
kambing in relegi
LIBERTY
KEMERDEKAAN adalah suatu rakhmat dan anugerah dari Allah swt, yang merupakan hak azasi setiap manusia. Begitu di lahirkan ke dunia, telah melekat pada diri setiap manusia hak untuk hidup bebas. Manusia bebas untuk menentukan jalan dan langkah hidupnya, untuk memilih cara dan gaya dalam menjalani kehidupan lengkap dengan ketentuan dan konsekuensinya. Manusia dipersilahkan untuk mengembangkan diri dan potensinya dengan landasan kemerdekaan itu, begitu pun dalam berbangsa dan bernegara.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. ( qs : Ar Ruum : 22 )
Bagi kita kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara adalah merupakan anugrah terbesar dari Allah SWT. Kita bisa terbebas dari belenggu tirani penjajah, setelah lebih dari 350 tahun negeri ini terkukung dari biadapnya sebuah penjajahan dan imperium. Namun ada hal yang harus kita ingat, agar jangan sampai lagi, negara kita ini di hina, semakin di kucilkan, bahkan di mamfaatkan, oleh bangsa lain. Ingatlah bahwa negara kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang selalu berjuang untuk menegakkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Walaupun kita terpuruk, Janganlah kita menyerah, masih ada waktu untuk mengubah, mari bersama curah kan segala tenaga, jiwa, dan raga, untuk bangsa dan negara ini. Mari bangun jiwa kita, bangun mental kita, status gelar, dan jabatan, serta pendidikan, tidak ada artinya dan percuma, tampa di dasari mental dan jiwa yang besar. Kemerdekaan bangsa ini di rebut dengan darah dan air mata, darah para pejuang pendahulu kita.

Dalam sejarah yang di populerkan selama ini, ummat Islam Indonesia sempat mengenyam pengalaman pahit selama tiga setengah abad. Masa itu disebut sebagai masa kolonial lantaran bumi ummat Islam di nusantara diakui sebagai milik para pendatang yang non-muslim. Pengakuan itu jelas tidak sah, tetapi mereka menegakkannya dengan segala daya dan kekuatan, yang ternyata tidak bisa diatasi oleh kaum muslimin. Betapa pedihnya kehidupan pada saat itu. Kita tidak mempunyai kesempatan untuk membangun dan mendayagunakan kemampuan. Gerak dan kreativitas dibatasi, kita hidup di bawah bayang-bayang dan ancaman. Kaum penjajah itu telah menindas bukan saja secara fisik dan harta benda, tapi juga secara moral dan spiritual.
“Allah berfirman : Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan. ( qs : Al A’raaf : 24 )
Secara fisik para pendahulu kita mendapat penyiksaan mulai dari yang ringan sampai yang paling berat. Para pejuang telah mereka perlakukan ibarat budak di Eropa, bahkan lebih kejam lagi. Kaum pribumi yang dianggap lebih bodoh dan lemah itu telah ditipu daya dan dipaksa untuk menyerah bulat-bulat, lalu dijadikan bulan-bulanan mereka.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah, mereka telah membawa lari harta kekayaan negeri ini sebanyak-banyaknya. Kekayaan itulah yang mereka gunakan sebagai modal untuk membangun dan memodernisasi negeri dan menyejahterakan rakyat mereka sendiri.
Secara moral dan spiritual, kaum muslimin khususnya, mendapatkan tekanan yang tidak kalah beratnya. Para juru dakwah, kiyai dan para ulama mendapatkan perlakuan yang tidak terhormat. Bahkan kelompok ini termasuk dalam kelompok yang paling dicurigai dan dicap ekstremis yang tidak boleh ada di muka bumi. Sebab mereka memang yang paling anti penindasan dan ketidak adilan. Dari para pemuka agama itu pula tumbuh semangat yang tak pernah padam pada rakyat jelata, untuk terus menentang segala pentuk perampasan hak azasi. Musuh utama kaum penjajah itulah yang telah mendidik rakyat awam tentang hak-hak pribadinya, lewat sentuhan dan pendekatan agama.
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. ( qs : Ali Imran : 146 )
Islam tidak mengenal penjajahan, ajaran-ajaran Islam justru menunjung tinggi persamaan hak dan kebebasan serta kemerdekaan. Islam menegakkan setinggi-tingginya nilai akhlak yang mulia dengan sikap saling menghargai antar sesama. Menjajah atau bersedia dijajah atau diperbudak, sama-sama tidak dibenarkan oleh Islam. Dalam pergaulan masyarakat antar bangsa, Islam tidak mengenal penindasan dan diskriminasi. Hadirnya bangsa-bangsa di dunia yang beragam adalah untuk saling membantu, tolong-menolong, dan saling memberi ta'aruf atau berkenalan sebagaimana ditetapkan oleh Allah swt :
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ( qs : Al-Hujurat : 13 )
Bahkan, satu hal yang tidak dapat diragukan lagi ialah bahwa Islam dengan prinsip kemerdekaan itu telah meninggikan peradaban dunia dan meluaskan khazanah ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Ilmu Islam telah pula menerangi bangsa-bangsa yang mau menerima ajaran-ajarannya, dari perbatasan negeri Cina di sebelah timur hingga Andalusia Spanyol di Barat. Pada waktu itu, penduduk di belahan Eropa pada umumnya mengirimkan siswa-siswanya untuk belajar pusat-pusat ilmu di Kordoba maupun di Baghdad. Mereka mempelajari bahasa Arab, kemudian menerjemahkan berbagai buku ilmu pengetahuan ke dalam bahasa mereka.
“Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ( qs : Saba : 6 )

