
Kambing In Relegi
SEBUAH PENGAKUAN
Dengan sekian banyak pengalaman, rasanya telah cukup bukti betapa riskannya jumlah tanpa kualitas itu. Kenyataan yang ada telah memberi pelajaran berharga bagi kita agar semakin yakin akan kebenaran penegasan Allah SWT untuk menjaga mutu dan kualitas. Tanpa itu tak akan beararti semua perjuangan ini.
Kenapa negeri pernah dijajah kaum kolonialis selama 350 tahun ? Adakah ketika itu jumlah kita sedikit ? Tidak, kita mayoritas, sebab kita adalah penduduk asli. Masalahnya memang bukan soal kuantitas tapi kualitas. Bukan angka dan jumlah, tapi bobot dan isi.
Dalam kasus ini alangkah baiknya bila kita simak satu peristiwa besar yang pernah dialami oleh Nabi dan para sahabatnya dulu. Dalam perang Hunain, jumlah tentara muslimin sangat besar sekali. Belum pernah Rasulullah maju ke medan perang dengan mengerahkan bala tentara sebanyak itu. Akan tetapi, bukan kemenangan yang diperoleh sebagaimana dalam perang-perang sebelumnya, malahan justru nyaris hancur total. Andaikan Allah tidak segera mengulurkan bantuan-Nya niscaya pasukan kaum muslimin hancur berantakan.

Sebenarnya, secara teori ummat Islam saat itu mesti menang. Dilihat dari sudut manapun tak ada titik rawan. Diotak-atik dengan strategi apapun pasukan muslimin di atas angin. Jumlah pasukan cukup besar, peralatan juga cukup memadai. Ditambah lagi secara psikologis mereka baru saja mendapat kemenangan yang gemilang, yaitu FUTUH MAKKAH. Tetapi, kenapa mereka hampir saja terkalahkan oleh musuh ? Untuk mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya tentang permasalahan ini, kita kutip firman Allah Surah At-Taubah ayat 25-26 :
"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak. Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikitpun juga, dan bumi yang luas ini terasa sempit olehmu, kamudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir".

Dengan demikian terjawablah pertanyaan, kenapa mereka kalah padahal jumlah mereka besar ? Jumlah yang besar seringkali kita menyepelekan bantuan Allah SWT; yakin dan bangga dengan kemampuan dan kehebatan diri termasuk kehebatan organisasi yang berjumlah besar. Nampak dalam penampilan seolah-olah kita tidak lagi butuh bantuan Allah SWT. Sungguh hal ini suatu ketakaburan yang bisa mengundang amarah Tuhan.
Hal ini bukan berarti kita harus menghindari jumlah yang banyak, sama sekali bukan itu yang dimaksudkan. Jumlah banyak itu juga penting, asal kualitasnya bisa dijamin. Bahkan, alangkah idealnya sekiranya ummat Islam ini menjadi kelompok yang besar dengan kualitas yang mumpuni. Hanya saja, pada umumnya bila sudah ada kecenderungan mengejar jumlah sebagai target skala prioritas, faktor kualitas kurang mendapatkan porsi perhatian.

Jauh sebelum ini terjadi pada diri kita, Allah telah mengangkat peristiwa perang Hunain ini sebagai pelajaran yang cukup berharga agar kita tidak mengulangnya, tidak terperosok untuk kali yang kedua.
Melalui peristiwa Hunain Allah hendak memberi pelajaran yang cukup berarti bagi kita, tentang bahayanya menambah jumlah personel tanpa diikuti oleh peningkatan kualitasnya. Akhirnya, bukan kekuatan yang terhimpun, akan tetapi malah menjadi beban yang sangat merepotkan. Bila demikian habislah waktu, tenaga, dan fikiran hanya untuk berbenah ke dalam. Masalah konsolidasi organisasi selalu menjadi program utama setiap periode tanpa hasil yang gemilang. Kenapa ? Kualitas ummat belum cukup untuk meraih sebuah kemenangan.
Besar kecilnya tanggung jawab seseorang menjadi tanda kualitas syahadatnya, yang dapat diukur pada caranya memanfaatkan waktu. Seorang yang berkualitas selalu berusaha menumbuhsuburkan bibit syahadatnya agar dapat terus ditingkatkan lebih tinggi lagi. Tiada waktu tanpa peningkatan kualitas syahadat. Tiada program kecuali peningkatan iman. Tidak mati kecuali dalam puncak jenjang syahadat, pasrah diri kepada Tuhan.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah engkau mati kecuali dalam Islam." (Q.S. Ali Imran : 102).
Rute perjalanan yang harus dilalui untuk membuktikan syahadat bisa dikatakan singkat, bisa juga panjang. Hal tersebut tergantung pada kadar mujahadah, dukungan ibadah dan ukuran besar kecilnya tanggungjawab yang dipikul.

Namun demikian, dibalik perbedaan jauh rute itu, ada kesamaan irama dan ritme perjalanan. Jurang yang terjal, tebing yang tinngi pasti ditemukan dalam perjalanan. Bahkan dengan tegas Allah merinci tikungan-tikungan tajam yang akan dilewati dalam perjalanan proses uji coba penentuan peringkat kadar kualitas syahadat dengan firman-Nya : "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang yang beriman bersamanya : 'Bilakah datangnya pertolongan Allah ?'. Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Q.S. Al-Baqarah : 214).
Ada tiga tebing tinggi dan jurang terjal yang harus dilewati sebelum seseorang sampai ke titik kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah. Baik kenikmatan dunia apalagi yang di akhirat. Ketiga tebing dan jurang tersebut dialami oleh semua orang yang ingin menikmati surga, tak terkecuali Nabi dan Rasul Allah.
Sudah merupakan garis ketentuan Allah, atau sudah menjadi sunnatullah, hukum alam yang sudah pasti, bahwa untuk mencapai keadaan yang ideal diperlukan proses yang tidak ringan. "Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (Q.S. Al-Ahzab : 62).

Andaikan para Nabi dan Rasul mengetahui jalan mulus menuju surga tanpa mengalami hambatan dan rintangan yang serba menyulitkan, tanpa malapetaka dan ujian, tanpa kesengsaraan dan kemiskinan, maka mereka tentu akan memilih jalan itu. Akan tetapi kenyataannya tidak begitu. Semua Nabi dan Rasul mengalami nasib yang sama, menempuh rute perjalanan dengan ritme dan irama yang sama. Mereka menderita, selalu ditimpa malapetaka, ditimpa kemelaratan yang tiada tara, juga dihantui oleh perasaan yang serba takut. Hanya imanlah yang memberikan kemampuan pada mereka untuk tetap berjalan dalam rel yang sudah ditentukan.

Bukan hanya itu, segala cobaan yang datangnya dari Allah mampu dimanfaatkan untuk mempertebal keimanan, bukan sebaliknya melemahkan iman. Syahadat memang memerlukan proses pembajaan. Dan proses pembajaan yang baik hanyalah melewati berbagai kesulitan, karena sesudah kesulitan itulah akan muncul kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan." (Q.S. Al-Insyirah : 5-6).