
LOVE IN LOVE
Love ya....Love....Cinta...kata ini tiba-tiba terlontar dengan derasnya bak angin puting beliung menerpa dan menyapu deras kewajah sang bumi, sebuah kata yang tentu sudah lahir dari ribuah tahun silam dan setiap makhluk tak terkecuali yang ber lebel kan manusia tentu sudah kenal apa yang nama nya Love....Cinta.
Ketauhilan, Love...Cinta...sangat penting bagi kita semua, Love sangat penting bagi seorang politikus, Wartawan, Geolog, arsitek, tekhnokrat bahkan yang belebel kaum bawah pun tentunya akan sangat butuh kata ini...Cinta. Apakah kita hendak menutup mata dengan sejarah.....hanya dengan kata ini Love....ya Cinta lah yang menyebabkan terjadinya sebuah perang Troya dan memberi inspirasi Homerus untuk membuat sebuah syair Perang yang selalu di kenang sepanjang masa. Atau apakah Love....yang menghadirkan suatu syair dan kidung serta nyayian menjadi pemicu lahirnya kata-kata yang mempesona untuk didengar dan dinyanyikan, semua tak lepas dari yang namanya Love...cinta, dan karena ini juga ditemukanya seruling dan biola yang selalu tak lepas dari kidung yang namanya Love...Cinta. Dan bagaimana mengusiknya hati tak kala sebuah film yang menggemparkan wajah para pemuja cinta, kala cinta hadir tumbuh dalam sebuah pertemuan di tengah lautan yang juga harus terpisah karena ganasnya lautan tersebut dan jadi kisah sejarah yang selalu dikenang.......dalam suondtrack filmnya Titanic...cinta sedalam samudra.....ya...semua bermuara dari kata ini...Love...Cinta.

Suatu hari sore di bawah teriknya hawa yang seolah membakar kulit, di tepi Laut Merah telah duduk empat orang yang seolah tak jenuh memandang gelombang yang seolah saling berkejaran tiada henti dan diantara para pemancing di laut yang seolah terbuai dengan hasil ikan yang mereka dapat, serta riuk pikuknya anak – anak yang bermain dan berkejaran serta para orang tuanya yang saling asyik sedang menyantap hidangan dan sambil minum-minum....sahe (tea_red) atau pun gahwa (coffe_red) serta ada beberapa butir Tameer (Kurma_red) yang menghiasi diantara gelaran permadani mereka. Ya sore itu ......Kamis sore atau menjelang malam Jum’at sudah menjadi kebiasaan bagi penduduk disana untuk saling melepaskan kejenuhan setelah hampir enam hari mereka beraktivitas yang seolah tiada hentinya.
Dan tak luput dari itu semua adalah keempat makhluk tadi yang tak lain mereka adalah si kambing, sang keledai, si domba, dan satu orang cewek cakep sebut saja dia sang dewi kelinci. Mereka nampak sedang merenungi sesuatu di sore itu. Kilau cahaya surya di petang itu menambah sejuk pula dipikiran mereka meski hawa panas yang menusuk namun seolah tersapu dengan sejuknya angin laut yang berhembus menyapu daratan.
Mereka adalah seorang gaite (guide_red) pemandu jamaah yang datang ke tanah suci, seorang anggota catering (tugas dan kerjanya tak lain yang berurusan dengan makanan_red), dan seorang lagi adalah pelajar atau orang menuntut ilmu di di tanah suci.
Dari ke tiganya itu ternampak dari sinar dan tatapanya seolah berharap agar sang dewi kelinci untuk menjadi kekasihnya. Yaaap....pacar....atau ghacoan.....kali kalo di plesetkan. Sementara sang kelinci belum menjatuhkan pilihan pada tiga orang yang duduk dihadapa nya. Telalu lama sudah mereka diam seolah membisu hanya memandang kearah laut Merah yang seolah tak berujung.
