Jumat, 08 Februari 2019

Shalat

Shalat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib ada padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya. Adapun syarat-syaratnya ada sembilan: Islam, Berakal, Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), Menghilangkan hadats, Menghilangkan najis, Menutup aurat, Masuknya waktu, Menghadap kiblat, Niat. Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat. Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka shalat tidak ada (yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya, pent.). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat shalat di sini ialah syarat-syarat sahnya shalat tersebut. Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Shalat 1. Islam Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal.” (At-Taubah:17) Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqan:23) Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Aali ‘Imraan:85) 2. Berakal Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah, “Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah). 3. Tamyiz Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.” (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud) 4. Menghilangkan Hadats (Thaharah) Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim dan selainnya) Dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`.” (Muttafaqun ‘alaih) 5. Menghilangkan Najis Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan pakaianmu, maka sucikanlah.” (Al-Muddatstsir:4) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya.” 6. Menutup Aurat Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah).” (HR. Abu Dawud) Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga. Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu ‘anhu, “Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raaf:31) Yakni tatkala shalat. 7. Masuk Waktu Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril ‘alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: “Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini.” Dan firman Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`:103) Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Israa`:78) 8. Menghadap Kiblat Dalilnya firman Allah, “Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya.” (Al-Baqarah:144) 9. Niat Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid’ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur, “Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Umar Ibnul Khaththab) Rukun-Rukun Shalat Rukun-rukun shalat ada empat belas: Berdiri bagi yang mampu, Takbiiratul-Ihraam, Membaca Al-Fatihah, Ruku’, I’tidal setelah ruku’, Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh, Bangkit darinya, Duduk di antara dua sujud, Thuma’ninah (Tenang) dalam semua amalan, Tertib rukun-rukunnya, Tasyahhud Akhir, Duduk untuk Tahiyyat Akhir, Shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Salam dua kali. Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat 1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampu Dalilnya firman Allah ‘azza wa jalla, “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat ‘Ashar), serta berdirilah untuk Allah ‘azza wa jalla dengan khusyu’.” (Al-Baqarah:238) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah dengan berdiri…” (HR. Al-Bukhary) 2. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: ‘Allahu Akbar’, tidak boleh dengan ucapan lain Dalilnya hadits, “Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim) Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya, “Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah.” (Idem) 3. Membaca Al-Fatihah Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka’at, sebagaimana dalam hadits, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaqun ‘alaih) 4. Ruku’ 5. I’tidal (Berdiri tegak) setelah ruku’ 6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh 7. Bangkit darinya 8. Duduk di antara dua sujud Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah ‘azza wa jalla, “Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah dan sujudlah.” (Al-Hajj:77) Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi.” (Muttafaqun ‘alaih) 9. Thuma’ninah dalam semua amalan 10. Tertib antara tiap rukun Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii` (orang yang salah shalatnya), “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: ‘Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, … sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: ‘Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku’lah hingga kamu tenang dalam ruku’, lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim) 11. Tasyahhud Akhir Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih, assalaamu ‘alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril ‘alaihis salam dan Mikail ‘alaihis salam)’, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian mengatakan, ‘Assalaamu ‘alallaahi min ‘ibaadih (Keselamatan atas Allah ‘azza wa jalla dari para hamba-Nya)’, sebab sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, ‘Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan’, … ” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya. 12. Duduk Tasyahhud Akhir Sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat.” (Muttafaqun ‘alaih) 13. Shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seseorang dari kalian shalat… (hingga ucapannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.” Pada lafazh yang lain, “Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) 14. Dua Kali Salam Sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… dan penutupnya (shalat) ialah salam.” Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka shalatnya batal, harus diulang dari awal. Wallaahu A’lam. Maraaji’: Syarh Ad-Duruus Al-Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, karya Asy-Syaikh Ibnu Baaz dengan susunan Muhammad bin ‘Ali Al-Arfaj. (Dikutip dari link //fdawj.atspace.org/awwb/th3/26.htm, Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-26 Tahun ke-3 / 27 Mei 2005 M / 18 Rabi’uts Tsani 1426 H) Wajib-Wajib Shalat Setelah pada edisi yang lalu dijelaskan syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, sekarang akan dibahas hal-hal yang wajib dalam shalat atau dengan istilah lain wajib-wajib shalat, dan akan dibahas pula sunnah-sunnah dalam shalat. Adapun wajib-wajib (hal-hal yang wajib dalam) shalat itu ada delapan: Semua takbir, selain Takbiiratul Ihraam Mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua Mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiim saat ruku’ Mengucapkan Subhaana rabbiyal a’laa saat sujud Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud Membaca Tasyahhud awal Duduk untuk tasyahhud awal. Penjelasan Wajib-wajib Shalat 1. Semua takbir, kecuali Takbiiratul Ihraam Sesuai ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir di setiap naik dan turunnya, berdiri dan duduknya.” (HR. Ahmad, An-Nasa`iy dan At-Tirmidziy menshahihkannya) Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika imam bertakbir maka bertakbirlah.” Ini adalah perintah, sedangkan perintah menunjukkan wajib. 2. Mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiim saat ruku’ Sesuai dengan hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang menggambarkan shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau dalam ruku’nya mengucapkan, “Subhaana rabbiyal ‘azhiim” (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung) dan pada sujudnya mengucapkan, “Subhaana rabbiyal a’laa” (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi) 3. Mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri Berdasarkan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mensifati shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau mengucapkan Sami’allaahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) tatkala mengangkat punggungnya dari ruku’. (Muttafaqun ‘alaih) 4. Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua (imam, makmum dan yang shalat sendiri) Sesuai kelanjutan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada hadits yang lalu, “Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berdiri mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu.” 5. Mengucapkan Subhaana rabbiyal a’laa saat sujud Sesuai hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang lalu. 6. Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud Sebagaimana dalam hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan antara dua sujud Rabbighfirlii. (HR. An-Nasa`iy dan Ibnu Majah) 7. Membaca Tasyahhud awal, dan 8. Duduk untuk tasyahhud awal Sebagaimana hadits, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada tiap dua rakaat At-Tahiyyaat.”, dan pada hadits yang lain, “Jika kalian telah duduk pada tiap dua rakaat maka ucapkanlah At-Tahiyyaat.” (HR. Al-Imam Ahmad dan An-Nasa`iy) Untuk lebih lengkapnya bisa meruju’ kepada kitab Syuruuthush Shalaati wa Arkaanuhaa, karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, kitab Al-‘Uddah Syarh Al-‘Umdah hal.13-17, dan kitab Manaarus Sabiil hal.70-87 Itulah penjelasan singkat tentang 8 (delapan) hal yang wajib dilakukan pada setiap shalat. Perbedaan antara rukun-rukun shalat dengan wajib-wajib shalat adalah kalau meninggalkan rukun-rukun shalat baik dengan sengaja ataupun lupa maka akan membatalkan shalat, sedangkan meninggalkan wajib-wajib shalat, jika ditinggalkan secara sengaja maka shalatnya batal, namun jika ditinggalkan karena lupa maka dia melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa, sebagai gantinya) 080202019m_

