Rabu, 18 November 2009

Sehat Di Balik Shalat


SEHAT DENGAN SHALAT

Nikmat yang sangat tinggi sesudah Islam dan iman adalah kesehatan. Allah telah menempatkan kesehatan jasad dan alat-alat tubuh sebagai amanat yang diserahkan kepada manusia untuk dipelihara dan dijaga agar berfungsi dengan baik, lalu digunakan untuk beramal shalih. Islam mengenal satu konsep yang dinamik tentang kesehatan dan di dalamnya tercakup pengertian tentang shihah yaitu keadaan jasmani yang memungkinkan seluruh anggota tubuh berfungsi dengan baik. Selain pengertian shihah masih ada pengertian tentang aafiyah, yakni suatu keadaan yang lebih afdhal dan dampaknya menjangkau kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. ( qs : Huud : 114 )

Kesehatan merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Islam menganjurkan kepada ummatnya untuk hidup serba sehat dan didahului oleh perintah mewujudkan kesucian dan kebersihan. Seorang yang akan shalat terlebih dahulu dianjurkan harus suci serta bersih dari hadats dan najis.
Perhatian Islam terhadap kesehatan ummatnya besar sekali. Itu dapat dilihat dari adanya beberapa dispensasi atau rukhshah yang diisyaratkan seperti kebolehan bertayamum bagi orang sakit dan dibolehkan berbuka puasa dengan menggantinya pada hari lain.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. ( qs : An Nisa : 103 )

Perhatian Islam terhadap kesehatan dapat pula dilihat dari tuntunan mengenai cara mendapatkan makanan, mengolah dan memakannya. Islam memerintahkan manusia untuk memperoleh makanan dengan cara yang sah, halal dan jika seseorang makan atau minum hendaknya tidak berlebihan. Ada beberapa jenis makanan dan minuman yang diharamkan karena membahayakan kesehatan jasmani, rohani dan akal pikiran.



WUDHU.

Shalat pada hakekatnya bukan sekedar lambang pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah, tetapi lebih dari itu. Syarat pertama sebelum melaksanakan shalat adalah membersihkan tubuh dari najis, baik pada pakaian maupun tempat yang akan digunakan untuk shalat.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. ( qs : Al Maidah : 6 )

Ditinjau dari segi kesehatan, wudlu merupakan unsur mendidik agar kebersihan tetap dijaga dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada alat panca indra.
Setiap muslim selain mandi, dalam sehari semalam lima kali mencuci bagian tubuhnya. Hal ini sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit. Segi kejiwaan wudlu merupakan anjuran, bahwa kita harus bisa menjaga diri dari hal-hal yang dilarang Allah. Sebagai contoh mata, mulut, telinga, tangan dan kaki harus suci agar tidak digunakan untuk hal-hal yang maksiat.

Mata merupakan salah satu alat panca indra yang mempunyai arti dan fungsi sangat penting artinya. Kenikmatan yang telah Allah berikan lantaran mata, tentunya kita tidak dapat menghitungnya. Di antaranya dengan dikaruniai mata kita dapat melihat berbagai keindahan alam yang telah diciptakan Allah. Tetapi mata juga merupakan pangkal dari setiap fitnah ataupun kemaksiatan, maka harus dijaga baik-baik.
Mulut merupakan organ tubuh yang sangat penting, misalnya untuk makan dan berbicara. Namun di sisi lain ibadah akan menjadi rusak atau batal kesemuanya hanya disebabkan mulut. Karenanya apabila kita hendak melakukan ibadah secara baik, maka hendaklah meninggalkan pembicaraan-pembicaraan yang tidak bermanfaat dan tidak ada artinya.
Telinga secara lahiriah harus bersih dari sumber penyakit dan secara kejiwaan telinga harus dijaga agar tidak digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik (dilarang Allah). Demikian juga dengan tangan dan kaki, janganlah digunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan Allah.


SHALAT.

Setelah berwudlu, baru diperbolehkan melakukan shalat. Menurut Arif Wibisono (psikolog dari Universitas Muhammadiyah Surakarta), shalat bukan hanya mengandung nilai spiritual, tetaapi juga mempunyai aktivitas fisikal, menyegarkan badan dan jiwa dari segala ketegangan dan menumbuhkan perasaan kedamaian dan kepuasan. Djamaluddin Antjok (psikolog dari Universitas Gajah Mada) juga menyebutkan bahwa ada empat aspek dalam shalat yang kiranya bisa mempunyai hikmah untuk mengatasi gangguan-gangguan kejiwaan dan kecemasan. Empat aspek tersebut adalah olah raga, meditasi, sugesti dan kebersamaan.

Mengingat di dalam shalat ada aspek meditasi, maka shalat secara Islam dapat menggantikan obat penenang. Mereka yang stress, kehilangan kepercayaan diri, maag dan insomia dalam waktu singkat dapat sembuh dengan bershalat. Demikian juga pada kelompok pencemas akibat penyakit jantung, kanker dan asma, bisa hilang faktor kecemasannya, sehingga semangat untuk sembuh akan timbul dengan sendirinya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( qs : Al Baqarah : 277)

Di Jepang Dr. Kasamatsu dan Kiroji (1970) menyebutkan bahwa meditasi dapat mengaktifkan belahan otak sebelah kanan dan meningkatkan koherensi dengan belahan otak sebelah kiri. Prof. Dr. Andry dari Paris menyebutkan pula bahwa gerakan-gerakan dalam shalat akan menurunkan dan mengurangi penyakit kegemukan, rematik, diabetes, batu empedu, sembelit dan sebagainya. Gerakan otot pada waktu shalat dapat mengakibatkan urat-urat otot menjadi besar dan kuat. Prof. Dr. Kohlrasch dan Prof. Dr. Leube menyebutkan bahwa gerakan shalat dapat mengurangi dan mencegah penyakit jantung, paru-paru , penyakit perut sembelit, penyakit empedu, asma, kegemukan, diabetes dan rematik.

