Jumat, 06 Agustus 2010

Persijap



PERSIJAP

Ramai juga penontonnya untuk sesi latihan hari ini. Parkiran motornya saja—yang di depan gerbang utama stadiun itu—sudah terderet penuh hingga empat baris! takjub Rama dalam hati. “Dua ribu Mas,” kata tukang parkir padanya, meminta bayar di muka.

Kemudian—usai memarkirkan kendaraannya, Rama langsung menuju ke tribun VIP lewat jalan samping kiri gerbang utama stadiun. Mana dia ya? tanyanya dalam hati. Agar lebih mudah terlihat, sengaja dia memilih tempat duduk yang berada ditengah-tengah tribun tepat di samping pagar merah pembatas.

“Aku sudah di tribun VIP nih, di tempat yang banyak anak-anaknya,” pesan sms yang di kirim Rama menandai keberadaannya. Dan tak sampai sepuluh menit, “Hai!” teriak perempuan dari pinggir lapangan sembari melambaikan tangan padanya.

“Sudah lama di sini?” tanya perempuan itu, menyusul dan duduk di sebelahnya. “Belum, aku baru datang kok,” jawab Rama. “Eh, tadi kamu kok bisa masuk di area lapangan?”

“Tadi, waktu menunggumu di parkiran, aku ketemu Mas Anis—yang jadi pengurus klub ini, terus di ajak masuk,” jawab perempuan itu dengan mata yang terus terfokus pada para pemain di lapangan yang tengah berlatih.

Maniak bola juga perempuan ini, pikir Rama. Mulai dari pelatih lama klub yang pindah ke luar daerah, datangnya pelatih baru pengganti yang dari luar negeri, para pemain inti yang belum di kontrak, sampai para pemain inti yang baru kawin beberapa minggu itupun semuanya dia tahu! Keren!

“Seharusnya pihak klub segera membuat kontrak baru bagi para pemain intinya sebelum kontrak lama yang berlaku setahun itu habis. Kalau terlambat, bisa-bisa mereka akan berpindah ke luar daerah jika mendapat tawaran yang lebih baik,” cerita perempuan itu, nampak prihatin dengan kondisi klub.

“Kalau aku melihat beritanya di koran-koran, klub ini kan memang sedang kesulitan keuangan terutama sejak dana dari APBD yang sepuluh milyar itu dihentikan?” kata Rama, mencoba mengingatkan.

“Iya juga sih, makanya pihak klub dengan kepengurusannya yang baru sekarang sedang membuat unit-unit usaha untuk menambah pemasukan. Pemkab juga ikut membantu memberi pemasukan klub melalui biaya yang ditambahkan dalam pembuatan STNK, ongkos parkir dan lain-lain,” tanggap perempuan itu memaparkan infonya. “Jika memungkinkan,” tambahnya, ”menurutku pihak klub juga seharunya bisa melibatkan perusahaan-perusahaan furniture yang banyak berdiri di sini untuk berpartisipasi dari sisi dana”.

“Wah, kalau itu sih aku tidak yakin,” kata Rama, ganti menanggapi. “Tahu sendiri ‘kan kondisi sekarang di mana-mana sepi. Hampir merata perusahaan furniture mengalami penurunan order bahkan tak sedikit yang bangkrut. Jadi—kalau toh masih ada keuntungan, mereka pasti menggunakannya untuk mempertahankan aktivitas produksinya ketimbang kepentingan yang lain,” kata Rama lagi, berpendapat.

Perempuan itu hanya mengangguk saja mendengar pendapat Rama. Nampak enggan dia membantah perkataan temannya itu yang seprofesi dengannya sebagai praktisi furniture di Kota Jepara.
“Jam lima, sudah selesai tuh latihannya. Yuk pulang,” ajak Rama demi melihat para penonton yang telah bersiap meninggalkan tempat.

“Oke”.
Kemudian—setelah berderet bersama penonton lainnya yang antri menuju pintu keluar—Rama dan perempuan itu menuju tempat parkir mengambil kendaraannya dan langsung pulang, beriring cerahnya suasana sore itu yang tak menyiratkan hujan.

thank's to Bpk Himawan Noorkanji
Jepara 29 Juli 2010