Sabtu, 19 Maret 2011



Aku merindumu sangat gaduh. Seperti sepisau sepi, segemuruh luruh, dan segala keresahan yang tak patuh. Mereka kompak bersetubuh.
Aku merindumu saat mataku terbuka. Saat mataku terpejam. Bahkan saat aku sedang ada di kelam malam. Menggigil, aku dibuatnya demam.
Merindumu itu mudah. Seperti hujan yang mau tumpah. Seketika dia buat kita basah. Ah, aku, tentu cuma bisa pasrah dalam gelisah.
Aku merindumu seperti senja di hari Sabtu. Terlalu menjura menanti Minggu.
Aku merindumu seperti debu. Yang kerap enyah saat tak resah. Dan kembali pasrah saat gundah.
Aku merindumu tak kenal waktu. Setiap helaan napas, setiap gerakan gatal, dan setiap waktu mandi aku. Iya, sedemikian absurdnya aku.
Aku merindumu bagai ambigu. Antara merah dan biru. Aku memilih abu-abu. Warna itu cocok untukku.
Aku merindumu seperti awan yang cerah. Yang cantik berarak, berjejer riang. Liat, awan menggemaskan itu akan ku bawa pulang. Untuk seseorang
Aku merindumu seperti alunan lagu. Yang dentuman dan baitnya nada berima. Sama dengan detak jantungku
Aku merindumu dengan inginku. Dengan letihku. Dengan sedihku. Dan kamu, akan menghilangkan semua itu.

Aku merindumu seperti candu. Yang kau bakar pelan-pelan. Tolong! Jangan biarkan ku mati perlahan.
Aku merindumu dengan sombongku. Dengan angkuhku. Walaupun kau ada dihadapanku, aku tak akan mengaku!
Aku merindumu dalam marah. Setelah pendar emosi yang gerah. Aku akan bakar semua pilar hatimu yang goyah.
Aku merindumu dalam diam. Kusampaikan dengan bisik halus pada malam. Berharap kau mengerti dan paham.
Aku merindumu merindukan aku. Merindukan kita dan kerinduan ini. Terlebih lagi, saat kau ada di sana, dan aku cuma akan ada di sini.
Aku merindumu dengan mengertiku. Ketika jarak terpisah, degup yang membuncah. Dan pekik hati yang menanti.
Aku merindumu yang tiada sempurna. Dengan begitu, kan kulengkapi kekuranganmu. Kita akan saling berguna.
Aku merindumu dalam ragu. Karena aku tak tahu. Gerangan apa yang sedang berlalu. Kamu? Aku? Atau sepenggal kisah lalu.
Aku merindumu saatku mulai mengantuk. Aku ingin terjaga, tak terjerembab, jauh dari pulas. Karena sadarku lebih indah dari mimpiku. Kamu.