And....dalam keheningan itu terdengar suara si kambing memekik seolah menyentak dari lamunan insan-insan ini....:
Yaallaahh....gum..gum...isyfi faeedah.....dakhinn....yaallah kalam....mafi uskut...?
Ya begitu kira-kira kata yang terucap dari si kambing yang memecah di antara keheningan dan kesunyian diantara mereka. Silahkan kalian ungkapan apa masalah kalian untuk kita semua kata si kambing lagi.
Namun yang menyentak mereka bertiga adalah kata-kata dari sang kelinci seolah membuat mereka terdiam dan tersipu.....Cinta....Ya.....Cinta, Kata-kata ini keluar dari bibir manisnya sang kelinci yang saat itu tubuhnya tengah terbalut kain hitam (abayyat_red) namun tak dipungkiri, meski cadar yang menutupi wajahnya, namun siapa pun yang normal pasti lah bilang sang dewi kelinci ini sangat cantik.
Love....Cinta...kata ketiga orang yang berada di hadapanya.....serentak. Persis seperti ucapan kata ameenn....yang keluar serentak dari mulut orang-orang yang sedang shalat berjamaah di Mesjidil Haram.
Cinta terlalu penting bagi kita semua...elho...lho..dan elho....kata si kelinci sambil menunjuk kepada tiga orang yang duduk di depanya. Lantas si keledai pun balik menyanggah dan elho hey kelinci apa lho tau arti ini semua....? Sang kelinci menundukkan wajahnya di balik cadar hitam yang menutup diantara aura cantik wajahnya ini. Sementara ketiga orang yang duduk dihadapanya saling berebut untuk berpendapat lebih dulu...guna dapat menaklukkan dan meluluhkan hati sang dewi ini.
Hay....Tuhanku tundukkan lah hatinya padaku pinta... sikambing di dalam hati, seraya berkata.... Elho semua ingin tau arti nya Cinta....Love...Cinta adalah kabar atau petuah yang bersal dan bersandar dari hati, untuk kemudian akal dan pikiran yang menyanggah dan membahas untuk di pertanyakan , tetapi hati tetap akan percaya pada hal ini, dan bersikukuh menyampaikanya. Dan seluruh isi hati pun akan siap menerima dan menanggung segala akibat dan sebab atas kata-kata ini...Love.

Si Keledai yang profesinya sebagai anggota catering ini pun tak mau kalah berujar....hey...tau ngak sih lho Love...Cinta itu Apa...?.....Cinta laksana makanan yang enak dan selalu nyaman untuk disantap tak kala sedang lapar dan bagai sejuknya asir (syrup_red) yang menyegarkan tenggorukan tak kala haus dahaga sedang menyerang. Dan Si domba yang seorang pelajar alias orang yang menuntut ilmu di Mesjidil Haram ini pun berujar.....gue menafsirkan arti Love...Cinta...bagaikan sebuah puisi yang makna-maknanya keluar dari lubuk hati yang terdalam, keindahanya akan sirna jika dalam nafasnya disisipi akal dan tipu muslihat.
Ya.....yoi....gangs begitulah kira-kira ketiganya mengungkapakan arti dari Love....yang guna dan tujuan tak lain hanya satu.....agar di kau sang dewi kelinci......mau menyandarkan hatimu pada diriku.
Duhai Tuhan pencipta zaman azali.....
Sungguh....Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Abadi
Kami tak menginginkan apa-apa selain menjadi insan
Kami punya raga yang tumbuh
Hati yang mudah tersentuh
Dan akal yang berpikir penuh
Duhai alam yang kasih.....
Hanya engkaulah yang utuh
Kami hanyalah seumur embun yang runtuh
Kami turun dari langit di waktu fajar
Dan kembali naik kelangit kala Dhuha menjalar................
(El_hakim,T,Dr_Al Masyri’_red)
Yoi...and yap...kita terusin lagi ceritanya......Namun sang dewi kelinci berkata ....Bukan itu yang gue maksud pada elho semua. Apa yang kalian rasakan jikalau gue harus memilih satu diantanya lho bertiga semua, sebagai kekasih hatiku. Elho hai sang gaite, atau elho hai Penjaga catering, atau bahkan elho hay sang pelajar. Atau gue harus pilih elho hay sang gaite...bagaimana persaanmu.....tanya sang kelinci menatap di balik cadarnya kepada si kambing.
