Kamis, 21 April 2011

Seutas Tali Keberanian



Aku merindumu sangat gaduh. Seperti sepisau sepi, segemuruh luruh, dan segala keresahan yang tak patuh. Mereka kompak bersetubuh.
Aku merindumu saat mataku terbuka. Saat mataku terpejam. Bahkan saat aku sedang ada di kelam malam. Menggigil, aku dibuatnya demam.
Merindumu itu mudah. Seperti hujan yang mau tumpah. Seketika dia buat kita basah. Ah, aku, tentu cuma bisa pasrah dalam gelisah.
Aku merindumu seperti senja di hari Sabtu. Terlalu menjura menanti Minggu.
Aku merindumu seperti debu. Yang kerap enyah saat tak resah. Dan kembali pasrah saat gundah.
Aku merindumu tak kenal waktu. Setiap helaan napas, setiap gerakan gatal, dan setiap waktu mandi aku. Iya, sedemikian absurdnya aku.
Aku merindumu bagai ambigu. Antara merah dan biru. Aku memilih abu-abu. Warna itu cocok untukku.
Aku merindumu seperti awan yang cerah. Yang cantik berarak, berjejer riang. Liat, awan menggemaskan itu akan ku bawa pulang. Untuk seseorang
Aku merindumu seperti alunan lagu. Yang dentuman dan baitnya nada berima. Sama dengan detak jantungku
Aku merindumu dengan inginku. Dengan letihku. Dengan sedihku. Dan kamu, akan menghilangkan semua itu.
Aku merindumu seperti candu. Yang kau bakar pelan-pelan. Tolong! Jangan biarkan ku mati perlahan.
Aku merindumu dengan sombongku. Dengan angkuhku. Walaupun kau ada dihadapanku, aku tak akan mengaku!



Aku merindumu dalam marah. Setelah pendar emosi yang gerah. Aku akan bakar semua pilar hatimu yang goyah.
Aku merindumu dalam diam. Kusampaikan dengan bisik halus pada malam. Berharap kau mengerti dan paham.
Aku merindumu merindukan aku. Merindukan kita dan kerinduan ini. Terlebih lagi, saat kau ada di sana, dan aku cuma akan ada di sini.
Aku merindumu dengan mengertiku. Ketika jarak terpisah, degup yang membuncah. Dan pekik hati yang menanti.
Aku merindumu yang tiada sempurna. Dengan begitu, kan kulengkapi kekuranganmu. Kita akan saling berguna.
Aku merindumu dalam ragu. Karena aku tak tahu. Gerangan apa yang sedang berlalu. Kamu? Aku? Atau sepenggal kisah lalu.
Aku merindumu saatku mulai mengantuk. Aku ingin terjaga, tak terjerembab, jauh dari pulas. Karena sadarku lebih indah dari mimpiku. Kamu.


Tersebutlah kisah seutas tali yang senang bepergian. Suatu hari di dalam hutan ia temukan sebatang ranting dengan daunnya yang hijau dan bunga kuncup yang semakin memperindahnya, talipun menghampiri kemudian bertanya :
"Kenapa kau terbaring disini ranting ?"
"Aku jatuh dari pohonku karena angin yang kencang, dan aku tak memiliki kekuatan untuk dapat kembali" jawab ranting dengan suara lirih.
Talipun merasa kasihan dan akhirnya talipun membantu ranting untuk berdiri dengan menyimpulkan tali pada tubuh ranting "Aku yang akan menjagamu" begitulah tutur tali.

Haripun berganti dan bulan demi bulanpun berlalu, Tali semakin menyayangi ranting dan rantingpun semakin merasa berharga karena tali selalu membuatnya merasa luar biasa. Tali begitu menyayangi ranting hingga semakin ia kuatkan ikatannya,Tali berjanji untuk tidak melepaskan ranting, namun tali tak menyadari ...

"Tali mengapa kau mengikatku semakin erat" tanya ranting
"Karena aku begitu mencintaimu, aku memiliki banyak harapan padamu dan banyak mimpi - mimpiku yang ingin kugapai bersamamu" jawab tali
Rantingpun tersenyum mendengarnya.

Sampai tibalah suatu hari, ketika ikatan kuat tali itu akhirnya mematahkan ranting. Talipun menangis memanggil manggil ranting namun ranting diam seribu bahasa seolah ia tak peduli..

Semilir angin berhembus, dalam bayangan kabut ia melihat sosok ranting tersenyum padanya dan berkata "Tali, terima kasih telah mencintaiku..namun ada satu hal yang ingin kukatakan sejak dulu namun tak berani kuungkap padamu, Tali..semakin kau kuatkan ikatanmu semakin kau menyakitiku..berbulan - bulan kucoba tuk menahan sakit itu karena aku tahu kau lakukan itu karena cintamu padaku..tapi kau lupa Tali, cintamu itulah yang membunuhku, keegoanmu tuk memilikiku yang menghancurkanku dan harapan serta mimpimu itulah yang mematahkanku"


Ketika telaga mata telah mengering
dan gunung hati telah membeku..

Tatkala masa takkan mampu menggulirkan waktu
dan zaman takkan mampu menggantikan hati..

Dikala segala yang terjadi yang telah terlewati
terlanjur tuk disesali
dan terlambat tuk disadari..

Biarkan ia berlalu
seperti angin yang berhembus
Izinkan ia tenggelam
seperti mentari yang kembali ke peraduannya

Untukmu Tali..Janganlah kau patahkan rantingmu

Kenapa datangnya pelangi harus di dahuluin dengan mendung yang mencekam dan sambaran petir jg hujat yg lebat ?
Kenapa pelangi datang hanya beberapa saat saja ?
adakah jawaban untuk ini .... !