Islam tidak membenarkan ummatnya pelit dalam memberikan sumbangan ilmu pengetahuan kepada masyarakat dunia. Tidak seperti halnya dengan Bangsa Barat sekarang, yang dikenal sangat hati-hati untuk mentrasfer ilmu pengetahuan yang telah mereka kembangkan, khawatir akan menggeser dominasi mereka. Kehadiran Islam memang untuk memberi rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk kepentingan suatu golongan atau kelompok tertentu semata. Kaum muslimin sangat mematuhi undang-undang ad-Din yang sangat berwibawa, yang dalam hal ilmu ini diwakili oleh salah satu sabwa Rasulullah saw :
"Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu ketika ditanya, maka di hari kiamat ia akan dikekang dengan tali kekang dari api neraka. ( HR : Jama'ah, Ahmad, dan Abu Hurairah )
Angin kemerdekaan yang telah kita nikmati sekarang, ini menuntut kita untuk pandai-pandai mensyukurinya. Wujud kesyukuran itu, di samping bekerja keras untuk membenahi infra struktur fisik maupun non-fisik, juga menegakkan nilai-nilai kebenaran serta dilandasi dengan norma agama, dengan sifat yang jujur tentunya. Tugas yang terakhir inilah yang dirasakan cukup berat, di tengah era kompetisi seperti saat ini. Karena itulah Islam dan kebenaran ajarannya sudah sangat layak untuk ditegakkan. Nilai-nilai ajarannya sudah saatnya dibumikan di alam yang sudah bebas ini. Bila tidak, maka penjajahan dalam bentuknya yang lain, dengan jumlahnya yang lebih banyak akan kembali mencengkeram negeri ini, dan tanda-tanda itu harus kita akui telah menyebar di strata kehidupan kita sekarang ini.

Para penjajah secara fisik boleh pergi, akan tetapi ideologi mereka kini perlahan-lahan telah merambah masuk ke dalam tata nilai kehidupan bermasyarakat. Gejala-gejala itu sudah kita rasakan dari sekarang. Musuh dan para penjajah tidak akan pernah berhenti melakukan penyerangan, sebelum kita benar-benar telah menjadi miliknya, dikuasainya. Allah swt berfirman :
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah. ( qs : Al-Anfal : 60 )
Dalam bahasa Al-Qur'an, kewaspadaan diseluruskan dengan rasa syukur. Barang siapa yang tidak bersyukur terhadap anugerah yang telah Allah berikan, dengan tidak meningkatkan kewaspadaan dan keberhati-hatian, maka Allah akan menggantinya dengan adzab yang sangat pedih :
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih. ( qs : Ibrahim : 7 )
Peringatan Allah ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Agar manusia tidak terlena dan terbuai setelah memperoleh salah satu bentuk kenikmatan. Termasuk dalam hal ini, nikmat hidup di alam kemerdekaan. Sebab jangan-jangan, secara tidak sadar kita sedang menyerahkan diri kepada bentuk penjajahan yang lebih canggih, yakni perbudakan halus manusia oleh manusia. Buktinya kita lebih suka menghambakan diri kepada kepentingan dunia ketimbang mematuhi peringatan-peringatan Allah menyangkut kehidupan dunia ini. Kita beranggapan bahwa agama adalah urusan akhirat, sedangkan yang kita hadapi adalah kenyataan dunia yang penuh liku dan keruwetan. Kita lupa bahwa agama, atau aturan Allah itu diturunkan, justru untuk mengatur hidup kita selama masih berada di dunia. Setelah urusan dunia selesai, kiamat datang, aturan agama tidak ada gunanya lagi. Pola pikir seperti ini adalah salah satu hasil penjajahan aqidah yang telanjur merasuk ke relung hati kita.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. ( qs : Al Baqarah : 152 )
Kita masih mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya dengan kerja keras, dan rasa cinta tanah air, bangsa dan negara. Agar kehidupan masa depan generasi yang kita tinggalkan, tidak tumbuh menjadi generasi yang mudah diperbudak apapun juga. Sebab sungguh sangat malang negeri ini, bila generasi yang hidup di dalamnya adalah mereka yang hidupnya mudah diperbudak atau memperbudak bangsanya sendiri. Kemerdekaan bukan di beri secara gratisan, namun hasil cocoran keringat, darah, dan air mata, para pendahulu bangsa. Janganlah menghina, caci maki pada bangsa sendiri, kenapa kita jadi lemah, sementara bangga pada negara lain, kita lahir di negara yang besar, bangsa yang berjiwa dan bermental besar. Kemerdekaan ini di rebut dengan darah, darahnya para pejuang, jadi kemerdekaan bukan di beri atau gratisan. Jika suatu saat nanti kita jadi pemimpin, baik pemimpin apapun, meski sebagai pemimpin keluarga, tanamkan sifat kejujuran, jangan lemah, jangan meminta-minta, bangun mental dan sadarkan diri kita. Bahwa kita bangsa yang besar, yang memiliki jiwa yang besar, pantang menyerah, mari bersatu, jangan saling menyalahkan, jangan saling menjatuhkan, karena kita semua adalah saudara, karena kita satu tujuan, untuk merubah bangsa ini menjadi yang lebih baik._ ameen