Jumat, 01 Januari 2010

Kalam Tuhan




kambing relegi
WAHYU ILAHI

Kadang hidup tidak lah mudah seperti apa yang dibayangkan dan dirasakan bahkan yang di citakan. Dalam hidup segala cobaan dan rintangan terkadang membuat kita harus tertatih dan meniti tiada henti. Orang bilang bilang hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan yang perlu kesabaran dan ketabahan, karena hidup adalah sebuah ujian dan sebagai jalan utama untuk menuju akhirat. Kadang dalam hidup harus mengantarkan kita pada jurang lembah kenistaan dan kehinaan, namun ada kalanya dengan hidup bisa mengantarkan seseorang pada kebahagian dan kemuliaan. Dalam menapaki kehidupan di alam yang fana ini perlu adanya petunjuk jalan agar dapat selamat dan tidak tersesat. Tanpa itu jangan harap akan mulus dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Hidup tanpa petunjuk dan arah ibarat meraba dalam gelap. Apa yang diharapkan oleh mereka yang dirundung kegelapan. Tiada lain dari datangnya seberkas cahaya terang untuk menerangi jalanya. Allah swt menurunkan al-Qur'an kepada manusia lewat Rasulullah untuk memberikan petunjuk dan bimbingan menuju jalan kebenaran. Rasul adalah pembawa cahaya yang terang-benderang yang mengeluarkan manusia dari kegelapan dan membawa pada cahaya terang. Membawa berita gembira, penjelasan, dan pengantar manusia pada jalan Tuhan.

الر, كتب أنزلنه اليك لتخرج الناس من الظلمت الى النور باءزن ربهم الى صرط العزيز الحميد.

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ( qs : Ibrahim : 1 )

Sejarah telah membuktikan kemampuan al-Qur'an dalam membimbing manusia menuju jalan lurus dan terang itu. Bimbingan al-Qur'an telah menyelamatkan manusia dari kesesatan, kehinaan dan kenistaan, untuk menggapai kebahagiaan dan kemuliaan. Pada zaman jahiliyah, ummat manusia sesaat berada di salah satu puncak kemerosotan dan krisis akhlak. Dekadensi moral merebak ke seluruh belahan bumi, kerusakan telah terjadi di mana-mana. Peradaban manusia berada di titik kehancuran pada level yang paling rendah. Nilai-nilai kemanusiaan tertimbun dalam lumpur keangkaramurkaan dan kedurjanaan, yang dominan dan mengendalikan keadaan adalah keserakahan hawa nafsu dan naluri hewan. Dalam kondisi seperti demikian, Al-Qur'an di turunkan untuk menyelamatkan manusia yang sedang dikuasai syetan. Menerangi jalan gelap yang penuh dengan perangkap, membasahi ruh yang kering. Menumbuh kembangkan peranan hati nurani yang lama tertimbun dengan gumpalan-gumpalan kesalahan dan membangkitkan jiwa suci yang telah terjajah oleh agresor handal sang iblis dan pasukannya.

يهدى به الله من اتبع رضو نه, سبل السلم ويخر جهم من الظلمت الى النور باءزنه, ويهد يهم الى صرا ط مستقيم.

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. ( qs : Al Maa’idah : 16 )

Dengan kalimat-kalimat dan ayat-ayat Tuhan, ummat manusia terselamatkan dari kebinasaan dan kesengsaraan di hari pembalasan. Lewat Rasul Nya yang mulia, Rasulullah saw, ummat manusia diantar meraih kebahagiaan dan kemuliaan. Bila al-Qur'an dijadikan pegangan dan padoman, kesusahan hati terobatkan, kegalauan jiwa tersembuhkan yang beujung pada ketenangan dan kedamaian dalam hati. Problematika yang ada pun dengan mudah dapat dipecahkan, tak ada beban berat dalam menjalani dinamika kehidupan bila al-Qur'an di jadikan rujukan dan pagangan, semua persoalan manusia dapat terjawab. Tetapi ternyata seiring dengan semakin banyaknya popolasi jumlah manusia, jumlah mereka yang mengabaikan rambu-rambu al-Qur'an juga semakin banyak. Bahkan timbul terkesan mereka tidak mau kenal sama sekali dengan pedoman hidup yang indah ini. Akibatnya timbul berbagai ketimpangan yang mendorong kepada kehancuran dan kenistaan. Keseimbangan alam terganggung oleh gaung peperangan demi kepuasan hawa nafsu belaka. Mereka memandang dunia dengan cara yang salah, lalu mengajak dan memaksa orang lain mengikuti cara pandang itu dengan iming-iming indahnya kenikmatan dunia. Syukurlah bahwa masih ada kelompok manusia yang tetap istiqamah memegang petunjuk Allah sehingga kehancuran total dunia ini masih sempat tertunda waktu kedatangannya.

ولو جعلنه قرءانا أعجميا لقا لوا لوالا فصلت ءايته, ءاعجمى وعربى, قل هو للزين ءامنوا هدى وشفاء, والز ين لا يؤمنون فى ءازانهم وقر وهو عليهم عمى, أو لئك ينادو ن من مكان بعيد.

“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka[1334]. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh." ( qs : Fushsilat : 44 )

Bagaimana menjadikan al-Qur'an itu bisa hidup dan mewarnai perilaku dalam kehidupan, bagaimana membentuk wahyu Allah itu menjadi ruh yang bisa menggetarkan hati dan menggerakkan jiwa bagi yang mendengarkan, kemudian mengubah sikap dan sifat serta tabiat manusia yang didominasi hawa nafsu dan syetan. Bagaimana mengkondisikan al-Qur'an agar bisa menyadarkan jiwa yang jauh dari peran serta Tuhan, mengembalikan fitrah manusia yang terlupakan. Inilah beberapa pertanyaan yang mesti dijawab oleh ummat Islam modern sebagai bukti kesungguhannya hendak melestarikan dan menerangi dunia dengan firman Tuhan.

