
kambing in relegi
CEMAS BERMAIN HATI
Selama hidup di alam maya pada ini, tentu takkan lepas dari yang namanya ujian dan cobaan hidup, berbagai macam bentuknya ujian Tuhan, yang dibebankan pada manusia. Semuanya hanya semata-mata sebagai penguji iman, pembeda antara yang taqwa dan durhaka. Orang bilang hidup ini adalah sebuah tantangan, tantangan yang harus ditundukkan, dan di lalui. Hidup pada dasarnya tak ubah nya seperti permainan dan senda gurau, ada sedih, ada gembira, ada tawa dan ada canda, selalu menghiasi hidup pada diri manusia. Namun apakah di sadari apa sebenarnya hakekat dan tujuan hidup itu....? kenapa kita harus hidup....? dan apa yang di lakukan dengan hidup itu sendiri...? Begitu banyak orang yang merasa cemas dalam mengahadapi hidup ini. Tidak hanya di negara-negara besar, dan di kota-kota besar lainnya. Di desa-desa terpencil, di pelosok perkampungan-perkampungan, di lembah, ngarai dan pegunungan, yang dikenal tenang pun tidak terlepas dari penyakit cemas akan kehidupan ini. Hidup bak panggung sandiwara yang telah diatur oleh sang sutradara dunia, bersenda gurau, bermewah-mewahan, memperbanyak anak, menumpuk harta kekayaan, jabatan dan pangkat serta kedudukan, mengejar popolaritas dan ketenaran tiada henti, memang hidup adalah perjuangan, tapi harus kah dengan ini semua akan kehilangan pada kehidupan yang sesungguhnya dan abadi kelak.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ( qs : Ali Imran : 14 )
Tidak hanya mereka yang sulit mencari nafkah, kepada yang sudah mapan pun cemas menghinggapi dengan sangat leluasanya. Cemas memang akan menjalar ke mana-mana, juga kepada yang kaya, miskin, pintar dan bodoh, atasan dan bawahan, kelompok terhormat dan yang tersingkir dalam kelompok sosial yang paling marginal, kelompok yang paling rendah dan terpinggirkan, rasa cemas itu pastilah selalu ada. Pendeknya, cemas memang sewaktu-waktu datang dan menyerang siapa saja dan kapan saja. Ia tidak pilih kasih, hampir sebagian besar manusia turut merasakannya. Sumber kecemasan sebenarnya tidaklah jauh, Ia ada di dalam diri manusia itu sendiri. Sumber cemas ada di hati nurani, Rasulullah SAW Bersabda :
"Ingatlah bahwa sesunguuhnya dalam diri manusia ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh itu. Dan bila segumpal darah itu rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Dan ketahuilah segumpal darah itu adalah hati._

Itulah sebabnya menyangkut masalah hati, sebenarnya bukanlah masalah yang sederhana. Masalah hati adalah masalah yang besar, masalah akbar, karenanya jangan suka bermain hati. Sangatlah banyak orang yang lupa dengan kediriannya. Manusia sering dibuat lupa akan kemanusiaan nya sendiri karena hatinya. Karena nuraninya, badannya berjalan, akan tetapi hatinya mampet dan berhenti. Fisiknya bergerak, tetapi hatinya tidak lagi berfungsi. Begitu banyaknya kerusakan yang terjadi di muka bumi, karena desakan rasio yang di nomor satukan. Persoalan-persoalan yang muncul tidaklah dikembalikan kepada control kehidupan yang sebenarnya bersumber di hati. Karena tidak berhati, manusia bisa berbuat kerusakan di muka bumi, bencana bisa timbul di mana-mana karena alam dan sekitarnya di ekploitasi dengan tidak terkendali, yang ujung-ujungnya hanya berakibat bencana dan musibah. Ini karena bila seseorang yang tidak mempunyai hati nurani, tak perduli yang lain sengsara, asalkan dia hidup tertawa. Kerenanya hati ini berperan sangat penting untuk menentukan sifat terjang seseorang.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). ( qs : Ar Ruum : 41 )
Orang bisa saja mengamuk, tetapi bila bisikan hati di dengarkan dengan seksama, akan jadi lain ceritanya. Bersitegang urat saraf, luapan keinginan untuk menyingkirkan yang lain, saling cela dan caci, yang sudah sampai di ubun-ubun, suka-suka muncul dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Tapi bila himbauan-himbauan hati didengar dan diresapi, keputusan yang diambil tidak akan berakibat fatal. Akan ada jalan tengah yang justru malah menguntungkan kedua belah pihak. Hati, dasarnya memang menjadi penyejuk dan menyeimbang dari gejolak rasionalitas atau akal yang sering gampang panas itu, ini mestinya di efektifkan.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ( qs : Al A’raaf : 179 )