Kamis, 07 Februari 2019

Nasehat Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib adalah salah satu sahabat Nabi yang namanya dikenal oleh semua umat muslim. Oleh Rasulullah, beliau diberi gelar babul ilmu atau pintunya ilmu, sehingga setiap perkataan Ali selalu direnungkan oleh para sahabat lainnya. Termasuk semua nasihat yang pernah dikatakan Ali dulu. Berikut ini ada di antaranya 7 nasihat Ali bin Abi Thalib yang harus kita renungkan dan diingat seumur hidup kita. Kemudian mengamalkan semua nasihat tersebut. 1. Jangan bicara tentang hartamu di hadapan orang miskin Membicarakan harta yang kita miliki dihadapan orang miskin sama saja dengan sombong. Kita merasa lebih unggul dari orang miskin karena memiliki harta yang jauh lebih banyak. Secara tak sadar, kita juga sudah menyakiti perasaan orang miskin tersebut. 2. Jangan bicara kesehatanmu di hadapan orang sakit Saat bertemu orang sakit, jangan bicarakan soal kesehatanmu di depannya. Sebab perkataanmu akan menyakiti perasaan orang sakit. Perlu diingat, orang yang sakit sedang belajar menghargai betapa nikmatnya sehat itu dan mereka sedang digugurkan dosanya oleh Allah bila ikhlas menerima semua penyakitnya. Maka dari itu, berilah semangat kepada orang sakit. 3. Jangan bicara kekuatanmu di hadapan orang lemah Membicarakan keunggulan fisikmu, kecerdasanmu, kemampuanmu di depan orang yang kamu anggap lebih lemah dari kita juga termasuk perbuatan sombong. Kamu secara tidak sadar ingin disanjung dan disegani oleh orang lemah itu agar kamu ditakuti. 4. Jangan bicara kebahagiaanmu di hadapan orang yang sedih Jika ada orang sedih mengajakmu berbicara, jangan sampai kamu membicarakan soal kebahagiaanmu seolah kamu mengejek orang sedih itu. Hiburlah mereka dengan menyemangati mereka bahwa semua kesedihan yang kita alami pasti akan digantikan dengan kebahagiaan. 5. Jangan bicara kebebasanmu di hadapan orang yang terpenjara Tak semua orang bisa merasakan kebebasan, sebagian ada yang merasa terpenjara karena pekerjaannya atau permasalahan hidupnya. Jangan sampai kamu membicarakan tentang kebebasanmu kepada orang yang merasa terpenjara, karena hal itu bisa membuat orang tersebut berkecil hati. 6. Jangan bicara tentang anakmu di hadapan orang yang tidak mempunyai anak Sebagian orang ada yang tidak dikaruniai anak, baik itu karena mandul atau memang belum ada kehendak dari Allah. Kehadiran anak bagi mereka sangat dinanti-nanti, kadang mereka sangat sedih karena tak kunjung punya anak. Jadi, jangan sampai kamu berbicara soal anak di depan orang yang tidak mempunyai anak karena itu akan menyakiti perasaannya. 7. Jangan bicara tentang orangtuamu di hadapan anak-anak yatim Nasihat terakhir Ali adalah jangan membicarakan tentang orangtuamu di hadapan anak-anak yatim. Sebab perkataanmu akan menyakiti perasaan anak yatim yang sudah tidak bisa lagi merasakan hangatnya pelukan orangtua. Ikutilah nasihat Ali, insyaallah kita akan hidup saling berdampingan bersama orang lain. 070202019m