Kamis, 07 Januari 2010

Dunia Dan Cobaan


kambing relegi
UJIAN DAN DUNIA

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أفنَاهُ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَمَا ذَا عَمِلَ فِيمَ عَلِمَ؟

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam dari sisi Tuhannya di hari kiamat hingga ditanya tentang lima hal. Tentang umurnya untuk apa ia gunakan, tentang masa muda nya pada apa ia habiskan, tentang harta nya darimana ia peroleh, dan kemana ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari ilmunya..?

Nikmat bukan pemberian cuma-cuma yang kita bebas mempergunakan nya semau kita. Bahkan ia merupakan amanah bagi kita yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Tidak asing bila sekarang ada orang yang masih mengaku muslim namun tidak lagi peduli dengan kewajiban dan agamanya, ambisi dunia telah menyita seluruh waktu, tenaga, serta pikiranya untuk mencapai kemegahan di dunia. Tak peduli apa yang ia lakukan itu dapat membawa kesengsaraan bagi saudaranya yang lain. Janganlah seseorang tertipu bila melihat orang kafir dan para pelaku maksiat diberi kemewahan dunia dan kedudukan terpandang serta nikmat yang berlebih. Karena itu adalah istidraj atau jebakan belaka. Adalah suatu anggapan yang keliru bila cobaan hanya terbatas pada yang tidak mengenakkan saja. Sebut saja misalnya kemiskinan dan suatu penyakit yang dideritanya. Pandangan yang sempit tentang cobaan tersebut merupakan akibat dari ketidak tahuan seorang tentang kehidupan dunia. Padahal Allah Swt di banyak ayat Al-Qur’an telah menegaskan, demikian pula Rasulullah Saw di sekian haditsnya, bahwa nikmat dan kesenangan duniawi merupakan ujian bagi hamba sebagaimana kesengsaraan hidup juga dijadikan sebagai cobaan.

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. ( qs : Al Anbiya’: 35)

Dalam ayat lain, Allah Swt juga berfirman :

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلَّا بَل لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata : ‘Rabbku menghinakanku. Sekali-kali tidaklah (demikian) ( qs : Al Fajr : 15-17)

Allah Swt menguji hamba-Nya dengan memberikan kemuliaan, nikmat, keluasan rezeki, pangkat, dan jabatan serta sederet gelar yang disandangnya. Sebagaimana pula Allah Swt mengujinya dengan menyempitkan rezeki. Dalam ayat ini Allah Swt mengingkari orang yang menyangka bahwa diluaskannya rezeki seorang hamba merupakan bukti pemuliaan Allah Swt kepadanya dan bahwa disempitkannya rezeki adalah bentuk dihinakannya seorang hamba. Allah Swt mengingkari dengan mengatakan Sekali-kali tidak, yakni bahwa perkara yang sebenarnya tidak seperti yang diucapkan oleh sebagian orang. Bahkan Allah Swt terkadang menguji dengan nikmat, sebagaimana terkadang Allah swt memberi nikmat sebagai cobaan.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. ( qs : Al An’am : 165)

Juga firman-Nya :

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya. ( qs : Al-Kahfi : 7)


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

إِنَّ لِكُلِ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya bagi tiap umat ada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan fitnah umatku adalah harta.

Musibah dianggap sebagai nikmat karena musibah yang menimpa seseorang adakala nya sebagai penghapus dosa yang dilakukannya, atau untuk meninggikan derajatnya, atau sebagai cambuk peringatan agar dia kembali ke jalan Allah Swt. Segala nikmat yang diperoleh hamba dalam bentuk apapun, baik yang bersifat materi atau non-materi, yang bersifat duniawi atau ukhrawi, maka patut untuk disyukuri. Tentunya semakin banyak dan besar suatu nikmat maka kewajiban untuk bersyukur pun semakin besar.

Bersyukur merupakan ibadah yang besar, sebagaimana firman-Nya :

وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. ( qs : An Nahl : 114)

Mensyukuri nikmat juga dapat melanggengkanya nikmat tersebut bahkan ditambahkannya. Namun sebaliknya, mengkufuri nikmat dan menggunakannya pada kemaksiatan serta kemungkaran juga faktor utama dari dicabutnya nikmat tersebut.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. ( qs : Ibrahim : 7)