Bila hati manusia tidak normal maka pada saat itu fungsi kemanusiaan manusia telah terganggu. Manusia menjadi sangat mudah hilang kendali. Tingkah lakunya menjadi kasar dan keras, Ide dan keputusan yang diambilnya bukan saja sangat mementingkan egonya, menomor satukan kepentingannya, tapi juga mengancam keamanan dan keselamatan orang lain.
"Dan Jnganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orngyang fasik. ( qs : Al Hasyr : 19 )
Terkadang kecemasan biasanya timbul dan menjangkit pada siapa saja, orang tua, anak-anak, kaya dan miskin, di kalangan pelajar dan mahasiswa misalnya, mereka yang sangat ingin sekali diterima di sekolah atau perguruan tinggi yang di inginkan, tapi kemudian gugur, pikiran mendadak sontak menjadi kacau. Lebih-lebih untuk mereka yang sudah beberapa kali mencobanya dan selalu tidak berhasil. Seolah dunia ini menjadi gelap gulita, tidak ada lagi jalan di depan untuk bisa dilewati. Semuanya buntu, tidak ada alternatif lain yang bisa ditempuh untuk bisa hidup lebih baik selain melalui jalur itu. Semestinya disadari, bahwa hidup ini tidak sebatas pada bangku pendidikan dan kuliah semata. Masih ribuan jalan lain yang bisa ditempuh untuk suksesnya menghadapi perjalanan hidup. Para pemuda muslim, khususnya, sudah selayaknya memegang aqidah yang kuat untuk membedakan dengan yang lain.
"Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya ? ( qs : Muhammad : 14 )
Bila kita bisa mengambil hikmahnya, justru bimbingan Allah-lah yang akan kita peroleh. Saat-saat seperti itu justru sangat subur untuk terkabulnya do’a. Kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, kebimbangan dan rasa hati yang tidak menentu adalah jeritan ruhani yang sedang haus. Kondisi seperti ini akan sangat baik bila dihadapkan pada Sang Khaliq untuk meminta bimbingan Nya. Serahkan segala ketidak berdayaan itu kepada Nya di kala ruku, sujud, dan tegak berdiri. Kalau tidak waspada, masa krisis seperti itu akan di manfaatkan syaitan untuk mengusik keimanan. Ini adalah salah satu titik lemah pertahanan iman kita yang suka dimanfaatkan oleh syetan.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ( qs : Al Baqarah : 152-153 )
Karenanya kontrol diri memegang peranan yang sangat penting sekali. Sering kita dengar tingkah laku mereka yang dilanda cemas ini mengambil jalan pintas. Untuk tingkatan yang sederhana mereka bisa bergadang semalam suntuk. Rasa cemas yang berlebihan bahkan mengantar mereka pada tindakan-tindakan maksiat, minum-munuman keras, nelan pil ectasy, koplo, dsb, menjadi tempat pelarian. Bahkan tidak sedikit yang mengambil jalan pintas dengan bunuh diri, sungguh sangat memperihatinkan. Padahal boleh jadi kegagalan itu adalah jalan yang terbaik untuk kita. Mungkin bila kita mulus dan sukses di jalur yang kita inginkan itu hanya akan mengantar kita untuk tambah banyak berbuat maksiat. Yang kita bayangkan pada saat itu melulu keberhasilan. Sedikitpun kita tidak mengetahui malapeteka apa dibalik keberhasilan, kesuksesan, kelancaran jalan yang kita tempuh itu. Jadi sesungguhnya kegaagalan merupakan rem pengendali. Tanda bahwa kita masih disayang oleh Allah, agar kita tidak terseret jauh ke dalam siksanya.

Ajakan menghilangkan rasa cemas dengan kembali ke hati nurani, juga mendapatkan godaan. Mereka yang masuk dalam kelompok penggoda ini menganggap Sang Penyeru adalah orang-orang yang sok suci. Atau terkadang himbauan itu dianggap sebagai orang yang selalu bermain perasaan saja. Padahal masalahnya bukan masalah perasaan atau bukan. Akan tetapi dimensi hati nurani yang selama ini hampir selalu tertinggal dari berbagai sektor kehidupan manusia. Keputusan yang keluar sebagai firasat dianggapnya sesuatu yang terlalu dibuat-buat saja. Padahal sesungguhnya dalam hati yang suci, di sana tersimpan cahaya Ilahi.
Rasulullah SAW bersabda :
"Takutlah terhadap firasat orang beriman, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah.
Segelap apapun kabut yang ada di depan mata, bila kegundahan dikembalikan kepada Allah, akan berubah menjadi cahaya. Masalah yang begitu nampak mencekam di depan akan perlahan berkurang dari beban-beban yang menyempitkannya. Kita tidak perlu mengutuk siapapun perihal apa ayang telah menimpa kita. Sebagaimana pesan yang disamaikan oleh Nabiullah SAW :
“Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit, lalu dikunci pintu langin-langit itu dibuatnya. Kemudian turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian berkeliaran ia ke kanan dan ke kiri. Maka apabila tidak mendapat tempat batu, ia pergi kepada yang dilaknat, bila layak ( artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat ) tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk ( kembali ke alamat si pengutuk ). ( HR : Abu Dawud )

Alangkah indahnya bila kita mampu menghilangkan cemas dengan mengembalikan kepada kesucian hati. Hati yang suci dan bersih akan membuat kita mampu menjalani hidup ini dengan cara yang suci dan bersih pula. Firman Allah SWT :
"Sesungguhnya beruntunglan orang yang mensucikan diri. Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. ( qs : Al A'laa : 14-15 )
Hidup dalam dunia takkan pernah lepas dari yang namanya ujian dan cobaan, hanya diri yang ingat pada Tuhan Nya yang tidak akan berputus asa dalam menghadapi segala rintangan tersebut, jangan hanyut dan terlena, dan jangan mencari pelampiasan serta kekesalan, apalagi sampai bunuh diri, karena itu bukan suatu jalan dalam menghadapi masalah, bahkan suatu dosa yang besar. Berbagai bentuk ujian Tuhan, yang di bebankan pada manusia, semua tak lain adalah sebagai penguji dan pembeda antara yang bertaqwa dan durhaka. Tak selamanya mendung itu kelam, suatu saat pasti terang juga, hiduplah dengan sejuta harapan, habis gelap pasti akan terbit terang_