
KEKAGUMAN
Sudah merupakn suatu fitrah bagi diri setiap insan, bahwa mereka pasti memiliki rasa kekaguman dan dan kecintaan terhadap sesuatu. Baik itu terhadap harta benda, perhiasan, wanita, dan lain sebagainya.Manusia dikaruniai oleh Allah perasaan mudah yang kagum terhadap suatu keindahan, kegagahan dan kekuatan, kecantikan, yang berada di luar dimensi dirinya. Hal seperti itu mendorong manusia mengekpresikan dan mengkreasikan gagasan yang ada dalam pikirannya menjadi karya nyata, mewujudkan sesuatu yang belum ada menjadi ada.
Dengan kagum pada keindahan, muncul ide-ide baru untuk membuat sesuatu yang lain, yang lebih indah. Alhasil unsur keindahan telah merambah ke segala bidang hingga ke detail-detailnya sekalipun. Mulai yang luas berupa gedung-gedung bertingkat, stadion, rumah mewah nan asri, hingga yang lebih kecil sekelas kendaraan, perangkat elektronik, bahkan juga barang-barang pecah-belah, alat-alat tulis, dan lain sebagainya, semuanya telah terpoles oleh upaya memperindah dan mempercantik yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia.
Bukan hanya dari segi keindahan, prestasi manusia yang berhasil mewujudkan berbagai impian itu juga cukup mengagumkan. Pesawat buatan manusia telah mencapai daratan planet lain yakni Mars, bahkan menginap beberapa lama di sana. Peralatan-peralatan mikro buatan manusia juga telah berhasil mendeteksi keberadaan makhluk-makhluk super-kecil seukuran virus HIV dan Ebola. Kapal-kapal selam pesawat tempur, satelit, dan produk manusia telah menjelajah hingga ke dasar laut yang gelapdan dalam sekalipun. Bahkan kini manusia telah berhasil mencangkokkan gen dari manusia ke sel kambing untuk di-klon. Dan bahkan ada yang sanggup melakuan cangkuk ginjal sekalipun. Apakah itu semua tidak cukup mengagumkan.
Akan tetapi kekaguman sebenarnya bisa berjalan menjadi salah arah. Itu bila rasa kagum yang ada hanya diperturutkan mengikuti kehendak hawa nafsu saja. Kekaguman yang seperti itu bahkan bisa menjerumuskan manusia yang membuatnya dapat kehilangan harkat dan martabat. Dalam kehidupan, betapa tidak sedikitnya manusia yang kehilangan martabat oleh karena kekaguman yang tak terkendali kepada harta-benda, kepada materi, pangkat dan jabatan, serta kedudukan yang basah. Mereka kehilangan harga nya sebagai manusia, karena kesilauanya dalam mengagumi dunia.

