
Kambing In Relegi
Cinta Pada Tuhan
Islam merupakan agama yang hakiki dan realiti, bukannya agama khayalan terlebih melawan arus fitrah manusia. Oleh karena itu Islam tidak menafikan terdapat di sana perkara-perkara yang dikasihi, disukai dan dicintai oleh manusia kerana sememangnya merupakan kecenderungan dan fitrah setiap manusia. Maka seorang manusia itu akan mengasihi keluarga, harta dan tempat tinggal. Namun tidak sepatutnya terdapat sesuatu di dunia dan akhirat lebih dikasihi daripada kecintaan terhadap Allah dan Rasul Nya. Jika berlaku sedemikian, maka dia adalah orang yang kurang imannya dan wajib dia berusaha untuk menyempurnakan keimanannya.
Menyebut cinta kepada Allah atau menyebut nama Allah terasa tawar dan hambar, tetapi menyebut cinta kepada manusia terasa sungguh bahagia dan menyeronokkan. Kenapa hal ini bisa terjadi, sedangkan Allah itu bersifat Maha Sempurna, manakala manusia bersifat dengan segala kekurangan. Mencintai Allah tidak akan pernah ada mengenal arti kecewa atau dikhianati. Allah memiliki segala kecantikan, keagungan dan kebaikan. Cinta kepada-Nya pasti dibalas dengan berbagai curahan nikmat dan rahasia yang seni.

Cinta itu seperti magnet yang akan menarik kekasih kepada kekasihnya. Orang yang mencintai seseorang akan suka bertemu dengan kekasih nya. Orang yang kasihkan Allah tidak merasa berat untuk bermusafir dari tanah airnya untuk tinggal bersama Kekasihnya menikmati nikmat pertemuan dengan Nya. Al hasil, akal yang singkat turut mengatakan, Allah paling layak dicintai kerana Dia memiliki segala ciri-ciri yang di ingini oleh seorang kekasih. Perkara paling pantas untuk menarik seseorang mencintai Allah ialah dengan merenungi kemuliaan dan kemurahan Allah yang sentiasa mencurahkan segala nikmat-Nya pada setiap waktu, pada setiap hembusan nafas dan deguban jantung.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (yang dilimpahkanNya kepada kamu), tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. (al-Nahl : 18 ).

Hanya dengan merenung sejenak, kita akan mendapati bahawa Allah adalah paling layak bagi setiap cinta dan pujian. Dia lebih utama untuk bertahta di jiwa setiap manusia dari pada kecintaan kepada kedua ibu bapa, anak-anak dan diri sendiri yang berada di antara dua rongga. Setiap hari kita memerlukan Allah untuk hidup dan menikmati segala kejadian-Nya, cahaya yang terang, nikmat siang dan malam dan sebagainya. Namun, kenapa masih tidak terkesan di hati kita menyaksikan limpahan nikmat dan ihsan-Nya, kekuasaan-Nya yang mengairankan orang-orang yang melihatnya, keagungan-Nya yang tidak mampu diungkapkan oleh orang-orang yang cuba mengungkapkannya, dan segala sifat keindahan dan kesempurnaan-Nya.....?
Puncak bagi segala permasalahan ini ialah butanya mata hati, dankalnya tauhid dan pengetahuan manusia tentang Allah. Tidak mungkin seseorang itu mengasihi sesuatu jika dia tidak mengenalinya. Cinta hanya akan datang setelah didahului dengan pengenalan. Pada hari ini, manusia lebih mengenali dunia dari pada Pencipta dunia. Oleh kerana itu, hati mereka gersang dari cinta Ilahi, cinta yang hakiki. Kejadian Tuhan terlalu di cintai tetapi Pemiliknya yang mutlak dilupai sehingga segala suruhan dan larangan-Nya tidak diperdulikan. Agama Tuhan hendak ditegakkan tetapi Tuhan Pemilik agama itu tidak dipatri di dalam hati. Tauhid tidak dihayati, maka bagaimana tuhan hendak dikenali, apalagi untuk dicintai.

