Selasa, 01 Desember 2009

Antara Pemimpin Dan Gembala


kambing in relegi
GEMBALA DAN PEMIMPIN
Leader and Shepherd,

if in a moment wait you become leader, good of any leader
even if you is family leader, you have to be downright
founded by head and bounce, don't weaken, don't weep, don't ask
wake up to bounce and awake x'self, and tell I surely....

Kita sering tentunya mendengar kata krisis moral kepemimpinan, dalam hal ini sudah barang tentu pemimpin yang meliputi secara global dan besar. Memang tidaklah mudah untuk menjadi seorang pemimpin, apalagi memimpin sebuah Negara atau Bangsa yang memiliki khasanah dan peradaban budaya yang beragam. Hal ini di perlukan keahlian khusus serta keberanian agar dapat memberikan pengayuman dan perlindungan bagi yang di pimpin nya. Namun hal yang banyak di tuntut dari seorang pemimpin itu tak lain adalah bersikap jujur dan adil serta amanah. Dalam putaran sejarah dunia, banyak sudah melahirkan pemimpin-pemimpin besar, orang Amerika boleh bangga dengan G, Washington atau John F Kennedy nya, Orang Russia boleh bangga dengan Stallin, atau Hitler di Jerman boleh dibela-bela seperti dewa, namun ada yang patut kita bangga, dan mata kita boleh silau, serta mulut kita keluar kata ...wow... pada sang pemimpin besar yang sesungguhnya, pantas dan patut menjadi panutan dan tauladan bagi seluruh manusia , dialah pemimpin besar yang sesungguhnya, dia mengubah peradaban dunia dari yang sangat jahil dan bodoh, menuju keperadaban yang kontenporer dan modern, dia lah Nabi besar Muhammad SAW.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. ( qs : At Taubah : 128 )

Tak dapat disangkal dan di pungkiri pengaruh dari pengalaman menggembala terhadap pembentukan mental dan penalaran Nabi tidaklah sedikit. Yang justru sangat diperlukan untuk sebuah kepemimpinan. Kalau kita menengok kehidupan Nabi-nabi sebelum Nabi kita Muhammad SAW tidak seorang pun yang tidak menggembala. Rupanya menggembala adalah training dan magang yang paling efektif di dalam mengantar seseorang menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung-jawab.

“Katakanlah : Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. ( qs : Al Midah : 77 )

Nampaknya ada satu target yang tidak pernah lepas dibalik setiap pembinaan dan bimbingan Allah SWT yang beraneka bentuk itu, yakni membabat dan mengikis rasa thaga', sikap arogan, sombong dan takabur yang merupakan kendala paling besar untuk menjadi pemimpin yang mendapat petunjuk serta ridha dari Allah SWT. Dalam bimbingan lewat penggembalaan juga terlihat jelas penggiringan ke arah itu.
Pada saat usia tengah berbunga-bunga antara 8 - 20 tahun, usia yang biasanya digunakan untuk banyak bermain, mendadani diri seapik mungkin untuk dapat bergaya dan berpenampilan yang penuh pesona, tetapi Nabi harus berada di tengah-tengah kerumunan kambing-kambing ternak di kaki-kaki gunung dan di lembah-lembah siang dan malam. Suatu kondisi yang tidak memberi peluang untuk membenahi diri memenuhi tuntutan keremajaan. Sehingga target Allah SWT untuk meredam gejolak kesombongan dan keangkuhan yang selalu ingin muncul ke permukaan memegang dominasi, memang sangat berhasil secara efektif.

Dan juga dia lewati hari-harinya dalam penggembalaan dengan banyak merenungi setiap kejadian yang tertayang di hadapannya. Dan mencoba menghayati eksistensi yang ada di balik desir angin di celah dedaunan kurma, suara embikan anak kambing yang memecah kesunyian, daun-daun yang berguguran dari ranting-ranting tua. Dia dapat merasakan lewat kejadian-kejadian sederhana itu adanya kekuasaan, kemaha besaran, rahmat serta kasih sayang yang mengiringinya. Demikian pula dengan awan yang bergerak dan berarak dengan penuh kedamaian tanpa saling mengganggu, bintang-gemintang yang gemerlapan memenuhi cakrawala. Semuanya membekas dan tersimpan di balik relung kalbunya yang paling dalam.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ( qs : Al Ahzab : 40 )


Hal lain yang dirasakan lewat pengalaman dari penggembalaan itu adalah latihan ketrampilan me-manage serta megatur diri. Secara praktis Nabi mendapat pelajaran bagaimana me-manage sekian ratus makhluk yang terkenal sulit diatur, yang selalau memancing kejengkelan dan kadang rasa marah. Namun kalau diamati lebih jauh dan mendalam, di balik itu terundang rasa iba dan belas kasih, karena betapapun kambing-kambing itu adalah makhluk yang teramat lemah.