Tentunya merupakan sikap yang sangat tercela bila seorang tidak mau berterima kasih kepada Sang Pemberi nikmat. Terlebih lagi sampai menggunakannya pada jalan kemungkaran dan kemudharatan. Bila seperti ini seseorang menyikapi pemberian Allah Swt, maka azab Nya lebih dekat ketimbang rahmat, dan kenikmatan yang sudah di ambang pintu untuk meninggalkannya. Ini persis seperti yang dialami oleh kaum Saba’ dahulu. Di mana kaum Saba’ nama suatu kabilah Arab yang tinggal di Ma’rib, Yaman telah mampu membuat bendungan raksasa sehingga negeri itu subur dan makmur. Namun kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan mereka ingkar kepada Allah Swt dan mendustakan para rasul. Maka Allah Swt menimpakan azab berupa banjir hebat yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib. Kerajaan Saba’ yang waktu itu mencapai puncak kemewahan dan kemakmuran hanya tinggal cerita. Negeri itu menjadi kering keruntang dan kerajaan Saba’ pun runtuh. Allah Swt telah kisahkan tentang runtuhnya kerajaan Saba’ dalam Al-Qur’an.

لقد كان لسباء فى مسكنهم ءاية, جنتان عن يمين وشمال, كلوا من رزقربكم واشكرواله, بلدة طيبةورب غفور. فأعرضوا فأرسلنا عليهم سيل العرم وبدلنهم بجنتين زواتى أكل خمط وأثل وشئ من سدر قليل. زلك جزينهم بماكفروا, وهل نجزى الاالكفور
.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. ( qs : Saba’ : 15-17 )

Meyakini dalam hati bahwa nikmat yang diterima semata-mata pemberian Allah Swt. Seperti inilah sikap seorang mukmin, dia tidak menisbatkan nikmat kepada kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan lainya. Memuji Allah Swt atas segala karunia-Nya dengan mengucapkan puji syukur dan mengerjakan segala perintah dalam kehidupannya. Karena selalu mengingat pemberian Allah Swt akan mendorong untuk bersyukur. Hal itu karena manusia mempunyai tabiat menyukai orang yang berbuat baik kepadanya. Menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah Swt bukan untuk maksiat, serta merealisasikan beragam amal shalih dan kebajikan sebagai bentuk mensyukuri nikmat. Karena nikmat hanyalah titipan yang seharusnya dijaga dan tidak dipergunakan kecuali pada batasan-batasan yang dibolehkan dalam agama. Nabi Muhammad Saw berabda :

أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْداً شَكُورًا

“Mengapa aku tidak ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur. ( HR. Al-Bukhari )

Allah Swt memberikan harta dan kedudukan kepada orang yang Dia cintai dari kalangan para nabi dan wali, seperti Nabi Sulaiman As dan shahabat Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana Dia memberi kemewahan dunia sementara kepada para musuh-Nya semisal Fir’aun dan Qarun. Hal ini seperti yang Allah Swt firmankan :

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

“Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu, dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. ( Al-Isra’ : 20 )

Oleh sebab itu janganlah seorang tertipu bila melihat orang kafir dan para pelaku maksiat diberi kemewahan dunia dan kedudukan terpandang serta nikmat yang berlebih dari kita. Karena itu adalah istidraj atau jebakan bagi hamba Allah Swt yang ingkar, Nabi Muhammad Saw bersabda :

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah Swt memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah. ( HR. Ahmad )

Di saat kran dunia dibuka lebar-lebar maka manusia akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya meskipun ada sesuatu yang harus dikorbankannya. Persaudaraan yang dahulu terjalin erat kini harus rusak berantakan karena ambisi kebendaan dan keduniawian. Sikap saling cinta dan rasa benci yang dahulu diukur dengan agama, sekarang sudah terbalik timbangannya. Karena dunia mereka menjalin persaudaraan, dan karenanya pula mereka melontarkan kebencian. Dengan ini mereka tega memutuskan tali kekerabatan, mengalirkan darah, dan melakukan beragam kemaksiatan dan kemungkaran. Seperti inilah bila kemewahan dunia menjadi titik puncak tujuan seseorang. Nabi Muhammad Saw bersabda :

مَا الْفَقْرُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tentunya semakin jauh suatu masa zaman kenabian maka akan didapatkan kenyataan yang lebih pahit dan lebih menyedihkan dari sebelumnya. Tidak asing bila sekarang ada orang yang masih mengaku muslim namun tidak lagi peduli dengan kewajiban dan agamanya. Ambisi dunia telah menyita seluruh waktu, tenaga, dan hartanya. Orang seperti ini bila di ajak kepada kebaikan, maka seribu alasan akan dikemukakan untuk tidak mengindahkanya. Dunia yang fana ini nantinya akan di tinggalkan, segala kemampuan yang telah di curahkan akan berujung sia-sia dan takkala azal datang menjemput. Namun yang terbawa hanyalah amal kebaikan sewaktu masih hidup di dunia fana. Nikmat bukan pemberian cuma-cuma yang kita bebas mempergunakannya semau kita. Bahkan ia merupakan amanah bagi kita yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). ( qs : At-Takatsur : 8)