Lantas dari mulutnya ini si kambing berujar....Gue pasti cemburu pada sang malam yang dengan indah dihiasi purnama nan sejuk dipandang, ato tak kala surya yang hendak terbenam karena ia telah membelai kedua belah pipimu di balik cadar dengan tangan-tangan cahanya. Gue khawatir sang purnama dan sang surya itu mencuri sesuatu dari dirimu, sebelum ia beranjak dan berganti sesuai dengan revolosi yang sudah teratur. Dan gue juga tak akan rela kalau indah nya bola matamu harus dicuri dan diambil oleh kedua shohibku ini....! bagi gue .....sekarang kedua shohibku ini bagaikan seorang pencuri yang sedang mengintip dari pancaran dan sinaran matamu bak permata yang kilau dan pesonanya membuat takjub tak kala siapa pun yang memandang. Tak kan gue biarkan seorang pun yang akan mengharapkan kegadisan elho yang penuh daya pesona bersembunyi dibalik wajah misteri. Dimata gue semua laki-laki berubah menjadi seorang perampok jika mereka mendekati harta simpanan mu.....Si kambing berujar.
Yapp...Kemudian sang kelinci pun berkata.....Mengapa...? Lho semua bersantai duduk seolah tidak nampak akan serius dan cemburu...timbal si kelinci sambil tersenyum.
Ya iyalah....bagaimana gue meski serius...sementara saat ini perhatianmu terbagi....kalau gue boleh berujar....bagaimana mungkin bak segelas asir dengan harus di bagi dan di munum secara bersamaan ...jikalau seandai gue yang mutlak pemilik dari segelas asir tersebut...tentulah gue akan serius, cemburu dan bahkan memagarinya dengan sejuta cinta yang tertanam dalam hatiku.......Sang keledai berujar seolah menyanggah perkataan sang kelinci.
Lantas sang kelinci pun berkata...cinta elho tak lebih hanya berdasar atas kepemilikan dan bersama. Kemudian ia menolehkan padangan pada si domba yang pelajar ini. Seandainya gue memilih elho hay domba...apa kiranya perasaan elho kepada gue...tanya sang kelinci pada si domba.

Lantas sang domba pun berucap...bagi diri gue...Engkau laksana embun di pagi hari yang sejuk dan seolah memberi semangat dan inspirasi dalam jiwa ku yang gersang dan haus akan kasih sayang. Ketika elho tersenyum....didalam hati gue..menjadi bercahaya...penuh kasih dan kedamaian...Dengan bangganya gue akan duduk disisi elho...saat di mana seluruh mata dunia tertuju pada diri elho....mereka yang kagum akan aura elho...sungguh kecantikan mu adalah anugrah ilahi yang tak ternilai dengan harga. Dan gue sangat bangga telah berada diantaranya.
Lantas kelinci pun berkata...cintamu juga atas dasar yang sama sembari memalingkan wajahnya dari ketiga insan yang duduk di depanya sembari memandangi surya yang mulai menjauh dari upuk dengan semburat merah jingganya yang membelai Laut Merah takala senja itu. Dan keadaan terhening sejenak.....namun dalam keheningan itu terdengar suara sang keledai yang berkata....lalu siapa yang elho pilih diantara kami ini.....?
Kelinci menjawab...gue tidak memilih siapa-siapa diantara kalian. Bagi gue cinta memang kadang harus memilih dan memilah...namun ada hal yang kalian tak mengerti dari indahnya pesona dari seorang wanita......Karena sesungguhnya .......Wanita......itu lebih luas...luas dari laut merah yang berada di depan kita ini.....dan lebih misterius dari semua itu...jika kalian ingin tau.....tutup pembicaraan dari sang dewi kelinci ini.