
MALAYSIA
by Bpk Himawan Noorkanji
31 Juli 2010
Sudah menjadi resiko Marno--yang bertiket pesawat kelas ekonomi tujuan malaysia--setiba mendarat di KL airport, ikut ber-antri panjang dengan penumpang lain yang kebanyakan TKI itu tengah diperiksa satu-persatu passportnya oleh petugas. Namun--yang tak pernah disangkanya, pihak imigrasi tiba-tiba menahannya tanpa konfirmasi ketika giliran petugas bandara itu memeriksa dokumen yang ditunjukkannya!
"Silahkan menunggu di sana Pak," kata petugas keamanan yang mengawal Marno itu 'ramah', sembari menunjuk ke arah bangku-bangku berjajar di suatu ruangan yang di dalamnya ternyata telah banyak orang-orang--dari Cina daratan terutama--bernasib sama. Apa kesalahanku ya, juga mereka? Bingung Marno bertanya sendiri, dalam hati.

"Kenapa bisa di tahan di sini Bang?" tanya laki-laki itu--entah datang dari mana, tiba-tiba menghampiri dan duduk disebelah Marno. "Saya tidak tahu Bang. Saya langsung ditahan saja oleh petugas setelah pemeriksaan passport Saya," jawabnya.
"Abang Orang Melayu ya?" tanya laki-laki itu lagi. "Bukan Bang, Saya Orang Indonesia dan ini pertama kalinya Saya ke Malaysia," jawab Marno, berterus-terang.
Sejenak laki-laki itu mengamati Marno dengan pandangan tajam. Lalu, "Tujuannya kesini bekerja atau ada keperluan lain Bang?" tanya laki-laki itu lagi, lebih jauh. "Bekerja Bang. Saya dikirim ke sini oleh bos Saya--Orang Malaysia yang punya perusahaan furniture di Indonesia--sebagai desainer di showroomnya yang berada di daerah Selangor sana," jawab Marno terbuka.
Dengan runut, Marno mulai bercerita tentang alasan bosnya yang menerbangkannya ke negeri jiran itu untuk membantu tim marketing di Kuala Lumpur, mendesain barang-barang langsung ke rumah dan apartemen para pemesan, demi meghindari kesalahan teknis seminimal mungkin yang kerap merugikan pihak perusahaan gara-gara mengganti barang atau bahkan dibatalkan ordernya akibat spesifikasinya yang tidak sesuai.

Entah mengerti atau tidak, laki-laki itu nampak serius menyimak setiap perkataan Marno hingga tak terasa telah dua jam lebih waktu Marno mengakhiri ceritanya.
"Saya paham alasannya sekarang kenapa Abang ditahan. Punya nomer telpon perusahaan bosnya yang di Selangor?" kata laki-laki itu sembari bertanya.
"Ada Bang, di kartu nama. Sebentar Saya ambilkan," jawab Marno, sambil membuka tas ranselnya. "Ini Bang, kartu namanya. Ada alamat lengkap dengan nomer telponnya tertulis di situ".
"Saya pinjam sebentar ya Bang kartu namanya. Saya akan bantu telponkan ke nomer ini," kata laki-laki itu, usai membaca kartu nama yang diberikan Marno.
"Silahkan Bang".
Dengan membawa kartu nama yang diberikan Marno, laki-laki itu lalu beranjak menuju ke salah satu ruangan tempat para petugas imigrasi itu sibuk beraktivitas. Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu demi membantunya, sementara Marno hanya bisa berpasrah saja menunggu.

"Sudah Saya hubungi perusahaan bosnya, sebentar lagi akan ada yang menjemput. Jangan ke mana-mana ya Bang, tunggu di sini saja," kata laki-laki itu akhirnya keluar, mendatangi Marno lagi setelah hampir setengah jam berada di ruangan itu.
Lega rasanya, sukur Marno dalam hati. Kekuatiran dideportasi seketika hilang. Spontan kembali terbayang rencananya--di sela libur kerja--ingin melihat KLCC alias menara kembar, Genting Highland, Petaling Jaya alias Pecinannya KL dan tempat lain yang terkenal di negara itu.
Namun--terlepas dari kegembiraannya itu, rasa penasaran tentang alasan penahanannya yang seharusnya tidak terjadi itu--karena dia masih merasa dokumen yang dibawanya lengkap dan resmi--masih tetap menjadi pertanyaan yang memenuhi benak Marno.
"Mohon maaf jika petugas kami sudah menahan Abang di sini karena curiga melihat status visa di passport yang Abang punya berlevel "profesional", berbeda dengan penumpang yang bersama Abang tadi rata-rata "temporary employee" atau "employee"," kata laki-laki itu--ternyata petugas imigrasi yang tak berseragam, menjawab pertanyaan Marno.
"Apalagi," lanjut laki-laki itu, menambahkan, "penampilan Abang juga tidak meyakinkan sebagai "profesional" karena berpakaian casual dan bersandal".
Gelinya sendiri rasanya Marno dalam hati mendengar jawaban laki-laki itu barusan. Masalah penampilan rupanya, pikirnya yang baru tersadar--hal yang sering dianggapnya sepele, ternyata bisa menjadi sangat penting berkait status seseorang di tempat yang berbeda budaya.

"Sama-sama Bang, Saya sendiri juga salah karena telah membuat repot Abang dan petugas di sini. Saya juga berterima kasih karena Abang sudah membantu menghubungi bos Saya," kata Marno akhirnya nampak tulus, diujung pembicaraan.
Kemudian--setelah passportnya yang sempat ditahan itu dikembalikan--dengan diantar laki-laki itu, Marno segera meninggalkan kantor imigrasi bandara menuju ke tempat penjemputan di mana kerabat Bosnya telah datang dan tengah menunggu di sana.
Sebuah tulisan dari
Bpk Himawan Noorkanji
Jepara 31 Juli 2010