Kepada kaum muslimin, Islam memberi rambu-rambu yang sangat indah, jelas. Harta benda, keindahan, kemewahan, dan kemegahan yang disaksikan jangan sampai mempengaruhi kadar iman. Jangan sampai kelewat mengaguminya. Rasulullah saw bersabda "Apabila kamu melihat sesuatu yang menakjubkan, ucapkanlah, Maasya Allah, dengannya Allah akan menghilangkan daripadamu tipuan matamu.
Manusia sering begitu mudah tertipu oleh pandangan matanya sendiri. Segala yang dilihat atau dipandang oleh mata nampak sangat indah. Itu karena dalam pandangan mata ada godaan ('awarid), yang dengannya syetan dapat mempengaruhi hati manusia.
Bermacam makanan telah diolah manusia dengan berbagai jenis, gaya, rasa dan citra warna. Di antara jutaan manusia yang belum bisa makan secara wajar, telah bermunculan jenis-jenis makanan yang hanya dibeli karena gengsi. Sudah harganya melangit, makanan itupun tidak pernah habis dimakan oleh pemesannya, begitu pun juga minuman yang di minumnya.
“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. ( qs : Al An’aam : 141 )
Islam melalui Rasulullah menuntun kita agar jangan diperbudak oleh kemauan perut serta hawa nafsu sesaat. Kita dianjurkan berhenti makan sebelum kenyang. Sepertiga perut kita disuruh dikosongkan dari makanan maupun minuman dan sepertiganya lagi harus di isi oleh udara. Itu agar kita bisa mengendalikan diri dari tuntutan nafsu yang tidak akan pernah kenyang dan merasa puas.
Sama halnya dengan makanan, pakaian juga salah satu kebutuhan yang membuat manusia terlena. Orang berlomba-lomba untuk mengenakan pakaian sebagus-bagusnya dengan model sefantastis mungkin. Para model, peragawan-peragawati, telah menyulap dan membutakan mata jutaan manusia dengan pakaian yang dikenakannya. Setiap musim muncul mode baru, dan setiap tahun berganti trend dan mode nya. Manusia tak pernah puas, dan cenderung kembali ke alam primitif dengan mengenakan pakaian seminim mungkin, bahkan terkadang muncul suatu lelucon mending ngak pakai pakaian sekalian.
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. ( qs : Al A’raaf : 26 )
Kepada kaum muslimin Rasulullah dengan peringatan yang cukup keras, "Barangsiapa memanjangkan pakaiannya (sehingga menyerat di tanah) karena kesombongannya, maka Allah tidak akan memandangnya kelak pada hari kiamat." (HR Bukhari dan Muslim)
Sebaliknya Rasulullah bersabda, "Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah-mewah karena tawadhu' kepada Allah, padahal ia dapat (mampu) membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya." (HR At-Tirmidzi)
Soal papan juga sering menjerumuskan hati manusia. Betapa orang gampang tertipu oleh penampilan, dan terdorong untuk mewujudkan dalam kehidupannya, dapat memiliki tempat tinggal yang mewah dan mentereng. Sementara semakin diburu, semakin banyak model yang ditawarkan, dan tidak pernah ada batasnya.

Sandang-papan merupakan tanda paling gampang dari melimpahnya harta seseorang. Manusia cenderung menunjukkan keberhasilannya dengan penampilan fisik. Selesai tempat tinggal, bertambah dengan kendaraan. Ada satu tambah lagi, lalu ganti yang lebih mahal. Kemewahan hidup selalu mengundang keirian, dan banyak orang begitu berbangga dengan kemewahan yang dimilikinya. Orang demikian akan mengagumi orang lain yang jauh lebih bergelimang kemewahan, dan berlomba untuk mencapainya pula. Pergulatan mencari kemewahan dunia pun tidak kunjung ada habisnya, ibarat di atas langit masih ada langit. Sepanjang manusia belum bisa membendung nafsu serakahnya, maka mereka akan terus merasa kurang sekalipun telah berhasil menguasai separuh dunia.
Banyak juga orang yang begitu memuja cinta dan asmara. Mereka tak henti-henti dan tak kunjung puas menikmati dan melumat keindahan dan kecantikan wanita lewat berbagai cara. Bisnis yang melibatkan kecantikan wanita, mengekploitasi kaum hawa ini telah mengglobal dan membius benak miliaran manusia dari kutub utara hingga kutub selatan. Tampilan yang tidak pantas dan seronok dari kaum hawa ini kadang sudah merupakan kebutuhan dan suatu komoditi. Hampir tidak satu produkpun yang dipasarkan menembus batas negara tanpa memajang gambar wanita dengan berbagai fose yang merangsang. Dan tidak pernah seharipun televisi, radio, koran-koran, terlupakan tidak menampakkan atau memperdengarkan sosok wanita.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ( qs : An Nuur : 31 )