Kecintaan kepada Allah adalah suatu kedudukan yang istimewa. Allah mengangkat kedudukan hamba yang mencintai-Nya kepada setinggi-tinggi derajat. Bagi manusia yang mengutamakan kecintaan kepada selain Allah, Allah meletakkannya di kedudukan yang hina, menjadi hamba kepada dunia sepanjang hayatnya. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesiapa yang suka bertemu Allah, maka Allah suka bertemu dengannya.” Sebahagian salaf berkata: “Tidak ada suatu perkara yang lebih disukai Allah pada seseorang hamba selepas hamba tersebut suka untuk bertemu dengan-Nya daripada banyak sujud kepada-Nya, maka dia mendahulukan kesukaannya bertemu Allah dengan memperbanyakkan sujud kepada-Nya.”
Allah SWT berfirman :
Maka cita-citakanlah mati (supaya kamu dimatikan sekarang juga), jika betul kamu orang-orang yang benar. ( al-Baqarah : 94 )

Seseorang itu tidak suka kepada kematian kadang kala disebabkan kecintaannya kepada dunia, sedih untuk berpisah dari keluarga, harta dan anak-anaknya. Namun, ada kalanya seseorang itu tidak suka kepada kematian ketika berada pada permulaan makam Mahabbatullah. Dia bukan membenci kematian tetapi tidak mahu saat itu dipercepatkan sebelum dia benar-benar bersedia untuk bertemu dengan Kekasihnya. Maka dia akan berusaha keras bagi menyiapkan segala kelengkapan dan bekalan sebelum menjelangnya saat tersebut. Keadaan ini tidak menunjukkan kekurangan kecintaannya. Orang yang mencintai Allah sentiasa mengutamakan apa yang disukai Allah daripada kesukaannya zahir dan batin. Maka dia akan sentiasa merindui amal yang akan mendekatkannya kepada Kekasihnya dan menjauhkan diri daripada mengikut nafsunya.

Orang yang mengikut nafsunya adalah orang yang menjadikan nafsu sebagai tawanan dan kekasihnya, sedangkan orang yang mencintai Allah meninggalkan kehendak diri dan nafsunya kerana kehendak Kekasihnya. Bahkan, apabila kecintaan kepada Allah telah dominan dalam diri seseorang, dia tidak akan lagi merasa yang lain dengan selain Kekasihnya. Kecintaan kepada Allah merupakan sebab Allah mencintainya. Apabila Allah telah mengasihinya, maka Allah akan melindunginya dan membantunya menghadapi musuh-musuhnya, musuh manusia itu ialah nafsunya sendiri.
Dan Allah lebih mengetahui berkenaan musuh-musuh kamu, (oleh itu awasilah angkara musuh kamu itu). Dan cukuplah Allah sebagai pengawal yang melindungi, dan cukuplah Allah sebagai Penolong (yang menyelamatkan kamu dari angkara mereka) ( al-Nisa’ : 45 )

Orang yang mencintai Allah, lidahnya tidak pernah terlepas dari menyebut nama Kekasih-Nya dan Allah tidak pernah hilang dari hatinya. Tanda cinta kepada Allah, dia suka menyebut-Nya, suka membaca al Quran yang merupakan kalam-Nya, suka kepada Rasulullah SAW dan suka kepada apa yang dinisbahkan kepada-Nya. Orang yang mencintai Allah akan merasa nikmat dan tidak berasa berat melakukan ketaatan. Dia tidak merasa ketaatan yang dilakukan semata-mata kerana tunduk dengan perintah-Nya tetapi dilakukan karena kecintaan terhadap Kekasihnya. Orang yang telah mengenal dan merasa cinta Allah tidak akan tertarik dengan cinta yang lain. Itulah magnet cinta Allah. Alangkah ruginya orang yang hatinya tidak ingin mengenal cinta Allah, cinta yang hakiki dan sejati.......ameen.