Selasa, 27 Oktober 2009

Rahasia Hajji


Rahasia Hajji

Dahulu bangsa Arab tinggal berpindah-pindah di negeri Hijaz yang tandus. Mereka membawa onta dan kambing-kambingnya ke lembah-lembah tempat penampungan air hujan dan air yang mengalir dari perbukitan. Mereka menggembalakan ternaknya di perbukitan itu dan tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari kulit onta. Bila air dan rerumputan sudah habis, mereka berpindah ke tempat yang lain.

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. (qs : al hajj : 26)

Kisah Nabiyullah Ibrahim AS seakan selalu menjadi catatan sejarah yang tetap menarik di setiap momentum hajji seperti sekarang ini. Allah mengutus Ibrahim AS dan putranya Ismail ke tengah masyarakat Arab yang bersuku-suku dan suka hidup berpindah-pindah. Di negeri Hijaz yang tandus itulah bangsa Arab hidup dengan segala kesederhanaan pemikirannya tentang Tuhan. Kehadiran Ibrahim dan putranya untuk mengajarkan kepada bangsa Arab dan ummat manusia tentang tauhid yaitu memperkenalkan Allah SWT sebagai Tuhan penguasa alam.

Petualangan Ibrahim dimulai ketika Ibrahim akan meninggalkan putra dan istrinya di tengah padang tandus yang tidak ada mata air dan tetumbuhan yang dapat dimakan untuk manusia. Hajar istrinya bertanya, "Kepada siapa engkau titipkan kami kami?" "Kepada Allah SWT," jawab Ibrahim. "Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk itu?" "Ya," jawab Ibrahim. Mendengar itu Hajar berkata, "Kalau begitu Ia (Allah) tidak akan menelantarkan kami."

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak . Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (qs : al hajj : 27-29)

Setelah Nabi Ibrahim berangkat, Allah memancarkan untuk keduanya mata air Zam-zam, airpun mengalir dengan deras memenuhi lembah itu. Burungpun datang mengelilinginya. Pemandangan ini terlihat oleh suku Jurhum. Lalu mereka mengutus pimpinannya ke sana, maka ia melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia pun menanyakan hal ihwal berikut air yang belum pernah ada sebelumnya. Hajar menceritakan kisahnya, akhirnya pimpinan suku Jurhum itu tahu bahwa dia dari keluarga mulia di hadapan Allah SWT dan air itu adalah berkah dari keluarga kenabian. Peristiwa agung ini menyimpan rahasia-rahasia yang Allah akan pertunjukkan nanti pada waktunya.
Setibanya dari menyaksikan keadaan yang sebenarnya tentang letak air berikut Hajar dan putranya, pemimpin Jurhum itu menyampaikan kabar gembira itu kepada kaumnya. Merekapun mendatangi Hajar dengan perasaan gembira dan meminta kepadanya untuk tinggal di sekitarnya dan dapat memanfaatkan air yang penuh berkah karunia dari Allah itu, dan mereka sanggup berkhidmat kepadanya, menjaganya berikut putranya sampai dewasa. Hajarpun mengijinkannya.


MEMBANGUN KA’BAH


Ibrahim selalu mengawasi istri dan putranya, sewaktu-waktu ia mengunjunginya sampai Ismail dewasa. Kemudian Allah memerintahkan untuk membangun Ka'bah, tempat manusia berziarah (berhajji) menyembah Allah, Tuhan alam semesta di negeri penuh berkah. Dengan demikian manusia terhindar dari penyembahan berhala, disamping dapat mendatangkan rizki bagi penduduk lembah yang tiada tanaman dan pepohonan ini. Ia pun memenuhi perintah Tuhannya membangun Ka'bah yang mulia itu dan berdo'a:

"Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 128)

Tujuan utama membangun Ka'bah adalah membentuk ummat yang berserah diri kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Ummat itu berasal dari keturunan Ismail AS setelah kawin dengan putri dari suku Jurhum. Tujuan lain adalah mengarahkan ummat ini untuk melaksanakan shalat, menyembah Allah Tuhan alam semesta. Dan agar manusia dari berbagai penjuru dunia berhajji (berziarah) padanya untuk melaksanakan ibadah dan membawa rizki untuk penduduk sekitarnya. Tujuan-tujuan itu telah Allah jelaskan dalam firman-Nya, "Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
Untuk mewujudkan tujuan-tujuan ini Allah memerintahkan Ibrahim menyeru manusia untuk berhajji. Sebagaimana dalam firman-Nya, "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,niscaya mereka akan datang kepadamudengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)

Dalam hadits riwayat Ibnu Jarir dan hakim dari Ibnu Abbas, mengatakan, "Sesaat setelah Ibrahim selesai membangun ka'bah, Ibrahim berdo'a: "Wahai Tuhanku, telah aku selesaikan." Allah berfirman: "Serulah manusia untuk berhajji!" Ibrahim berkata, "Wahai Tuahanku suaraku tidak akan sampai." Allah berfirman, "Serukanlah, Aku yang akan menyampaikannya." Ibrahim berkata, "bagaimana aku harus mengatakan?" "Katakanlah, Wahai manusia diwajibkan atas diri kalian untuk berhajji ke Baitul Allah. Dan suara itu didengar oleh penghuni langit dan bumi. Bukankah engkau melihat mereka berdatangan dari negeri-negeri yang jauh memenuhi panggilan itu!