Itulah yang membuat manusia jadi keblinger, memuja sesuatu yang bersifat fisik semata. Orang dibuat lupa, bahwa manusia, sehebat dan secantik apapun, adalah makhluk biasa, yang bisa mati setiap saat. Bahkan kehebatannya itu tidak akan ada artinya bila tiba-tiba ia diserang sakit atau musibah sedikit saja.
Hal lain yang selalu membius jiwa manusia adalah kedudukan, pangkat, dan jabatan. Orang bahkan bisa dibilang mabuk, dengan jabatan yang berkait dengan kehormatan dan gengsi. Orang juga bisa tiba-tiba disanjung karena kedudukannya itu, dihormati setengah mati, dinomor satu kan dalam segala-galanya, karena kedudukan nya. Dan tak jarang dalam mencapai ini, tak peduli sesama harus disingkirkanya guna mencapai suatu tujuan yang sebenarnya adalah fana’ dan menipu belaka.
Sementara, sebagaimana sifat dunia, perburuan kedudukan ini tidak pernah ada akhirnya dan henti-hentinya. Naik pangkat, sebentar terasa nikmat, tetapi beberapa saat kemudian dirasakan kurang tinggi juga. Bila sudah sampai ke puncak, mau naik sulit, maka orang berupaya untuk menduduki posisinya itu selama mungkin. Begitu seterusnya dan seterusnya. Manusia lupa, bahwa setiap jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah. Kebanyakan orang hanya berpikir, yang penting atasannya senang, tanpa pernah mengukur, seberapa murka Allah melihat perbuatannya dan tingkah lakunya.
Orang yang nampak hebat, gampang sekali menumbuhkan kekaguman. Celakanya, manusia sekarang sangat gampang tertipu oleh kehebatan sesaat. Ketika demam sepakbola, pemain yang paling sering membikin gol langsung dipuja-puja. Segala tingkah lakunya ditiru, sekalipun mereka tidak pernah kenal dengan Tuhannya.
Di saat lain, bintang film yang di idolakan, Padahal siapa sih yang tidak mengerti, bahwa film itu tidak lebih dari manipulasi...? Dan lagi, kehidupan para bintang film, siapa yang tak kenal...? Bukankah mereka itu yang paling sering kawin-cerai, ganti-ganti pasangan layaknya binatang...? Apakah cara hidup seperti itu yang hendak dianut oleh para pemujanya....?
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." ( qs : An Nuur : 30 )
Musik dan pemusik juga satu hal lain yang membuat manusia keblinger. Ada bahkan yang sampai menyatakan musik adalah segala-galanya, hidupnya hanya untuk musik. Betapa bodohnya...? Apakah musik itu yang akan mengantarkan manusia ke gerbang surga....? Musik memang satu bentuk kreativitas yang menimbulkan kenikmatan, tetapi ia tidak memberikan jaminan apa-apa. Tanpa musik pun orang tidak akan meninggal atau kelaparan. Jadi mengapa orang mesti terbius dan meniru tokoh-tokoh musik, yang suka mengumbar aurat, serta bertingkah ala fornografi, dan bertingkah aneh-aneh hingga melanggar syariat....? Mengapa mesti menuhankan musik hingga di mana dan kapan pun senantiasa menuntut adanya alunan musik....?
“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka ( qs : Al Isra’ : 64 )

Marilah kita sadari, bahwa di atas segala yang bisa dilakukan manusia, adalah Allah swt, yang menciptakan segala yang ada maupun tiada. Sehebat-hebat manusia, tidak akan sehebat Rasulullah saw dengan segala sepak terjangnya, yang menolak dihormati terlalu tinggi, bahkan hanya dengan berdiri di saat ia datang. Setinggi-tinggi gedung, tidak ada yang mampu mencapai awan. Sedalam-dalam kapal menyelam, tidak pernah mampu menembus bumi. Dan sekreatif-kreatif sutradara, ia tidak akan bisa memastikan apa yang akan terjadi esok hari.
Menokohkan dan mengagumi seseorang, jangan sampai lupa pada jati diri sendiri. Mengapa harus dengan mengarak fotonya, memasangnya di punggung kaus, meneriakkan namanya, bila ternyata yang ditokohkan juga belum tentu masuk surga....? Mengapa harus mengorbankan diri, untuk sesuatu yang belum pasti......? Mengapa memuja kuburannya, padahal mungkin si ahli kubur sedang sibuk mengatasi siksa kubur.....?
Kembalikan lah segalanya kepada Allah swt. Hanya Dia yang layak disembah, dipuja, dipuji-puji, dan disanjung, sebagaimana setiap hari kita baca dalam surah al-Fatihah. Itulah batasan yang membedakan kita dengan ummat lain.

by_kambingbadal