Pada diri para as-saabiquunal-awwalun, para pemula pemeluk Islam, terlihat al-Qur'an itu hidup dan berkembang. Menggetarkan jiwanya, menghidupkan ruhnya, di setiap wahyu turun, serta-merta mereka lakukan apa yang diperintahkan oleh kalam Tuhan. Dan mereka tinggalkan yang dilarang dengan segera tanpa penawaran. Segala perintah dan larangan tanpa pikir pajang mereka laksanakan. Ini menunjukkan wahyu itu hidup, wahyu itu menjadi ruh yang bisa menghidupkan dan menggerakkan. Ketika perintah berinfaq turun, para sahabat berlomba-lomba menginfaqkan hartanya. Bahkan ada yang menyerahkan seluruh hartanya seperti Abu Bakar, atau setengahnya seperti Umar bin Khatthab. Dan ada yang sebagian seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, demikian juga sahabat yang lain tidak ketinggalan berlomba mengamalkan ayat ini. Ketika larangan berjudi dan meminum khamar tiba, semua sahabat menjauhi dan meninggalkannya. Mereka berhenti bermaian judi dan menumpahkan beratus-ratus liter khamr ke jalanan. Segala bentuk barang yang memabukkan juga mereka buang. Perintah yang berat pun mereka laksanakan dan disambut dengan penuh antusias. Perintah perang, misalnya, mereka laksanakan dengan gembira, bahkan dianggap sebagai rekreasi dan jalan pintas menuju surga. Padahal perintah itu akan banyak mengorbankan harta jiwa, bahkan keluarga. Namun demikian mereka tidak tergoyahkan untuk melaksanakan perintah Tuhan. Mereka telah membuktikan, wahyu menjadi penggerak jiwanya yang paling dalam, dan bahkan dapat mengatur langkah mereka dalam menapaki kehidupan. Jalan kehidupan dan perilaku para sahabaat Rasulullah saw sejalan dengan yang di inginkan wahyu. Sikap dan prilaku yang sesuai dengan ayat-ayat Qur'an yang dibacakan kepadanya, mereka tanpa reserve mentaatinya, sehingga al-Qur'an hidup dan berjalan dalam dirinya.

وننزل من القرءان ما هو شفاء ورحمة للمؤ منين, ولا يزيد الظلمين الا خسارا.

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. ( qs : Al Israa’ : 82 )

Bila para sahabat Rasul telah membuktikan pengaruh kekuatan wahyu, bagaimana dengan kita sekarang sebagai muslim yang sama-sama mendengar dan membaca wahyu Ilahi. Padahal isi wahyu itu sama, baik titik maupun komanya, adakah pengaruh wahyu itu, sudahkah wahyu itu menjadi ruh yang menghidupkan dan menggerakkan kita, sudahkan tingkah laku dan keperibadian kita dijiwai oleh nilai-nilai Qur'an dalam hidup bermasyarakat, berbangsa bahkan bernegara. Dengan jujur kita menjawab masih sedikit sekali, indikasi nya masih banyak di antara kita sebagai muslim yang belum shalat, tidak berpuasa dan membayar zakat. Masih banyak diantara kita yang mengaku muslim, tapi gemar berjudi, berzina, mencuri dan koropsi, yang di kantor asyik dengan kolusi serta nepotisme. Jelaslah wahyu yang dibaca dan didengar, masih sebatas untuk bahan konsumsi otak. Firman Tuhan sebatas dijadikan bahan ceramah, seminar, simposium, diskusi panel ataupun perdebatan-perdebatan. Banyak orang membicarakan Islam, buku-buku tentang kehebatan al-Qur'an, kemukjizatan dan pertolongan Tuhan, juga begitu banyaknya. Cerita tentang keindahan syari'at-syari'at Islam dan sejarahnya tidak sedikit. Namun berapa yang menjalankan Al-Qur'an, mentaati perintah dan larangannya, apalagi yang sampai mau menegakkan nya sebagai suatu cita-cita hidupnya. Padahal dengan menghidupkan wahyu di dalam dada ummat Islam, akan ada dampak yang sangat besar. Pengaruhnya teramat luar biasa. Segala persoalan yang melilit kehidupan akan terpecahkan dengan hasil baik.

الله نزل أحسن الحد يث كتبا متشبها مثانى تقشعر منه جلود الز ين يخشون ربهم ثم تلين جلو دهم وقلو بهم الى زكر الله, زلك هدى الله يهدى به, من يشاء, ومن يضلل الله فما له من هاد.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. ( qs : Az Zumar : 23 )

Bila al-Qur'an dijadikan pedoman, kerinduan akan kembalinya kejayaan Islam bukan lagi angan-angan. Satu perintah ditegakkan akan membawa dampak yang tidak kecil bagi lingkungan. Misalnya soal larangan berjudi atau berzina. Bukankah masyarakat akan hidup tenteram tanpa dua hal itu? Apalagi bila bukan sekadar satu, tetapi yang enam ribu ayat lebih itu dilaksanakan semua. Tentu gaung wahyu akan sangat terasa. Masyarakat menjadi demam wahyu. Di mana-mana keadaan akan dikendalikan oleh kehidupan berwahyu. Kehidupan nafsu praktis akan tersingkir karenanya. Bumi kita tidak akan semakin panas saja karena merindukan hadirnya orang-orang yang membekali dirinya dengan wahyu, untuk menyiraminya dari musibah.