Disamping itu Nabi juga dapat menghayati kehidupan manusia akar rumput secara langsung, karena setiap hari selama bertahun-tahun bergaul akrab dengan sesama anak gembala. Lewat perbincangan yang mereka lakukan sebagai gambaran isi hati, Nabi dapat menangkap bagaimana ratapan dan dengusan nafas masyarakat yang berada di kalangan bawah. Bagaimana mereka mengeluhkan kebijaksanaan para pemilik modal yang sering terkesan tidak ber perikemanusiaan dimana energi dan alam yang dikuras terkadang jauh tidak seimbang dengan imbalan yang diberikan. Apakah lagi yang memang berstatus budak. Dan sosok kepemimpinan yang kadang hanya sebagai topeng belaka guna menguruk dan mengumpulkan harta kekayaan secara membabi buta tampa sadar harus mengorbankan dan memikirkan sanak saudara nya sendiri yang tak berpunya dan berdaya, serta tidak memiliki kesempatan yang sama dengan mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. ( qs : An Nisaa : 144-147 )

Satu hal yang menyebabkan hiruk-pikuknya dunia ini, yakni hal cari makan sempat juga diselami Nabi lewat kesempatan menggembala ini. Nabi cukup mengerti betapa suka dukanya mencari makan. Kendatipun keterlibatan Nabi menjadi penggembala sama sekali bukan sekedar cari makan sebagaimana halnya rekan-rekan gembala yang lain. Tetapi ini untuk memperkaya diri dengan pengalaman, mengenai liku-liku kehidupan manusia sebelum tandang dan terjun ke gelanggang memimpin ummat berdasarkan program Allah SWT.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. ( qs : Al Hijr : 94 )


Pengalaman menggembala juga memberi pelajaran kepada Nabi Muhammad SAW bagaimana sifat-sifat yang dimiliki makhluk Tuhan yang bernama hewan, yang mempunyai keterkaitan erat dengan manusia. Bahkan punya persamaan dalam berbagai segi. Sehingga dikala tugas kenabian dan kerasulan di amanahkan Tuhan kepada beliau, beliau telah memiliki bekal yang cukup. Hampir semua corak dan bentuk kehidupan manusia telah dipahami, setiap fenomena yang timbul sudah dapat ditebak perwujudannya. Hal ini berkat pengalaman disamping tuntunan dan bimbingan langsung dari Allah SWT tentunya.

Dalam perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW memang sulit disangkal adanya runut-runut penggembalaan yang tetap membekas, bahkan sangat dominan. Kita dapat melihat bagaimana sikap dan perlakuan Nabi terhadap ummatnya. Pertimbangan-pertimbangan yang melatar belakangi setiap kebijakan-kebijkan yang dibuat sangat realistis, dan berdasarkan persepsi humanitas.

“Katakanlah : Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. ( qs : Al A’raaf : 158 )

Memang kalau hanya dilihat sekilas pintas terkesan bahwa pekerjaan menggembala yang dilakukan Nabi selama satu dasa warsa itu terlalu dibuat-buat, kalau dikatakan terkait erat dengan persiapan mengemban risalah Islam yang kelak akan membumi dan mendunia. Dari pribadi Nabi barangkali memang tidak mengerti keterkaitan ini. Mungkin memang hanya didorong rasa tanggung jawab kemanusiaan untuk menolong pamannya dan orang lain membiayai hidupnya. Namun Allah SWT-lah penyusun skenario perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW itu, sehingga apapun yang dilakukannya tidak ada yang lepas dari persiapan kenabian dan kerasulan. Nabi hanya pemeran yang bergerak berdasarkan petunjuk sang sutradara, termasuk tentunya pekerjaan menggembala ini.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. ( qs : Al Fath : 29 )

Dan memang ternyata di kemudian hari dikala telah diangkat menjadi rasul, hal ini sering diungkap dengan rasa bangga bahwa semua Nabi yang dibangkitkan Allah adalah penggembala kambing. Nabi Musa adalah seorang penggembala kambing, Nabi Daud juga seorang penggembala kambing, dan saya juga diutus ketika menggembalakan kambing-kambing saya di Jiad. Jabir bin Abdullah salah seorang sahabat Nabi pernah berkata : Suatu hari kami bersama Nabi memetik buah al-kubats, buah pohon arak yang telah ranum. Lalu Nabi berkata kepada kami : ambil yang lebih hitam, sebab itu yang lebih baik, saya pernah memetiknya ketika dulu saya menggembala kambing. Maka kami bertanya : Apakah Rasulullah pernah menggembala kambing ? Nabi menjawab : Ya benar, semua nabi telah menggembala kambing.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. ( qs : At Taubah : 128 )

Sudah barang tentu untuk menjadi pemimpin yang besar harus memiliki sikap jujur dan adil, serta harus memiliki sikap mental dan berjiwa besar karena tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin yang besar, namun pada dasarnya kita adalah seorang pemimpin, minimal sebagai pemimpin keluarga, dan pemimpin bagi diri sendiri._

By kambingbadal_
Sebuah catatan dari manusia bodah