UMURKU OH DOSAKU DAN KAU SANG AKHIRAT
Tambah besar semakin bertambah umur dan usia, makin sedikit donk jatah umur kita and jalan menuju kuburpun mulai mendekat, dan selalu memnghampiri dari tiap detik, menit, jam dan dari waktu kewaktu tampa kita sadari kapan ajal akan menjemput alias kuit atau death. Tapi harus diakui donk semakin bertambah usia, tentu semakin bertambal amal dan pahala, atau sebaliknya makin bertambah dosa dan maksiat. Tapi yang namanya hidup yaaa.. ghito deehhh… kadang kita harus selalu banyak menumpuk beban dosa dan kejahatan yang bakal kita pikul kelak dihari yang pasti datang dan abadi, yang tidak ada lagi kehidupan selain kehidupan alam itu sendiri, yaaa.. akhirat orang bilang, atau malah sebaliknya hidup dihiasi penuh dengan kebajikan dan taqwa serta kebaikan yang bakal berbuah kebahagian dan kesenangan yang bakal selamanya secara terus menerus kita nikmati dikehidupan terakhir kita itu.
Hal ini memaksa kita untuk harus memilih dan memilih diantara dua jalan tersebut, baik dan beramal saleh, atau jahat dengan penuh maksiat. Oke ngak..? masalah dua-duanya adalah alternatif yang pasti dan terus pasti kita hadapi dalam hidup, karena itulah hidup dan kalau kita tidak bisa menghadapi kedua hal tersebut, maka jalan yang terbaik lebih baik kuit atau mati, karena buat apa hidup kalau kita tidak sanggup untuk menghadapi dua hal tersebut. Kadang kita harus memilih, membiarkan amal itu digerogoti oleh dosa yang kian menumpuk atau memperhebat diri kita dengan hiasan amal kebajikan dari hari kehari dan meninggalkan sedikit demi sedikit dosa dan kekhilafan.
Ngak cuman itulah layaww, selagi hayat masih dikandung badan, kita tetap…tetap…tetap… mempertahankannya… tampa henti- hentinya. Kesehatan, kekuatan, ketajaman indera, kekayaan, kecantikan dan ketampanan yang kita sandang sebagai lakon kita yang bernama manusia, serta segudang nikmat yang takkan terhingga dari Tuhan kita nikmati, terkadang sering kali membuat kita terlupa dan terbius oleh itu semua. Lagi-lagi kita harus memilih, membiarkan nikmat-nikmat itu membusuk dan membeku karena kebodohan dan kehebohan kita yang tidak mampu memperdayakanya atau menjadikanya sebagai jalan anak tangga untuk meniti menuju jalan keridhaan Tuhan dan MensyukuriNya.
Usia makin bertambah, nikmat semakin melimpah, dan pahala kian bertambah, serta dosa pun kian bertumpuk. Dan bila jatah umur kita Nampak selayak angin yang terus bertiup dan berhembus secara perlahan atau berderu terus semakin kencang, niscaya dan pastilah bibir kita takkan lelah mencium bau tanah untuk bersujud. Mata kita takkan kenal perih untuk mengaji, tangan kita takkan payah untuk memburu hikmah dan hidayahNya, kaki kita tak kenal lelah dan hentinya untuk menuju kebajikan, dan bahkan setiap hembusan napas yang tidak terhitung jumlahnya pun bakal kita buat, hanya dengan satu tujuan mengingat Tuhan, Sang Pencipta dan mencari KeridhaaNya, kalau kita tau umur dan jatah usia kita telah dekat, tapi sayang seribu kali sayang, kita tidak tau akan itu semua, kapan…? Sang waktu itu menentukanya…dan kapan itu semua terjadi…?
Begitu pula limpahan nikmat itu jika dibuat nampak. Kayaknya kita nggak bakalan deehh sanggup menerimanya. Haruskah makhluk kerdil dan tak berdaya ini memperoleh begitu ruah..? akankah diri ini mampu memberdayakanya dan tidak menjadikan anugrah itu sia-sia belaka. Kaki yang kuat dan kekar takkan mampu melangkah dan memilih, karena bingung, nikmat mana yang harus dulu akan dipijak, mata yang berbinar nan indah takkan mampu untuk menatap, karena bingung nikmat mana yang harus lebih dulu untuk dipandang, serta tubuh yang kuat, atletis, kekar dan besahaja, takkan mampu untuk menyandang akan nikmat mana yang akan lebih dulu untuk direngguhkan dan diranggkul dalam pelukan.
Dan kita harus bagaimana…? akankah dosa harus kita buat Nampak..?, akankah kaki kita mampu berjalan, sementara kaki yang satunya terikat dengan seutas tali untuk menarik kita dalam lingkup sebuah dosa yang menggunung..? sementara kaki yang lain harus terikat dengan dengan sebuah tali yang menarik kita ke wadah dosa sebanyak dan sedalam lautan samudra ?. Akankah mata nan indah dan berbinar ini sanggup memandang, semantara batang-batang dosa telah menancap tepat ditengah bola mata…?. Sungguh jikalau dosa dibuat Nampak, niscaya setiap jiwa dan insan takkan pernah lagi perduli akan dunia dan isinya serta kecintaan didalamnya. Tak lain hal yang dilakukan adalah untuk memilih bersujud dan terus bersujud mohon ampun atas segala yang tersilap dan tersalah, atas segala dosa pada TuhanNya. Tapi lagi-lagi sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak perlu jawaban…? Akankah Dosa itu Nampak…?
