
Kambing Kisahku
Ini kisah gue ...berawal dari kecil, gue merasa tidak diharapkan dan di idamkan kelahiran gue oleh oleh bonyok, dan gue juga ngak ngerti kenapa meski begitu kenapa dan kenapa sebuah pertanyaan yang selalu menghantui di benak yang seolah tak berujung. Bila kebanyakan bonyok pada umumnya bangga terhadap sang anak, bonyok gue, terutama bokap, sangat antipati, dan sepertinya menelantarkan kebutuhan gue.... akan kasih sayang sebagai Orto.
Apapun prestasi dan kegiatan gue dan apapun yang gue lakukan, dimata mereka tidak ada artinya. Bukan gue bermaksud untuk sombong, tetapi gue merasa bahwa Tuhan memberikan rahmat pada gue berupa anugrah kecerdasan dan skil yang diatas rata-rata. Akan tetapi karena penolakan orto, hidup gue seakan akan terlunta lunta. Bahkan untuk kuliah pun, gue harus mengais ngais rejeki sendiri. Tidak seperti saudara gue yang lain yang bernasib lebih mujur. Disamping itu, sedari kecil hingga dewasa, sepertinya gue seperti menentang arus kerasnya kehidupan dengan sejuta keangkuhan akan sebuah falsafah hidup yang menurut gue bagai sebuah kehormatan yang harus di pertahankan sampai azal menjelang kelak.

Bahkan sampai sekarang, gue masih berpikir, apa kesalahan gue sewaktu kecil . Waktu sekolah sehingga bisa dimusuhi atau dikucilkan dari pergaulan oleh hampir semua teman-teman. Kalau pun diterima, kebanyakan mereka hanya menjadikan bahan tertawaan serta cercaan pada diri gue.
Saat ini gue merasa bahkan seakan Tuhan pun menjauhi gue. Sebenarnya sudah cukup lama gue merasakan hal ini. Karena dari itu, gue pun menjadi merasa tidak ada gunanya untuk menjalani hidup ini. Toh ujung-ujungnya gue merasa bakal membawa kepahitan dan seabrek kegagalan yang lain.

Gue sudah berupaya mencari Tuhan, mendekatkan diri, memperbanyak ibadah, mencari para Ustadz yang bisa gue jadikan tempat bertanya. Tapi sepertinya usaha gue itupun seolah tidak mendapatkan lampu hijau bahkan yang lebih parah lampu merah yang didapat. Setengah mati gue mencoba itu tetapi gue tidak mendapatkan ketenangan hati. Sampai akhirnya perjalan gue berlanjut sampai di tanah gurun yang tak jauh dari tanah yang paling suci di maya pada ini.

Gue adalah seseorang yang terus berupaya membuat perencanaan hidup sebelum melangkah. Tetapi saat ini, hati kecil gue memekik dan berteriak - berteriak, sehebat apapun rencana gue, ujungnya bisa dipastikan berakhir dengan kekecewaan.

Gue terus terang, mencari kebahagiaan abadi di akhirat. Akan tetapi, apa itu berarti gue tidak boleh merasakan indahnya hidup di dunia....? akan kah cita dan harap dapat gue dekap......!