Dalam hadits riwayat lain disebutkan bahwa Ibrahim mendaki gunung Abu Qubays, lalu meletakkan kedua jati-jarinya pada kedua telinganya dan menyeru, "Wahai manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atas diri kalian berhajji. Maka penuhilah perintah Tuhanmu. Maka mereka menjawab seruan itu di saat mereka masih ada di tulang punggung orang laki-laki dan rahim wanita. Orang pertama menjawab seruan ini adalah orang Yaman. Tiada seorang yang berangkat hajji sejak hari itu sampai nanti datangnya hari kiamat selain mereka yang telah menjawab seruan Ibrahim hari itu."
Masyarakat di zaman Ibrahim dan Ismail telah memenuhi seruan agama tauhid dan menyingkirkan penyekutuan Tuhan dan penyembahan berhala. Thawaf mereka di ka'bah adalah untuk mengagungkan Tuhan pemilik ka'bah, bukan kepada ka'bah itu sendiri.



KEUTAMAAN HAJJI DAN RAHASIANYA.


Allah memerintahkan hamba-hambanya untuk berhajji ke rumah-Nya yang mulia dan Dia-pun menyediakan hidangan yang akan mereka perebutkan, hidangan yang berupa ampunan, rahmah dan pahala yang besar, sebagai imbalan dan balasan atas tenaga dan harta yang telah mereka curahkan di jalan memenuhi seruan yang penuh berkah ini.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sautu hadits dari Abu Hurairah RA berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa berhajji, tidak berkata keji dan fasik (berbuat maksiat) maka ia akan kembali seperti saat ia dilahirkan ibunya.'"
Dalam riwayat yang sama Rasulullah bersabda, "Hajji mabrur tiada balasan baginya selain surga." Allah SWT sebagai penerima tamu, sementara kita tidak melihat-Nya. Oleh karena itu kita berthawaf di ruang tamu rumah-Nya (ka'bah) seperti yang dilakukan seorang yang sedang dimabuk cinta di sekitar kekasihnya, ia merasakan nikmatnya tapi tidak dapat melihat dzatnya.

Berthawaf tidak mengagungkan ka'bah, namun mengagungkan Tuhan pemilik ka'bah yang tidak bisa kita lihat. Karenanya ketika thawaf kita membaca, "Subhanallah, walhamdulillah walaa ilaha illallah wallahu akbar wala haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adhim." Selanjutnya kita berdo'a sesuai dengan kebutuhan kita.
Dengan demikian thawaf adalah meng-esa-kan dan mensucikan Tuhan alam semesta. Dan ketika kita mencium hajar aswad kita tidak menjadikannya sebagai sekutu Allah seperti yang orang-orang musyrik lakukan, namun kita mengungkapkan kerinduan hati dan keagungan cinta kepada Allah yang tidak bisa kita lihat.
Oleh karena itu ketika mencium hajar aswad kita berucap, "Allahumma liiman bika watasdiqaa bi kitabika wawafaan biahdika wattibaan lisunnaati nabiyyika." Ya Allah aku cium hajar aswad ini, karena beriman kepada-Mu, meyakini kitab-Mu, memenuhi janji-Mu dan karena mengikuti sunnah nabi-Mu."

Diantara hikmah-hikmah dan rahasia hajji adalah menyatukan delegasi/penduduk bumi atas dasar tauhid dan sebagai ajang tukar menukar pendapat tentang hal-hal yang bermanfaat bagi kaum muslimin, baik masalah agama atau keduniaannya, melindungi mereka dari kejahatan musuh-musuhnya dan memperkokoh kesatuan keagamaan dan pemikiran serta menyingkirkan sebab-sebab perpecahan.

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (qs : Al Hajj : 30-32)

Oleh karena itu Allah mensyariatkan ibadah hajji kepada hamba-hamba-Nya supaya mereka dapat membuktikan manfaatnya. Dan seandainya ibadah hajji dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan Islam tentu akan menjadi sarana kejayaan Islam dan kekuatan muslimin.