Sejauh mata memandang, secepat kaki melangkah, dan sekuat tenaga kita kerahkan, semua tak Nampak akan penglihatan, namun ada satu hal yang tak boleh terlupa, semua dapat dirasa..?, siapa dan bagai manapun kita, karena ada satu hal yang lebih dari diri kita yang bernama manusia….! Kita punya rasa..Kita punya karsa….dan kita punya hati… yang takkan mampu untuk menolak itu semua, seberapapun mata, tangan, kaki, untuk menolak, namun hati terus tetap berkata, bahwa dosa itu ada…!yeachhh.. rocker juga manusiaa…apa hubunganya…
Setiap insan dimuka bumi ini tentu, merindukan keadaan diri yang baik dan benar. Hal yang tak lain banyak dari dambaan orang yaitu, diberi umur panjang, untuk beribadah, diberi harta yang melimpah untuk berjuang dijalan tuhanNya, serta segala ketampanan dan kecantikan yang dimiliki semua diserahkan hanya pada Penciptanya, namun lagi…lagi…sebuah kenyatan yang nyata dan takkan dapat terelakkan, akankah itu semua dapat ditunaikan…sebagaimana mestinya…? atau malah sebaliknya semua nikmat itu justru menjeruskan kita pada lembah keangkuhan serta kesombongan, yang sebenarnya tak pantas bagi kita untuk lakukan, karena pada dasarnya, semua itu bakal berakhir dan ujung-ujungnya juga, kita bakal kembali padaNYa. Masalah ini sering kali kita terlupa, terlebih saat kita masih remaja dan abg, kita malah sering menyia-nyiakanya, untuk hal yang sebenarnya kurang dan bahkan sangat berlawan dengan tugas dan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai makhluk yang bernama manusia, kita sering menggunakanya bukan pada mestinya, malah kita lebih bersenang-senang, dan tak pernah perduli dengan kehidupan yang akan datang, dan yang pasti, pasti akan datang,… welcome….., welcome to welcome akhirat.
Semakin umur kita bertambah, dan semakin gede kita, sebuah peluang untuk menumpuk dosa dan pahala semakin menganga. Entah itu bakal kelak dihari tua terlebih lagi, buat dialam baqa’. Rasulpun pernah bertutur, orang yang ada diaalam kubur itu, ibarat orang yang sedang tenggelam didalam lautan dan samudra yang luas dan dalam…? Dia ngak butuh harta yang berlimpah, ia ngak butuh intan dan permata, dan ia juga ndak butuh sekarung polos, dan wanita serta pria yang menawan, ia cuman butuh seutas tali amal, yang pernah ia rajut didunia, buat menyelamatkanya dari petaka dan hari pembalasan akhirat. Atau sebatang do’a dari keturunanya yang shalih, yang pernah ia besarkan saat ia melakoni sebuah tokoh yang bernama manusia saat layar pentas dunia dijalankan dan diputar, dan juga secercak kebaikan yang ia lakukan saat dia masih menjabat sebagai kumunitas manusia, konon tangis dan tawa diunia ini, seperti membawa kita pada saat-saat lelahnya dihari tua, dikarenakan berleha-leha nya diwaktu muda, berakit – rakit kehulu, berenang renag ketepian, berbuat baik dahulu dan rasakan kebahagian kemudian, ato berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, dan akhirnya tenggelam, bersakit-sakit dahulu eh malah sakit betulan, ehh keanapa..? ngak bisa renang tauuu…!
Rasul pernah membuat pesan pada umatnya yang dia cintai, jaga lima sebelum datang yang lima, seperti pernah juga dikumandangkanya lagu oleh sang Maestro dangdut dunia, bung Rhoma, yaitu jaga sehat sebelum sakit, jaga sempat sebelum sempit, jaga hidup sebelum mati, jaga kaya sebelum miskin, jaga muda sebelum tua.
Dan Tuhan pun jelas sudah mengatakan : “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi, terkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling memberi nasehat dalam kebaikan dan kebenaran, serta supaya menetapi dalam kesabaran” (QS: Al_Ashr 1-3).
Karena setiap kita manusia pasti bakal menemui ajal, maka satu hal yang harus kita ingat dan ingat bahwa kita bakal tunggu gilaran untuk menuju alam pasti tersebut, mungkin pada saat ini kita sebagai pengatar teman kita, sahabat kita, pacar kita, saudara kita atau bonyok and orto kita untuk pergi duluan, menuju tempat penuh kedamaian dan kebahagiaan yang tiada tara atas segala balasan dan lakon yang pernah ia buat sebagai aktor gaek saat didunia. Tapi jangan sampai kita terlupa mungkin esok kita yang bakal menysul mereka kealam baqa” and kuit dan takkan bakal balik-balik lagi kepentas dunia buat selamanya, guna minta lagi peran yang sama sebagai manusia dan aktor kawakan lagi dipentas dunia, ndak ada dan tak mungkin itu terjadi, dan kalau pun itu terjadi hanya sebuah penyesalan yang terus dialami dan tak henti karena saat hidup dan menjadi aktris dunia sering terlupa dan tersalah, sehingga yang timbul tak lain adalah sebuah kata-kata kono yang seharusnya tak mesti terucap, “menyesal”….
Yachhh…ghito deeh, namaya juga hidup, kalau boleh dibilang hidup tak lain adalah jembatan perantara untuk menuju alam yang yang kekal dan pasti datang. Alam Akhirat dan Pembalasan, itulah yang pasti bakal terjadi… dan pasti terjadi….! Oke layawww….hidup…dan hidup…tak lain yang abadi di muka bumi dan dunia ini adalah perubahan….!dan berubah untuk sebuah kebaikan dan kebajikan atau segala dosa dan tipu daya, silahkan pilih mana yang ……harus kita jalani, berbuat baik dengan balasan kelak diakhirat dengan kebahagian atau kejahatan dan dosa yang bakal berbuah sengsara dan penyesalan dihari kemudian.
yaappp...by..by...