Dalam Al-Quran, shalat adalah satu-satunya cara untuk membersihkan jiwa dan raga manusia (QS Al-Mudatsir: 4-5). Sikap tubuh ketika melakukan shalat secara Islam sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad sesuai dengan wahyu Allah yang diterimanya.

Menurut Prof. Dr. HA Saboe sikap shalat yang baik adalah sebagai berikut: Sikap tangan menurut Iman Abu Hanifah, kedua tangan dilipatkan di atas daerah pusat atau sedikit di bawahnya. Tetapi Iman Syafi'i menghendaki dilipatkan di atas dada. Sedangkan Imam Malik menganjurkan kedua tangan itu tidak dilipat, melainkan dibiarkan bergantung sebagaimana biasanya.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ( qs : Al Baqarah : 177 )

Di antara ketiga sikap itu yang mempunyai syarat ilmu kedokteran adalah yang dianjurkan oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i. Sikap tangan yang dilipat merupakan sikap rileks atau istirahat yang sangat sempurna bagi kedua tangan. Sebab sendi siku, pergelangan tangan serta otot-otot dari kedua tangan berada dalam keadaan istirahat penuh. Sirkulasi darah berjalan sempurna ke jantung, produksi getah bening dan air jaringan yang terkumpul dalam kantong-kantong kedua persendian jadi lebih baik. Sehingga kedua sendi pergelangan mudah digerakkan dan mudah menghindarkan timbulnya bebagai penyakit persendian seperti pernyakit kekakuan sendi (rematik).

Sikap ruku'


“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. ( qs : Al Hajj : 77 )

jika dilakukan dengan sempurna dan benar sesuai dengan ilmu kedokteran banyak sekali manfaatnya. Antara lain menyehatkan ruas-ruas pinggang, ruas tulang leher, ruas tulang-tulang punggung dan ruas tulang pinggul.


Sikap sujud

dengan meletakkan jari-jari tangan atau telapak tangan di samping lutut menyebabkan bukan saja otot-otot akan menjadi besar dan kuat, akan tetapi juga menyebabkan pembuluh darah nadi (arteri) dan pembuluh balik (venae) serta pembuluh getah bening (lympha) akan terpijat atau terurut, sehingga peredaran darah dan getah bening jadi menjadi lancar di dalam anggota badan. Sikap sujud yang sempurna dapat membantu pekerjaan jantung dan menghindarkan mengerasnya dinding-dinding pembuluh darah (arterio sclerosis).

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. ( qs : Al Fath : 29 )


Sikap duduk

tahiyat yang pertama disebut duduk iftirasy sedangkan sikap duduk tahiyat yang kedua disebut duduk tawarruk. Pada sikap duduk iftirasy sebenarnya kita duduk dengan otot otot pangkal paha yang di dalamnya terdapat salah satu syaraf pangkal paha besar (nervus ischadus) di atas kedua tumit kaki kita. Tumit kaki tersebut dilapisi oleh sebuah otot (musculus triceps surae) yang berfungsi sebagai bantal. Maka dengan demikian tumit menekan kepada otot-otot pangkal paha serta syaraf pangkal paha yang besar. Sehingga syaraf pangkal paha tersebut terpijat. Pijatan atau urutan tersebut dapat menghindarkan atau menyembuhkan suatu penyakit syaraf pangkal paha (neuralgia) dan pembuluh darah pada daerah pirenium menjadi besar dan lebih kuat. Pirenium adalah bagian dalam tubuh manusia yang sangat penting karena pada bagian tubuh ini terdapat alat kelamin.

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ( qs : Az Zumar : 9 )

Pada sikap duduk tawarruk di mana tumit kaki kiri dan tumit kaki kanan menekan pada pangkal paha sebelah kanan serta jari-jari kiri kanan berdiri di atas lantai. Keuntungan duduk tawarruk besar sekali dalam kesehatan tubuh, antara lain dapat menghindari penyakit wasir, menghindari kelenjar alat kelamin laki laki mengeras, dapat mengurangi liang dubur tersembul keluar (prolopsusrecti) atau rahim tersembul keluar (prolopsus uteri).

Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa shalat adalah salah satu saran yang sangat baik untuk meningkatkan kesehatan seseorang baik jasmani maupun rohani. Shalat yang dilakukan dengan sempurna berguna untuk memperlancar dan memperbaiki sirkulasi darah; melatih organ paru paru dan jantung serta menormalkan pernafasan dan denyut jantung. Juga meningkatkan kekuatan dan kelenturan otot dan syaraf pengatur kelembaban kulit, menghambat proses penuaaan sel-sel jaringan organ tubuh serta membantu proses penyembuhan berbagai penyakit. Maka alangkah ruginya apabila ada ummat Islam yang tidak melaksanakan shalat dengan sempurna.