
MASA LALU TONGGAK SEJARAH
Masa lalu adalah sejarah yang turut guna menentukan adanya sebuah masa depan, namun terkadang masa lalu ada yang harus di kenang dan adanya juga yang harus di buang, bahkan harus di campakkan jauh-jauh, Demi mada depan itu sendiri. Sejarah senantiasa menyimpan catatan istimema untuk dipelajari dan dicari makna-maknanya dan pelajaran yang dapat diambil, ditadabburi hikmah-hikmahnya. Di samping kisah-kisah buram nan suram yang juga perlu digaris bawahi. Tidak semua masa lalu berlalu dengan baik, adakalanya masa lalu tersebut membekas kenangan pahit yang harus di buang bahkan di campakkan jauh-jauh, dan juga kenangan indah yang selalu di kenang. Namun ada hal yang harus di ingat, bahwa sejarah dan masa lalu sangat menetukan peran kita dalam kedepan untuk meraih segala apa yang di rencanakan.
Sekali pun pahit, sungguh tidak ada babakan sejarah yang tidak memiliki arti. Semuanya menyimpan pelajaran yang dalam dan berarti. Dalam hal ini Islam telah menyimpan berhalaman-halaman yang panjang dan luas tentang berbagai bentuk penderitaan dan kisah sedih. Sebagian besar, kasus yang paling banyak menelan korban adalah karena bersinggungan dengan kekuasaan. Inilah institusi yang paling mudah bergolak bila bendera Islam sudah mulai berkibar dan ditancapkan di tengahnya. Terutama bila kekuasaan itu didominasi oleh orang-orang yang zhalim, ahlul-ma'shiyat, dan penyembah hawa nafsu.
“Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikit pun. ( qs : Huud : 109 )
Ketika Bani Umayah berkuasa di Damsyk (Syam/Syria), Muawiyah adalah orang yang paling bermusuhan, utamanya dengan tampuk kekuasaan Islam yang dipilih secara mufakat sepeninggalan Rasulullah, yakni Khulafaur-Rasyidin. Puncak kebencian adalah ketika anaknya, Yazid menggantikan kekuasaannya. Yazid kemudian menjadi penguasa tunggal di Damsyk. Ia tidak segan-segan melakukan penekanan dan intimidasi dan kekerasan kepada mereka yang dianggap berlainan pandangan. Bahkan cucu Rasulullah Husain ra, bersama para sahabat yang setia dan keluarga Rasulullah yang lain dibantainya di padang Karbala. Kisah itu dalam agenda sejarah Islam menyimpan kenangan buram, hanya demi ambisi kekuasaan Yazid. Celakanya, Yazid justru menggunakan kaum muslimin untuk membantai saudaranya sendiri.
Para pembantai tersebut memang telah terbelokkan ideologinya, dari Islam kepada harta benda. Mereka menjadi gila kepada harta dan jabatan, juga perempuan seperti yang dilakukan oleh Yazid. Hura-hura dan mabuk-mabukan merupakan bagian dari kehidupan Yazid dan sebagian dari aparatnya. Ummat Islam kemudian terlena, akhirnya penindasan dan kesewenangan terjadi.
Di mana-mana yang namanya kisah sedih, telah pernah terjadi. Di Indonesia pun juga, Setelah sekian lama berada di bawah penjajahan kaum pendatang dan imprealis, ummat Islam masih harus bentrok sesama kaum muslimin selama beberapa puluh tahun. Keretakan itu masih ditambahi lagi dengan kisah pembantaian kaum intelek muslim di saat populernya pemikiran ala komunis. Dan kini pun, setelah pertentangan antar ummat mereda karena kesadaran ataupun kecapaian kenyataan membuktikan, ummat Islam belum berada di titik yang cukup membahagiakan.
Kemerdekaan dari belenggu satu musuh bukanlah puncak dari perjuangan. Islam jelas memperingatkan kepada kaum muslimin agar selalu hidup waspasda. Bila datang kemenangan, segera adakan istighfar secara massal.
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat." ( qs : An Nashr : 1-3 )
Alam kebebasan, membuka banyak kesempatan untuk berkarya. Termasuk di dalamnya untuk mengembangkan agama. Akan tetapi bila tidak diiringi dengan istighfar, keleluasaan itu bahkan bisa membuahkan musibah. Khususnya bagi ummat Islam, istighfar ini dimaksudkan agar kita tidak lupa diri. Agar kita tetap mempunyai keseimbangan dalam meniti hidup. Agar kemerdekaan tidak berubah menjadi kemurkaan.
“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( qs : Ali Imron : 26 )
Kita tidak menginginkan hidup tertekan oleh penjajahan, juga oleh penguasa yang tidak membawa nama Allah di belakangnya. Hidup di bawah kendali selain nilai Islam, akan membawa kita tersesat, dunia akhirat. Sia-sialah kita hidup, bila akhirnya hanya akan kembali ke neraka.
Karena itulah, di saat musimnya perenungan ini, cobalah untuk ikut-ikut merenung. Bagaimana posisi kaum muslimin dalam percaturan saat ini? Di lingkungan kita, di kampung, di negara, bahkan di dunia ? Ummat Islam masih lebih banyak menjadi obyek keserakahan dan penindasan. Kita karena berbagai kekurangan masih gampang diperdayakan dan tertipu mentah-mentah. Karena kita melarat, kita mudah tergiur oleh iming-iming uang yang tak begitu banyak. Karena bodoh, kita gampang ditakut-takuti dengan sesuatu yang remeh. Karena tidak kreatif, kita gampang menyerah dan memberikan peluang kepada orang lain. Karena wawasan kita sempit, kita jadi tidak bisa memprediksi masa depan secara tepat. Akhirnya kita baru sadar setelah semuanya terjadi, setelah tanah-tanah kita yang dulu seperti tak berguna kini berubah menjadi pusat bisnis dengan harga melangit.
Jangan keburu langsung menyalahkan. Sebab, kita sendiri juga terlibat dalam proses pemiskinan yang menimpa diri kita dan ummat banyak. Kita memang terlambat sadar. Sekalipun memang, ada juga andil kondisi dan situasi, yang menyebabkan kita tidak punya wawasan berpikir cukup, dan membuat kita tak kunjung kreatif memanfaatkan sumber daya yang kita miliki.
Pembodohan, itu sendiri merupakan salah satu bentuk penjajahan juga. Di alam merdeka, seharusnya kita mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembangkan dan mencerdaskan diri. Tetapi bila kondisi itu tidak kita temui, maka arti dari kemerdekaan tidak lagi terlalu banyak. Kita keluar dari satu bentuk penjajahan, masuk ke bentuk penjajahan yang lain.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang ? Kita ingat firman Allah,
"Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah terjadi, untuk masa depannya." ( qs : Al Hasyr : 18 )
Apa yang sudah terjadi, merupakan pengalaman. Bila itu pahit dirasakan, maka harus diwaspadai agar jangan sampai terulang lagi. Masa depan kita, generasi Islam setelah kita, harus lebih baik dalam segala-galanya.