
BERCINTA DALAM ISLAM
Di hiasi alam maya pada ini dengan cinta, cinta adalah sebuah anugrah yang terindah yang di berikan Tuhan pada makhluk Nya, kita mempunyai tanggung jawab pada diri sendiri untuk menempatkan cinta pada posisi yang sebenarnya. Namun ada hal yang harus di ingat, apakah cinta yang membawa kita kepada Tuhan, atau malah sebaliknya cinta menjadi kendaraan syaitan, untuk membawa diri kita ke lembah hina dan nista, dan jangan jadikan cinta sebagai pemuas nafsu syaitan. Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”( QS. Ali Imran : 14 ).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejawantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah sopan dan yang paling penting dari semua itu adalah penuh dengan rasa tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik pula.

“Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.
MENCINTA YANG DI CINTA
Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lawan jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu( pernikahan ), maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta,melainkan hanya nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat, yang di tunggangi syaitan dengan iming-iming mimpi-mimpi yang indah namun kadang berakhir dengan penyesalan seumur hidup. “Jangan salahkan cinta, apabila menderita, bukan cinta yang buta, tapi jiwa terlena, cinta tanpa akal, berakibat patal, lagi-lagi alasan cinta”_( syair bang Rhoma_red).
Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin hanya sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas melaui surat cinta belaka atau dengan seutas tali syair yang mengoyak hati tak kala jiwa di rasuk hawa cinta . Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting, browsing, atau apalah namanya dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan dengan pernyataan dan tanggung-jawab penuh yang disaksikan oleh orang banyak.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ( qs : Ar Ruum : 21 )
Terlebih-lebih ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan saja, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi pemimpin, pelindung dan pengayomnya. Bahkan mengambil alih kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya sampai ajal menjelang.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu the real gentleman. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wanita dan bapak dari anak-anaknya kelak. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau hanya sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Yang beraninya hanya menikmati sensasi seksual sesaat, tapi tidak siap menjadi the real man dan bertanggung jawab bahkan sebagai pria sejati, yang berwibawa dengan sikap ksatria.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu) ( qs : Ar Raad : 38 )
Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi dan seks. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan mahram (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan.
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.( qs : Al Isra’ : 32 )
Sedangkan pada kenyataan pemandangan yang dilihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyarakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama. Dan semakin menurunya nilai norma dan susila sebagai manusia.

Kaum Barat yang mayoritas nasrani yang mengagung-agungkan paham kebebasan justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

KENCAN
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda mudi yang berpacaran alias kencan, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah sebuah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak saja sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting, browssing lewat facebook alias Internetan, dan diteruskan dengan janji bertemu langsung atau lain sebagainya.
Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan yang tidak dapat di tawar-tawar. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri saling kenal satu sama lain, saling menyatukan pandangan, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. ( qs : Al Baqarah : 235 )
Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda, ”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : 1. hartanya, 2. keturunannya, 3. kecantikannya dan 4. agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebagai ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya., dan kadang malah bertolak belakang.
Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemu dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya ketika sedang di mabuk cinta. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. ( qs : Al Baqarah : 221 )
Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja. Dan dalam hal ini juga yang di rugikan adalah wanita itu sendiri. Pacaran tidak dapat di jadikan alasan untuk penjajakan, melainkan malah sebaliknya.
“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ( qs : Al Forqan : 74 )