wanita, betapa indah hati ini tatkala melihat keindahan yang Allah ciptakan dengan tangannya pada wajah yang kau balut dengan jilbabmu, dan bukannya aku ingin berzina dengan kedua mataku akan tetapi aku mengagumimu dengan segala keindahanNYA.engkau wanita aku telah lama membisikan segala doa dalam butiran tasbih, dan memanjatkan pintaku kepada maha cinta, untuk mengisikan separuh hatiku dan separuhnya lagi rindu,

seperti halnya aku sekarang ini, hatiku dipenuhi rasa damai dan rindu karena hati ini telah menjadikan apa yang kulihat terasa indah dan nikmat seakan akan aku tidak ingin kehilangan kenikmatan yang Allah berikan kepada mahluknya melalui cinta dan kasihNYA dan hatiku ini juga membawa sebuah kerinduan yang mendalam dan kedamaian pada hati yang ada pada dirimu akan tetapi apakah semua yang kurasakan ini belumlah sempurna bila hatimu belum menjawabnya dan adakah hatimu sama halnya dengan hatiku...?

Sepenggal kisah yang kau torehkan ke jantung hatiku tak dapat mati walau raga ini telah pergi…
Nestapa yang kurasakan seperti air yang mencari tempat berlabuh …
Ombak di laut pun semakin bergemuruh…
Kau hanya segelintir seseorang yang singgah dalam hidupku…
Kau adalah orang asing yang membuat hidupku berwarna dalam sekejap…
Setelah semuanya hampa aku tersadar ternyata kau hanya datang mewarnai hidupku yang yang dulu gelap dan kini menjadi terang…

Aku pun terdiam dan membisu ,kurenungi nasib yang kujalani …
Ternyata begitu berat melepas orang yang begitu amat berarti dalam kehidupan ini…
Kau akan selalu tersimpan dalam lentera hidup di hati, jiwa , dan ragaku…
Masih saja setumpuk rinduku ini hanya untukmu, saat ini, esok dan selamanya ku kan selalu sayang..

Andai bisa ku putar waktu..Kan ku resapi makna hujan yang sering membasahi kisah kita..
Betapa indah semua rindu yang rasanya penuh kehidupan..
Penuh keinginan...Di pagi ini, ketika air mataku mengering..Ku sandarkan harapanku pada Robbku..

Terpisah darimu bukanlah sesuatu yang mudah bagiku, membutuhkan energi besar sekedar melupakanmu sejenak. Engkau terlampau indah untuk dilukiskan dalam torehan pena, bahkan belum kutemukan kata untuk melukiskan indahmu. Kadang kuberharap kau tak mengusik tenangku, tetapi bayangmu terlampau sulit untuk dihapuskan, ia selalu saja hadir menggoda naluri, hingga terasa sekujur tubuh terkapar menikmati getirnya rindu..?

bkn pujangga